Video AI Darren Aronofsky: Penghormatan Kontroversial untuk Amerika

Jul 4, 2026 - 03:30
 0  2
Video AI Darren Aronofsky: Penghormatan Kontroversial untuk Amerika

Darren Aronofsky, sutradara ternama, meluncurkan studio produksi AI bernama Primordial Soup pada Mei 2025 di konferensi pengembang Google tahunan. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat reputasi inovatif Google dan Aronofsky dalam menjajaki teknologi baru di dunia perfilman, terutama dengan menghadirkan alat AI seperti Veo dan Flow.

Ad
Ad

Dalam pernyataan yang hiperbolik, Aronofsky menyatakan, "Pembuatan film selalu didorong oleh teknologi. Setelah penemuan revolusioner Lumiere Brothers dan Edison, pembuat film membebaskan kekuatan tersembunyi kamera dalam bercerita." Namun, penerapan teknologi AI dalam karya pertama mereka, film pendek berjudul Ancestra yang disutradarai Eliza McNitt, justru menuai kritik pedas.

Awal Mula dan Kritik Terhadap Proyek Primordial Soup

Ancestra menggabungkan gambar yang dihasilkan AI, fotografi live-action, dan animasi komputer untuk menghadirkan versi singkat dan dianggap kurang bermakna dari film The Tree of Life karya Terrence Malick. Narasi suara yang lirih dan lambat, memperlihatkan makro fotografi sel, mikroorganisme, ikan, dan alam, sehingga jika ditonton tanpa konteks, penonton bisa mengira ini adalah iklan obat terlarang.

Setelah peluncuran itu, Primordial Soup tampak vakum sepanjang 2025. Namun pada Januari 2026, mereka mengumumkan seri video berjudul On This Day … 1776 yang mengeksplorasi sejarah pendirian Amerika Serikat bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan. Proyek ini berkolaborasi dengan majalah berita ternama Time, tetapi hasilnya banyak memicu kritik pedas terutama di kolom komentar YouTube.

  • Pengguna YouTube mengomentari video dengan kata-kata seperti "Ini epik jika kamu suka sampah!"
  • Beberapa komentar menyebut video ini seperti "tinja dari pantat" dan "yang paling indah sejak aku menumpahkan asam ke mataku setelah meminum merkuri" yang menggambarkan betapa buruknya kualitas video tersebut.

Masalah Fotorealisme dan Keterbatasan AI dalam Video

Salah satu masalah utama video AI ini adalah dorongan untuk menciptakan efek fotorealistik yang justru memperlihatkan kekurangan teknologi AI dalam menangani gerakan dinamis lebih dari satu menit. Visual sering kali menampilkan kesalahan seperti objek yang mengambang, menyatu, atau munculnya anggota tubuh tambahan yang aneh.

Contohnya, video pertama "January 1: The Flag" dimulai dengan pidato King George III, tapi suara yang keluar terlalu keras dan gerakan bibir karakter tidak sinkron. Meskipun Primordial Soup mengumumkan akan menggunakan suara aktor asli, hal ini justru mengakui bahwa produksi ini bertujuan memangkas biaya dan tenaga dibandingkan pembuatan dokumenter sejarah konvensional.

Video-video ini sering kali tampak meyakinkan dalam satu frame diam, dengan detail kulit, rambut, dan pakaian yang realistis. Namun, saat video diputar, muncul artefak khas AI seperti perubahan fokus yang tiba-tiba, mata yang tampak kosong, perubahan ekspresi wajah yang aneh, dan gerakan tubuh yang lag atau tersendat.

Konten dan Narasi yang Dipertanyakan

Durasi video yang sangat singkat—tidak lebih dari lima menit—menyertakan pembekuan gambar untuk memperkenalkan tokoh besar seperti George Washington dan John Adams, musik latar ala festival Renaisans yang terasa generik, dan gaya visual yang tidak konsisten. Efek close-up ekstrim, gerakan kamera simulasi yang berlebihan, serta pencahayaan oranye seragam membuat konten terasa membosankan dan hanya sebagai tontonan aneh, di mana informasi sejarah menjadi prioritas kedua.

Menariknya, setelah beberapa episode awal, konsep tanggal kalender diabaikan dan diganti dengan judul-judul sensasional seperti "Rencana Inggris untuk Mengakhiri Amerika dalam Satu Kampanye" dan "Bagaimana Orang Biasa Dipaksa Masuk Perang Raja," yang tampak seperti strategi SEO buruk.

Representasi sejarah koloni Amerika yang disajikan sangat homogen dan idealis, dengan lanskap alam ala Thomas Kinkade yang bertabrakan dengan wajah-wajah mirip aktor modern yang kurang meyakinkan sebagai figur sejarah. Narasi cenderung melodramatis dan humoris, namun cerita yang disampaikan terasa kacau dan tidak fokus. Lebih parah lagi, keberanian dan perlawanan para pemukim koloni yang digambarkan hampir sepenuhnya dikuasai oleh pria kulit putih, sementara peran penduduk asli, Afrika, dan India sebagai bagian sejarah hanya disisipkan sebagai latar belakang tanpa porsi penting.

Wawancara dan Pandangan Para Penggagas

Dalam wawancara dengan Financial Times, Aronofsky dan Demis Hassabis, CEO Google DeepMind, membahas keterbatasan teknologi AI saat ini. Hassabis menyatakan,

"Saat ini, alat-alat ini tidak mampu membuat ide baru. Mereka hanya mengembangkan apa yang sudah ada. Apakah sistem ini bisa menciptakan teori baru, bukan hanya menyelesaikan yang sudah ada? Jawabannya sekarang belum. Masih ada yang hilang dari sistem ini, yaitu pemikiran out-of-the-box atau penemuan sejati seperti yang dilakukan para kreatif besar seperti Einstein atau Picasso."

Pernyataan ini menghapus keindahan kreativitas manusia dan hanya melihat proses kreatif sebagai input dan output saja. Kolaborasi antara tokoh teknologi dan seniman ini seolah menunjukkan ketergantungan satu sama lain, namun hasil karya seperti On This Day… 1776 justru tidak diperlukan publik.

Aronofsky juga membandingkan AI dengan sampling hip-hop, sebuah analogi yang tidak tepat karena sampling adalah produk kurasi manusia yang sadar memilih dan merangkai. AI tidak memiliki perspektif, selera, atau intuisi, melainkan hanya mencerminkan karakter pengguna yang menggunakannya secara antusias.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, peluncuran Primordial Soup dan karya-karya AI-nya seperti On This Day… 1776 mencerminkan kegelisahan sekaligus kebingungan dunia seni dalam menghadapi teknologi yang terus berkembang. Meski di satu sisi, AI menjanjikan inovasi dan efisiensi, tapi di sisi lain, hasilnya kerap terasa hambar, kurang manusiawi, dan bahkan bisa memperkuat narasi sejarah yang bias dan terdistorsi.

Lebih jauh, pergeseran produksi seni ke arah mesin berpotensi mengikis nilai-nilai kreatif yang selama ini menjadi jiwa karya manusia. Dalam konteks sejarah, penggunaan AI untuk menceritakan masa lalu tanpa kedalaman dan konteks sosial budaya yang kompleks berisiko memperkuat mitos-mitos lama dan mengabaikan suara minoritas yang selama ini terpinggirkan.

Ke depan, penting untuk mengawasi bagaimana AI akan digunakan dalam industri kreatif, khususnya dalam narasi sejarah dan budaya yang sensitif. Publik dan pembuat kebijakan harus mendorong standar etika dan kualitas agar teknologi ini tidak sekadar menjadi alat produksi massal tanpa makna dan tanggung jawab.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi AI dalam perfilman dan seni, Anda dapat membaca langsung sumber aslinya di Defector dan mengikuti liputan dari CNN Indonesia Teknologi.

Nicholas Russell adalah penulis asal Las Vegas yang mengamati perkembangan seni dan teknologi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad