Houthi Tiru Iran Blokir Selat Bab Al Mandab dan Kuasai Laut Merah
Houthi kini disebut meniru taktik Iran dengan melakukan blokade di Selat Bab Al Mandab untuk menguasai lalu lintas di Laut Merah. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah Al Zouba, dalam sebuah konferensi pers di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (27/7/2026).
Strategi Blokade Houthi dan Dampaknya pada Laut Merah
Menurut Al Zouba, milisi Houthi ingin meniru model Iran dalam menguasai jalur strategis maritim dengan menutup dua selat utama, yaitu Bab Al Mandab dan selat lain yang menjadi gerbang menuju Teluk dan Laut Merah. Langkah ini berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional dan menimbulkan ketegangan militer di kawasan.
Laut Merah sendiri telah menjadi medan konflik baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi. Kelompok bersenjata ini sering meluncurkan serangan terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat yang melintas di perairan tersebut.
Reaksi dan Eskalasi Konflik Terbaru
Pekan lalu, Arab Saudi melancarkan serangan udara ke bandara di Sana'a, Yaman, yang dikendalikan oleh Houthi. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, mengecam serangan tersebut sebagai agresi terang-terangan yang membuat kesepakatan gencatan senjata informal yang dibuat pada Maret 2022 menjadi bubar.
Balasan dari Houthi datang cepat, dengan serangan ke bandara internasional di Abha, Arab Saudi. Pada 20 Juli, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi sebagai bentuk balasan atas serangan dan pengepungan yang telah berlangsung hampir 12 tahun.
"Embargo maritim terhadap musuh kriminal Saudi berdasarkan peribahasa 'mata dibalas mata' segera berlaku setelah pernyataan ini dikeluarkan," tegas Houthi.
Potensi Konflik Skala Penuh dan Sikap Pemerintah Yaman
Beberapa pejabat Saudi dan negara Barat memandang bahwa ketegangan ini membuka peluang terjadinya perang skala penuh antara Houthi dan Saudi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Menanggapi hal ini, Al Zouba menegaskan bahwa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional siap menghadapi eskalasi apapun.
Namun, ia juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik sesegera mungkin dengan cara damai atau metode lain agar tidak memperburuk situasi.
"Kami kira konflik ini sekarang perlu diakhiri. Baik melalui cara damai, maupin cara lain," ujar Al Zouba.
Perlu diketahui, pemerintah resmi Yaman mendapat dukungan dari Arab Saudi, sementara Houthi merupakan kelompok yang didukung oleh Iran, sehingga konflik ini menjadi bagian dari persaingan regional yang lebih luas antara kedua kekuatan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, langkah Houthi yang meniru strategi Iran dalam memblokade Selat Bab Al Mandab merupakan pergeseran signifikan dalam dinamika konflik Timur Tengah. Selat Bab Al Mandab adalah jalur laut vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, sangat strategis untuk perdagangan energi dan barang internasional. Blokade di sini bukan hanya soal militer, tapi juga dapat mempengaruhi ekonomi global.
Selain itu, tindakan ini dapat memperdalam ketegangan antara Iran dan Arab Saudi, memperluas front konflik yang sebelumnya lebih bersifat lokal di Yaman. Jika eskalasi berlanjut, dampaknya tidak hanya pada keamanan regional tapi juga pada stabilitas pasar minyak dunia yang sangat bergantung pada akses aman melalui Laut Merah.
Ke depan, hal yang perlu diwaspadai adalah bagaimana komunitas internasional, terutama negara-negara besar dan organisasi maritim, merespons blokade ini. Apakah akan ada intervensi diplomatik atau militer untuk membuka kembali jalur tersebut? Terlebih lagi, perang di Laut Merah bisa memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah di Yaman dan negara-negara sekitarnya.
Untuk informasi lebih lanjut dan perkembangan terkini, Anda dapat membaca sumber asli berita ini di CNN Indonesia dan juga mengikuti laporan dari media internasional seperti BBC.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0