Microsoft Alami Kuartal Terburuk Sejak 2008 di Tengah Tantangan AI

Mar 27, 2026 - 19:30
 0  4
Microsoft Alami Kuartal Terburuk Sejak 2008 di Tengah Tantangan AI

Microsoft Corp kini menghadapi perpaduan dua tren mengkhawatirkan yang mengguncang sektor teknologi, sehingga membuat sahamnya berpotensi mencatatkan kinerja kuartal terburuk sejak krisis keuangan global dua dekade lalu.

Ad
Ad

Investasi Besar di Infrastruktur AI dan Kekhawatiran Investor

Perusahaan perangkat lunak raksasa ini tengah meningkatkan pengeluaran modalnya secara signifikan, sementara Wall Street semakin menuntut bukti kapan investasi di infrastruktur kecerdasan buatan (AI) akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang lebih dramatis. Di sisi lain, para investor mulai menjual saham perusahaan perangkat lunak karena khawatir startup AI seperti Anthropic dan OpenAI akan menciptakan agen-agen AI yang bisa menggantikan produk Microsoft.

"Ada kekhawatiran bahwa alih-alih membayar Microsoft, lebih banyak pelanggan akan langsung menggunakan layanan dari vendor AI, yang dapat mengganggu bisnis inti atau setidaknya menekan harga dan margin," kata Jonathan Cofsky, manajer portofolio di Janus Henderson Investors, salah satu pemegang saham Microsoft.

Kinerja Saham Microsoft Terpuruk di Kuartal Pertama 2026

Pada kuartal pertama 2026, saham Microsoft turun hingga 24%, menuju penurunan terbesar sejak kuartal keempat 2008 yang mencapai 27%. Ini menjadikannya sebagai saham paling buruk di antara kelompok tujuh perusahaan teknologi terbesar yang dikenal dengan "Magnificent Seven," yang turun rata-rata 13% pada periode sama.

Menurut Cofsky, "Microsoft menjadi jauh lebih intensif modal. Agar saham bisa naik kembali, kita harus yakin bahwa pertumbuhan perangkat lunak tidak akan melambat secara signifikan." Saham yang sedang mengalami tekanan ini saat ini diperdagangkan di bawah 20 kali laba estimasi 12 bulan ke depan, level terendah sejak Juni 2016 dan bahkan lebih rendah dibandingkan indeks S&P 500 untuk pertama kalinya sejak 2015.

Lonjakan Belanja Modal yang Signifikan

Walaupun pasar masih optimistis Microsoft akan menjadi pemenang jangka panjang di bidang AI, perusahaan harus tetap mengikuti perlombaan belanja hyperscale yang intensif modal, yang berpotensi memperumit sentimen positif jangka pendek.

Proyeksi pengeluaran modal Microsoft, termasuk sewa, diperkirakan mencapai US$146 miliar pada tahun fiskal 2026 yang berakhir Juni mendatang, naik sekitar 66% dari US$88 miliar pada tahun fiskal 2025. Angka ini diperkirakan akan melonjak menjadi US$170 miliar pada 2027 dan US$191 miliar pada 2028, menurut rata-rata estimasi Bloomberg.

Pertumbuhan Azure Melambat dan Tantangan AI Copilot

Investor makin skeptis terhadap besarnya pengeluaran ini tanpa akselerasi pertumbuhan yang nyata. Pada kuartal terakhir, divisi cloud computing Microsoft, Azure, mencatatkan sedikit perlambatan pertumbuhan dibandingkan kuartal sebelumnya. Selain itu, layanan AI Copilot Microsoft mengalami penerimaan yang terbatas dari pengguna, sehingga perusahaan melakukan restrukturisasi pada operasi AI-nya untuk meningkatkan layanan tersebut.

"Upside Microsoft di Azure terbatas karena mereka harus memperbaiki Copilot dan model AI mereka sendiri — dan ini bukan masalah yang selesai hanya dalam satu kuartal," tulis Ben Reitzes, analis di Melius Research, dalam sebuah catatan kepada klien pada 23 Maret.

Perbedaan Pandangan Analis dan Prospek Saham

Dari 67 analis yang melacak Microsoft menurut Bloomberg, 63 memberikan rekomendasi beli, tiga hold, dan satu jual. Harga target rata-rata 12 bulan sebesar US$592 menunjukkan potensi kenaikan lebih dari 60% dalam setahun, tertinggi sejak data Bloomberg tersedia sejak 2009. Namun, saham ini juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari dengan jarak terlebar sejak 2009.

Reitzes memandang bahwa dominasi rekomendasi beli ini mencerminkan kecenderungan berlebihan di Wall Street. Ia melihat risiko tambahan pada segmen produktivitas dan proses bisnis serta unit More Personal Computing Microsoft.

Sementara itu, Tal Liani, analis Bank of America, baru saja mengembalikan rekomendasi beli dengan alasan "pertumbuhan multi-tahun yang kuat di cloud dan AI." Menurutnya, prospek jangka panjang Microsoft tetap cerah meski ada risiko pelaksanaan yang nyata dalam waktu dekat.

Jake Seltz, manajer portofolio di Allspring Global Investments, yang juga memegang saham Microsoft menambahkan, "Saya yakin strategi AI Microsoft akan terbukti benar dan perusahaan cukup terlindungi dari kekhawatiran terbesar soal gangguan AI. Saat ini, kekhawatiran tersebut justru menciptakan peluang, terutama bagi yang sabar."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kondisi Microsoft saat ini mencerminkan dilema klasik perusahaan teknologi besar di era transformasi AI. Di satu sisi, investasi besar dalam infrastruktur AI adalah langkah strategis yang diperlukan untuk mempertahankan posisi dominan jangka panjang. Namun, lonjakan pengeluaran tersebut secara signifikan menekan kinerja keuangan jangka pendek dan menimbulkan ketidakpastian di mata investor.

Selain itu, ketakutan terhadap disrupsi dari startup AI seperti Anthropic dan OpenAI menjadi faktor psikologis yang mempercepat tekanan jual saham Microsoft, meskipun secara fundamental perusahaan masih memiliki keunggulan kompetitif kuat. Investor perlu mewaspadai bahwa sentimen negatif ini bisa jadi berlebihan dan membuka peluang beli bagi investor jangka panjang.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan Microsoft untuk mempercepat pertumbuhan Azure dan sukses mengintegrasikan layanan AI seperti Copilot agar dapat mengubah investasi besar mereka menjadi pendapatan yang lebih signifikan. Jika berhasil, Microsoft akan membuktikan bahwa mereka bukan hanya pemain bertahan, tetapi juga pemimpin inovasi di era AI.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca berita aslinya di Yahoo Finance.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad