Kapal Mulai Lewati Selat Hormuz di Bawah Skema PBB, Tapi Ada Peringatan Iran
Kapal-kapal telah mulai melewati Selat Hormuz dengan mengikuti skema baru yang dikeluarkan oleh badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini menjadi perkembangan penting dalam situasi ketegangan yang sudah berlangsung lama di kawasan Teluk Persia, di mana ratusan kapal dan ribuan pelaut terjebak akibat konflik yang terjadi.
Skema Baru PBB untuk Selat Hormuz
Organisasi Maritim Internasional (IMO), lembaga PBB yang mengatur keselamatan pelayaran dunia, mengumumkan bahwa mereka mulai mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Menurut juru bicara IMO pada 25 Juni 2026, kapal-kapal sudah mulai melewati rute yang telah ditentukan, meski mereka enggan mengungkapkan secara rinci kapal mana yang sudah melintas.
Data pelacakan dari LSEG dan Marine Traffic yang dianalisis oleh Reuters menunjukkan ada 35 kapal kecil, termasuk kargo curah kering, kontainer, lima kapal tanker minyak, dan kapal tunda yang sedang bersiap berlayar. Namun, IMO mengingatkan kapal-kapal tersebut harus menunggu instruksi lebih lanjut sebelum melanjutkan perjalanan.
"Memadati area tunggu hanya akan mengakibatkan perlunya menunda pemberitahuan lebih lanjut demi keselamatan navigasi," tambah pernyataan IMO.
Rute Pelayaran dan Risiko Selat Hormuz
Secara historis, skema pemisahan lalu lintas di Selat Hormuz telah diadopsi sejak 1968 oleh IMO, yang membagi rute pelayaran menjadi dua jalur utama, yakni rute utara melalui perairan Iran dan rute selatan melalui perairan Oman atau AS. Namun, bagian tengah selat saat ini tidak dapat digunakan karena risiko ranjau laut yang tinggi.
Baru-baru ini, kelompok informasi angkatan laut utama mengusulkan koridor pelayaran alternatif dan merekomendasikan agar kapal melintasi selat melalui rute selatan sepanjang perairan Oman yang bebas ranjau dan mengaktifkan sinyal transponder AIS mereka demi keamanan.
Menurut analisis Kpler, lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat menjadi rata-rata 25 kapal per hari dalam beberapa hari terakhir, dibandingkan dengan 10-11 kapal per hari sebelumnya. Meski demikian, angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata 125 kapal per hari sebelum konflik meletus pada 28 Februari 2026.
Banyak kapal kini mengaktifkan transponder AIS publik untuk memudahkan pelacakan, meskipun gangguan sinyal dan tindakan sengaja menonaktifkan transponder masih terjadi.
Peringatan Keras dari Iran
Meski kapal-kapal sudah mulai berlayar melalui Selat Hormuz, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa setiap rute transit baru tanpa koordinasi dengan Teheran adalah "tidak dapat diterima dan berbahaya". Iran bahkan mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal yang mengabaikan instruksi mereka.
"Navigasi di luar rute yang ditentukan oleh Iran sangat berbahaya dan dilarang. Kami memperingatkan semua kapal untuk menghindari pergerakan di luar koridor yang ditetapkan," kata IRGC.
Koordinasi dengan pasukan Iran melalui saluran komunikasi resmi dianggap wajib untuk menghindari insiden di kawasan yang sangat tegang ini.
Selain itu, Iran berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, namun Amerika Serikat menganggap langkah ini sebagai upaya memeras perdagangan maritim global.
Berapa Banyak Kapal yang Terjebak?
Menurut perkiraan IMO dan analis pasar, antara 500 hingga 600 kapal saat ini terdampar di Teluk, termasuk sekitar 100 kapal tanker minyak. Penting untuk dicatat bahwa inisiatif IMO tidak mendukung kapal-kapal yang ingin memasuki Teluk untuk mengambil muatan minyak dari produsen di kawasan ini.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, dimulainya pelayaran kapal melalui Selat Hormuz di bawah skema PBB merupakan langkah strategis penting yang dapat meredakan ketegangan di jalur pelayaran internasional yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Namun, peringatan keras dari Iran menunjukkan bahwa risiko konflik dan insiden masih sangat tinggi, mengingat Iran menuntut kontrol penuh atas rute pelayaran dan menolak skema yang tidak melibatkan mereka.
Hal ini juga menandakan bahwa perdamaian dan keamanan di Selat Hormuz sangat bergantung pada kemampuan diplomasi dan koordinasi antara Iran, negara-negara Teluk, dan komunitas internasional. Jika ketegangan ini terus berlanjut, potensi gangguan suplai minyak global akan tetap menjadi ancaman nyata yang berdampak luas pada ekonomi dunia.
Ke depan, penting bagi para pelaku industri maritim dan pemerintahan untuk terus memantau perkembangan situasi serta memperhatikan arahan resmi dari IMO dan juga peringatan dari Iran agar upaya pemulihan lalu lintas pelayaran ini dapat berjalan lancar dan aman. Informasi terbaru terkait situasi ini dapat terus dipantau melalui laporan resmi seperti yang disediakan oleh CNBC Indonesia dan media internasional terkemuka lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0