Pencarian Korban Longsor Bantargebang Dihentikan Setelah 7 Jenazah Ditemukan

Mar 10, 2026 - 19:40
 0  4
Pencarian Korban Longsor Bantargebang Dihentikan Setelah 7 Jenazah Ditemukan

Operasi pencarian korban longsoran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang resmi dihentikan setelah tim penyelamat berhasil menemukan tujuh jenazah yang tertimbun sampah. Peristiwa longsor ini terjadi pada Minggu (8/3) sore di zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang menjadi lokasi utama pengelolaan sampah Jakarta dan sekitarnya.

Ad
Ad

Detail Operasi Pencarian dan Penyelamatan

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyatakan bahwa tiga jenazah ditemukan pada Minggu dan empat jenazah lainnya ditemukan pada Senin (9/3). Selain itu, sebanyak enam orang berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup setelah tertimbun longsoran sampah.

Lebih dari 300 personel SAR dikerahkan menggunakan berbagai alat berat seperti ekskavator, anjing pelacak, serta drone termal untuk mencari korban di tengah tumpukan sampah yang sangat tidak stabil. Usaha ini dilakukan dengan penuh risiko karena potensi longsor susulan masih mengancam.

Setelah semua korban terdata, Kepala SAR menyampaikan bahwa operasi pencarian resmi dihentikan. Proses evakuasi dianggap sudah maksimal di tengah kondisi yang sangat sulit.

Penyebab dan Upaya Mengantisipasi Longsor

Longsor yang terjadi dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Bantargebang selama berjam-jam. Hujan deras ini menyebabkan tumpukan sampah yang sudah sangat besar dan berat menjadi tidak stabil, sehingga terjadi longsoran besar di zona pengolahan sampah tersebut.

Menanggapi risiko cuaca di masa depan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan rencana melakukan operasi modifikasi cuaca. Operasi ini akan menggunakan helikopter untuk menyemai awan dengan natrium klorida agar hujan turun lebih awal di laut, sehingga mengurangi intensitas hujan yang masuk ke wilayah ibu kota dan sekitarnya.

Tanggapan Pemerintah dan Rencana Pengelolaan Sampah

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan sikap kooperatif terhadap rencana Kementerian Lingkungan Hidup yang akan mengambil langkah hukum terkait insiden longsor ini. Menurut Pramono, Pemprov DKI telah mulai membenahi pengelolaan sampah di Bantargebang, termasuk menindaklanjuti arahan untuk mengatasi praktik open dumping yang berkontribusi pada risiko bencana.

"Untuk zona empat, apa yang menjadi arahan Menteri Lingkungan Hidup sudah kami jalankan. Kami sekarang ini bekerja sama untuk bisa memanfaatkan tempat-tempat baru," ujar Pramono.

TPA Bantargebang merupakan salah satu tempat pembuangan terbuka terbesar di dunia, dengan luas lebih dari 110 hektare dan menampung sekitar 55 juta ton sampah. Wilayah Jabodetabek sendiri menghasilkan sekitar 14.000 ton sampah setiap hari dari populasi sekitar 42 juta penduduk.

Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu mengingatkan bahwa TPA ini diperkirakan akan melampaui kapasitasnya pada tahun 2028, sehingga pemerintah berencana menginvestasikan sekitar 3,5 miliar dolar AS untuk membangun 34 fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dalam dua tahun ke depan, yang akan mengubah sampah menjadi listrik.

Sejarah dan Ancaman Longsor TPA di Indonesia

Indonesia pernah mengalami tragedi longsor TPA yang sangat fatal pada tahun 2005 di Jawa Barat, yang menewaskan 143 orang. Bencana tersebut dipicu oleh ledakan gas metana dan hujan deras, memberikan peringatan keras akan bahaya pengelolaan sampah yang kurang optimal dan risiko bencana yang menyertainya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penghentian operasi pencarian korban di Bantargebang menandai babak baru dalam upaya penanganan bencana yang berkaitan erat dengan pengelolaan sampah di wilayah metropolitan terbesar di Indonesia. Insiden ini bukan hanya soal longsor, tetapi juga cerminan kegagalan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Potensi longsor susulan dan ancaman lingkungan di TPA Bantargebang harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Keputusan untuk melakukan modifikasi cuaca adalah langkah inovatif, namun tidak cukup jika tidak diimbangi dengan perbaikan tata kelola sampah yang lebih fundamental. Pemprov DKI dan kementerian terkait perlu mempercepat pengembangan fasilitas pengolahan sampah modern, seperti insinerator dan teknologi konversi energi, agar beban di Bantargebang dapat berkurang drastis.

Ke depan, masyarakat juga harus dilibatkan dalam pengurangan sampah dan pemilahan sejak sumber agar tidak terjadi penumpukan berlebihan. Pemantauan ketat dan sistem peringatan dini di TPA juga sangat dibutuhkan untuk mencegah tragedi serupa. Kita harus belajar dari sejarah dan berbenah secara menyeluruh demi keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan ibu kota.

Perkembangan terbaru mengenai pemulihan dan kebijakan pengelolaan sampah di Bantargebang akan terus kami update. Tetap ikuti informasi terpercaya agar Anda mendapatkan gambaran lengkap dan akurat tentang langkah-langkah yang diambil pemerintah setelah bencana ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad