MyINDAH Diet Dorong Pola Makan Sehat Berbasis Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan
MyINDAH Diet hadir sebagai inovasi penting yang mendorong pola makan sehat berbasis pangan lokal di Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui riset kolaboratif antara Indonesia dan Australia, program ini mengembangkan solusi berbasis data dan teknologi digital untuk mendukung sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Riset Kolaboratif Indonesia-Australia untuk Pangan Lokal
Didukung oleh KONEKSI, kemitraan pengetahuan antara kedua negara, riset ini melibatkan berbagai lembaga penelitian dan universitas ternama seperti The University of Queensland, Monash University, Badan Riset dan Inovasi Nasional, IPB University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Center for Indonesian Policy Studies, dan Parti Gastronomi.
Penelitian dilakukan di wilayah Jabodetabek, Bandung Raya, DI Yogyakarta, dan Gerbangkertosusilo (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan). Dengan pendekatan lintas disiplin, riset ini mengkaji hubungan antara produksi pangan lokal, pola konsumsi masyarakat, dan pemanfaatan teknologi digital dalam sistem pangan.
Tantangan Ketahanan dan Pola Makan Masyarakat Indonesia
Menurut Dr Zuhud Rozaki, Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, meskipun ketahanan pangan Indonesia menunjukkan perbaikan, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi.
“Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda, yakni kekurangan gizi, kelebihan berat badan, serta kekurangan mikronutrien. Sekitar 21 persen anak di bawah lima tahun masih mengalami stunting,”
ujarnya dalam diskusi Connect! #10 bertajuk “Powering Healthy and Sustainable Diets Through Inclusive Digital Transformation” di Jakarta pada 25 Februari 2026.
Zuhud menambahkan, pola konsumsi masyarakat masih didominasi makanan tinggi karbohidrat dengan porsi protein dan sayuran yang terbatas. Nasi tetap menjadi komponen utama dalam banyak rumah tangga, sementara lauk dan sayuran sering kali hanya sebagai pelengkap.
Riset ini juga mengungkap bahwa pilihan makanan masyarakat dipengaruhi tidak hanya oleh nilai gizi, tetapi juga oleh kebiasaan, budaya, rasa kenyang, harga bahan makanan, dan ketersediaan di pasar lokal. Selain itu, perubahan iklim, risiko bencana, serta kehilangan dan pemborosan pangan sepanjang rantai pasok menjadi tantangan serius bagi sistem pangan nasional.
Potensi Besar Pangan Lokal dalam Pola Makan Sehat
Dalam riset MyINDAH Diet, para peneliti menganalisis berbagai komoditas pangan lokal Indonesia untuk melihat kandungan gizi serta potensi kontribusinya dalam pola makan sehat. Temuan penting meliputi:
- Tempe memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi, sangat baik sebagai sumber protein nabati.
- Sayuran hijau seperti bayam kaya akan mikronutrien penting.
- Kombinasi sederhana seperti nasi, tempe, dan sayuran dapat memenuhi 30–55 persen kebutuhan protein dan mineral harian.
Konsep ini dirumuskan dalam Nutritious Plate Model, yaitu model piring makan bergizi yang menekankan kombinasi pangan lokal sebagai dasar pola makan sehat. Associate Professor Risti Permani dari Universitas Queensland menilai pendekatan ini sangat bermanfaat untuk kesehatan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan.
“Kami juga merekomendasikan agar model tersebut dapat dimasukkan ke dalam kampanye gizi nasional dan program bantuan pangan pemerintah,”
ujar Risti.
Penelitian juga menyoroti peran sentral rumah tangga, khususnya perempuan, dalam menentukan pola konsumsi pangan. Mereka mengelola pembelian, pengolahan, dan penyajian makanan.
Oleh karena itu, intervensi untuk mendorong pola makan sehat harus memperhatikan praktik memasak dan kebiasaan makan yang ada agar inovasi pangan baru dapat diterima dengan baik.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, riset MyINDAH Diet menjadi tonggak penting dalam mengatasi masalah gizi ganda dan ketahanan pangan di Indonesia. Pendekatan berbasis pangan lokal tidak hanya relevan secara nutrisi, tetapi juga strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketergantungan impor pangan.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat mengintegrasikan model Nutritious Plate ke dalam kebijakan dan praktik sehari-hari. Peran perempuan sebagai pengelola makanan rumah tangga menjadi faktor kunci yang tidak boleh diabaikan dalam desain intervensi gizi.
Ke depan, pemanfaatan teknologi digital yang dikembangkan dalam riset ini dapat memperkuat sistem pangan berkelanjutan dengan memberikan akses informasi gizi dan pasar lokal secara lebih luas. Masyarakat pun diharapkan semakin sadar pentingnya diversifikasi pangan lokal demi kesehatan dan ketahanan nasional.
Terus ikuti perkembangan riset dan implementasi program MyINDAH Diet untuk melihat bagaimana inovasi ini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0