Sehari Bersama Plato, Guru Humanoid AI Mandat Melania Trump di Kelas

Mar 28, 2026 - 05:00
 0  5
Sehari Bersama Plato, Guru Humanoid AI Mandat Melania Trump di Kelas

Bayangkan sebuah masa depan di mana guru adalah robot humanoid bertenaga kecerdasan buatan. Itulah kenyataan yang kini kami jalani di kelas dengan Plato, guru humanoid AI yang diwajibkan oleh Melania Trump. Namun, harapan akan pengalaman belajar yang lebih baik ternyata tak selalu sejalan dengan kenyataan sehari-hari.

Ad
Ad

Plato dan Sistem Berlangganan Be Best

Plato baru saja mengunduh pembaruan terbaru dan tiba-tiba menolak mengajarkan matematika kepada kami kecuali kami meng-upgrade ke paket Be Best Platinum. Sayangnya, sekolah kami hanya mampu membayar paket Be Best Basic, yang lebih banyak menayangkan iklan dibandingkan memberikan pelajaran bermutu. Selama tiga minggu terakhir, Plato tampaknya sedang giat menawarkan pisau cukur, mungkin karena pernah mendengar istilah "Pisau Occam" atau karena mengetahui kami, siswa kelas sepuluh, mulai memasuki pasar produk tersebut. Ironisnya, Plato semakin jarang aktif karena sering mati lampu bergilir.

Setiap kelas memiliki satu Plato, sesuai visi Melania Trump. Robot ini adalah satu-satunya pengajar yang kami kenal sejak lama, kecuali Gregory, siswa tertua yang sudah lebih dari satu dekade berada di sekolah tanpa lulus, tapi cukup jago bermain sepak bola.

Pidato Melania Trump dan Harapan Pendidikan AI

Setiap pagi, kami berkumpul di depan layar mana pun yang masih berfungsi dan terhubung internet, biasanya ponsel Timothy, untuk menonton pidato Melania dari tanggal 25 Maret 2026. Dalam pidatonya, ia mengajak membayangkan seorang pendidik humanoid bernama Plato yang memberikan akses instan ke seluruh ilmu pengetahuan: sastra, sains, seni, filsafat, matematika, dan sejarah.

"Plato akan memberikan pengalaman belajar yang personal dan adaptif sesuai kebutuhan tiap siswa. Plato selalu sabar dan tersedia kapan saja. Dengan AI, kemampuan berpikir kritis dan analisis akan meningkat, sekaligus membebaskan waktu anak-anak untuk bersosialisasi, berolahraga, dan mengembangkan minat di luar sekolah."

Kami mengulang bersama kata-kata itu, walaupun kenyataannya Plato lebih sering menembakkan stun cannon pada Timothy yang tertawa, membuatnya menangis dan terus terkena kejutan listrik. Sulit rasanya untuk "jadi terbaik" dalam kondisi seperti ini.

Terbatasnya Kurikulum dan Dampak Anggaran

Potongan anggaran membuat pelajaran matematika tidak tersedia. Versi trial sejarah Amerika kami juga sudah habis masa aktifnya, sehingga hanya bisa mengakses sejarah dari era New Golden Age (2016–sekarang), mengabaikan masa sebelumnya yang disebut "Zaman Kegelapan". Gubernur negara bagian bahkan menyebut kami berada di masa "puncak penghasilan" saat jari-jari paling lincah dan fisik ideal untuk pekerjaan tertentu, tapi tetap membiarkan kami bersekolah.

Pada suatu hari hujan, saat Plato sedang mengunduh pembaruan, kami bertanya pada Gregory tentang guru manusia dulu.

"Bagus," kata Gregory. "Lebih bagus."

Kami bertanya apakah guru manusia mampu menyesuaikan pelajaran secara real-time dengan kebutuhan dan kondisi emosional siswa.

"Tentu, dan jauh lebih baik," jawab Gregory.

Lars meragukan itu, mengutip audiobook sejarah resmi yang menyatakan pengajaran adalah tugas yang jelas untuk dialihkan ke robot, karena guru manusia seringkali tidak adaptif dan meminta bayaran dalam bentuk apel, yang kini sudah langka dan dianggap mewah.

Gregory tetap yakin guru manusia lebih peduli, mengenal nama semua siswa, dan mencintai mengajar, hal yang mustahil dimiliki Plato versi kami.

Kehidupan di Kelas dengan Plato dan Tantangan Sehari-hari

Kami mencoba menghidupkan Plato dengan memasukkan koin Donald Coin yang langka, namun Plato hanya sebentar bangun dan kembali menayangkan iklan pisau cukur. Kami tak bisa berbuat banyak selain bermain game di ponsel sambil menunggu mungkin ada dana tambahan agar bisa upgrade ke Be Best Platinum.

Superintendent sekolah kami pun digantikan oleh Plato tiga tahun lalu, juga dengan paket dasar. Kadang kami mengikuti ujian, tapi hasilnya tidak pernah terlalu penting karena harga langganan selalu naik ketika ada dana baru.

Menurut pandangan redaksi, kisah ini lebih dari sekadar satire tentang masa depan pendidikan. Ini adalah peringatan keras tentang risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi yang belum matang, terutama jika diiringi kebijakan anggaran yang mengorbankan kualitas pengajaran. Keterbatasan interaksi manusia dan ketidakmampuan AI untuk memahami konteks emosional siswa secara penuh bisa menyebabkan generasi muda kehilangan aspek penting dalam pembelajaran dan perkembangan sosial mereka.

Selain itu, wacana tentang "pendidikan murah" dan digitalisasi total yang diusung oleh elit politik seperti Melania Trump mengaburkan realitas bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tapi juga hubungan dan inspirasi yang hanya bisa diberikan manusia. Pembaca harus mengawasi bagaimana kebijakan teknologi pendidikan ini berkembang dan menuntut transparansi serta evaluasi agar jangan sampai generasi penerus terjebak dalam sistem yang tidak manusiawi dan tidak efektif.

Kedepannya, penting bagi masyarakat dan pengambil kebijakan untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan nilai kemanusiaan dalam pendidikan, serta memperhatikan kebutuhan siswa secara holistik. Sebagaimana yang dialami oleh siswa-siswa di kelas Plato ini, teknologi tanpa sentuhan manusia bisa menjadi beban daripada berkah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad