Perusahaan yang PHK Karena AI Mulai Menyesal dan Mulai Rekrut Karyawan Kembali

Jul 1, 2026 - 12:30
 0  3
Perusahaan yang PHK Karena AI Mulai Menyesal dan Mulai Rekrut Karyawan Kembali

Perusahaan-perusahaan kini mulai menyadari bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak bisa menggantikan segalanya. Fenomena ini terlihat dari langkah sejumlah perusahaan besar yang mulai merekrut kembali karyawan mereka setelah sebelumnya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan otomatisasi berbasis AI. Hal ini menandakan adanya perubahan perspektif dalam pemanfaatan AI sebagai alat bantu bisnis, bukan pengganti total sumber daya manusia.

Ad
Ad

Ford Rekrut Kembali Insinyur Berpengalaman

Salah satu contoh paling menonjol datang dari Ford Motor Company. Ford dilaporkan sedang mempekerjakan kembali ratusan insinyur manusia berpengalaman untuk menangani masalah kualitas yang tidak dapat diselesaikan oleh sistem otomatis. Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford, menyatakan,

"Kecerdasan buatan adalah alat yang luar biasa, tapi hanya sehebat data yang digunakan untuk melatihnya."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa AI memiliki keterbatasan yang memerlukan keahlian manusia untuk mengisi celah yang ada.

Bank Commonwealth Australia dan IBM Ikuti Jejak yang Sama

Tidak hanya Ford, Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan IBM juga menjadi contoh perusahaan yang mulai mengutamakan sumber daya manusia setelah sebelumnya melakukan PHK terkait AI. CBA sempat menggantikan lebih dari 40 karyawan layanan pelanggan dengan chatbot AI, namun sistem tersebut gagal menanggapi volume panggilan yang meningkat. Akibatnya, CBA membatalkan PHK tersebut dan mengembalikan staf yang terdampak.

"Keputusan CBA untuk mencabut PHK ini adalah kemenangan besar," ungkap serikat pekerja sektor keuangan Australia.

CBA juga mengakui bahwa mereka tidak mempertimbangkan semua aspek bisnis secara menyeluruh saat melakukan PHK tersebut, seperti yang dilaporkan ABC pada Agustus tahun lalu.

IBM juga mengalami kendala saat menggantikan fungsi HR dengan AI yang hanya mampu menyelesaikan sekitar 94% permintaan rutin, sementara 6% sisanya, termasuk yang menyangkut dilema etika, tetap membutuhkan campur tangan manusia. IBM kemudian mengumumkan rencana untuk meningkatkan tiga kali lipat perekrutan karyawan tingkat pemula di AS pada 2026. Nickle LaMoreaux, Chief Human Resources Officer IBM, menegaskan pentingnya investasi pada generasi penerus tenaga kerja,

"Jika kita tidak terus berinvestasi pada perekrutan tingkat pemula, apa yang akan terjadi dalam 3–5 tahun ke depan? Sumber tenaga kerja akan habis."

Implikasi PHK Berbasis AI dan Pentingnya Kolaborasi Manusia-AI

Menurut sejumlah analis, PHK dengan alasan implementasi AI tidak selalu menjadi strategi terbaik untuk pertumbuhan bisnis. Laporan dari Intuition Labs menyebutkan bahwa anggaran yang diprioritaskan untuk teknologi pengganti manusia tanpa diimbangi pelatihan dan peningkatan keterampilan justru membuat tim tidak siap memanfaatkan AI secara optimal.

Laporan Orgvue mengungkapkan bahwa 39% pemimpin bisnis melakukan PHK akibat penerapan AI, namun dari angka tersebut, 55% mengakui keputusan tersebut salah.

Jessica Zhang, Senior Vice President APAC di penyedia solusi HR ADP, menambahkan,

"Ketika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali harus mengembalikan pengawasan manusia. Ini menyebabkan usaha yang berulang, pengambilan keputusan yang lebih lambat, dan penurunan produktivitas."

Data dari Robert Half menunjukkan bahwa 32% manajer perekrutan di AS telah menghapus posisi karena AI, namun kemudian merekrut kembali posisi yang sama atau serupa.

Capitol Technology University juga menyoroti bahwa,

"AI mengubah tempat kerja, namun semakin jelas bahwa organisasi menemukan nilai lebih besar dalam membangun kolaborasi manusia-AI ketimbang menggantikan sepenuhnya pekerjaan manusia."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukanlah solusi instan yang dapat menggantikan peran manusia secara menyeluruh. Banyak perusahaan yang terlalu cepat melakukan PHK dengan asumsi AI mampu menangani seluruh fungsi, namun kenyataannya, AI masih memerlukan pengawasan dan kolaborasi manusia untuk mencapai hasil optimal. Kesalahan dalam pengambilan keputusan ini berpotensi menimbulkan kerugian finansial dan reputasi yang tidak sedikit.

Ke depan, perusahaan harus menyeimbangkan investasi teknologi AI dengan pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan baru. Human-in-the-loop menjadi konsep penting agar AI dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa mengorbankan kualitas dan etika bisnis.

Masyarakat dan pengambil kebijakan juga perlu memperhatikan tren ini untuk mengantisipasi dampak sosial ekonomi dari digitalisasi berlebihan. Pemahaman yang matang dan strategi adaptasi yang tepat akan menentukan keberhasilan integrasi AI dalam dunia kerja.

Untuk insight lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan bisnis, Anda dapat mengunjungi sumber asli berita ini di CNBC Indonesia dan laporan-laporan terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad