Karoshi: Budaya Kerja Berlebihan Jepang Kini Jadi Krisis Global di Asia Tenggara
Karoshi, istilah Jepang yang berarti kematian akibat kerja berlebihan, selama ini identik dengan budaya kerja keras di Negeri Sakura. Namun kini, fenomena ini telah meluas menjadi krisis global yang mengancam kesehatan pekerja di Asia Tenggara dan berbagai belahan dunia lainnya.
Asal Usul dan Dampak Karoshi di Jepang
Istilah karoshi pertama kali dikenal di Jepang pada tahun 1970-an. Fenomena ini menggambarkan kematian yang terkait jam kerja ekstrem, kelelahan berat, stres kronis, serta tekanan kerja yang berkepanjangan. Penyebab kematian akibat karoshi meliputi serangan jantung, stroke, hingga bunuh diri yang dipicu oleh stres kerja berat.
Setelah Perang Dunia II, Jepang mengembangkan ekonominya dengan budaya loyalitas tinggi di tempat kerja. Pekerja, khususnya para salaryman, bekerja sangat keras dengan jam kerja panjang, datang pagi dan pulang larut malam, sering melewatkan makan dan mengorbankan waktu istirahat. Budaya ini menimbulkan konsekuensi serius bagi kesehatan mereka.
Sejak 1969, kasus kematian akibat serangan jantung dan stroke karena kerja berlebihan mulai muncul. Pada awal 1980-an, fenomena ini secara resmi disebut karoshi. Meski sudah lama dikenal, masalah ini masih menjadi persoalan serius di Jepang. Data Kementerian Kesehatan Jepang mencatat 1.304 kasus karoshi terdokumentasi sepanjang 2024.
Pada 2023, sekitar 10,1 persen pria dan 4,2 persen wanita di Jepang melaporkan bekerja lebih dari 60 jam per minggu. Angka ini bahkan lebih tinggi pada pekerja mandiri, yaitu 15,4 persen pria dan 7,8 persen wanita. Menariknya, fenomena karoshi kini juga semakin banyak menjerat wanita muda, seperti kasus tragis Matsuri Takahashi yang meninggal bunuh diri setelah lembur lebih dari 100 jam per bulan dan tidur hanya 10 jam dalam seminggu.
Karoshi Kini Menjadi Krisis Global, Termasuk di Asia Tenggara
Bukan hanya Jepang yang menghadapi fenomena ini. Menurut studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, sekitar 745 ribu orang meninggal dunia pada 2016 akibat stroke dan penyakit jantung yang terkait jam kerja panjang.
WHO menyebutkan, bekerja lebih dari 55 jam per minggu meningkatkan risiko stroke sebesar 35 persen dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17 persen dibandingkan mereka yang bekerja 35-40 jam per minggu. Dari jumlah kematian tersebut, 72 persen dialami oleh pria. Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat adalah yang paling terdampak.
Ini menunjukkan bahwa budaya kerja yang berlebihan dan toksik yang dulu dianggap khas Jepang kini sudah mengancam negara-negara lain, termasuk Indonesia dan negara Asia Tenggara lain dengan tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas tinggi.
Peran Pola Kerja Modern dan Kerja dari Rumah
Fenomena karoshi juga diperparah oleh pola kerja modern, terutama di negara-negara Barat dengan perlindungan tenaga kerja yang relatif kuat. Komunikasi digital yang selalu aktif, kerja jarak jauh, serta budaya hustle atau kerja keras tanpa henti demi kesuksesan membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur.
Banyak pekerja merasa harus selalu siap bekerja kapan saja, yang memperburuk stres dan kelelahan. Kini, wajah karoshi tidak lagi hanya terlihat pada pekerja yang kelelahan di kereta malam Tokyo, tapi juga bisa muncul dari meja kerja di rumah sendiri.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena karoshi bukan sekadar masalah kesehatan individu, melainkan cermin dari sistem kerja yang tidak manusiawi dan budaya perusahaan yang mengabaikan keseimbangan hidup pekerja. Meski Jepang sudah lama menghadapi masalah ini, negara-negara lain, khususnya di Asia Tenggara, masih minim kesadaran dan perlindungan terhadap pekerja dari risiko kerja berlebihan.
Krisis karoshi mengingatkan kita bahwa produktivitas tinggi tidak boleh mengorbankan kesehatan dan nyawa manusia. Pemerintah dan perusahaan di Asia Tenggara perlu mengadopsi regulasi jam kerja yang lebih ketat serta membangun budaya kerja yang lebih manusiawi dengan mengedepankan kesejahteraan mental dan fisik pekerja.
Ke depan, penting untuk mengawasi bagaimana perkembangan pola kerja modern, seperti kerja dari rumah, berdampak terhadap batasan jam kerja dan kesehatan pekerja. Tanpa pengaturan yang jelas dan pelaksanaan yang tegas, risiko karoshi bisa semakin meluas ke berbagai negara dan industri.
Jangan lewatkan perkembangan terbaru seputar karoshi dan budaya kerja di Indonesia serta dunia hanya di CNBC Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0