PSI Dikritik Karena Hanya Modal Solidaritas, Beda dengan PKB dan PAN
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan tajam setelah peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, mengkritik keras karakter partai yang selama ini dipromosikan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV yang dikutip Selasa (28/7/2026), Sobary menyatakan bahwa PSI hanya mengandalkan solidaritas sebagai modal utama, bukan memiliki ideologi yang kuat dan jelas seperti partai-partai besar lain di Indonesia.
PSI Hanya Modal Solidaritas, Bukan Ideologi Kuat
Menurut Sobary, solidaritas merupakan nilai sosial yang penting, tetapi tidak bisa dijadikan fondasi ideologis sebuah partai politik. Ia menegaskan bahwa solidaritas lebih identik dengan perkawanan sehari-hari, bukan landasan politik yang memayungi sebuah partai.
"Dia akan ngangkat partai apa ini? solidaritas ya. Ini juga penting, Bung. Partai kok urusannya cuman solidaritas. Solidaritas itu bukan sesuatu yang ideologis loh itu. Itu urusan perkawanan hari-harian itu," ujar Sobary.
Criticism ini muncul di tengah langkah Jokowi yang tengah gencar melakukan safari politik bersama PSI, partai yang diasuh oleh anak bungsunya, Kaesang Pangarep. Safari politik ini bertujuan untuk memperkuat struktur dan basis suara PSI agar lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2029.
Perbandingan dengan Partai Lain: PKB dan PAN
Sobary membandingkan PSI dengan partai lain seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang memiliki simbol dan ideologi yang jelas. Ia menyebut PKB dengan ideologi kebangkitan bangsa, dan PAN dengan Amanat Nasional yang memiliki makna besar.
"Kalau make nama demokrasi, wah jelas itu simbolah itu ideologi ini demokrasi, persatuan bangsa misalnya, PKB itu apa? PKB partai kebangkitan. Nah, kebangkitan bangsa ini bangkit. Dibayangkan bangkit ideologi Bung. Ideologi besar. Amanat nasional. Woh, keren, Bung," imbuh Sobary.
Menurut Sobary, Indonesia sebagai negara demokrasi harus didasarkan pada aspirasi dan amanat rakyat, bukan hanya solidaritas antar anggota partai. Ideologi adalah simbol sekaligus panduan dalam menjalankan partai politik.
Manuver Politik Jokowi Bersama PSI
Safari politik Jokowi bersama PSI dimulai pada akhir Juni 2026 di Lampung dan akan berlanjut ke berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Timur pada 31 Juli 2026. Jokowi bahkan tampil mengenakan atribut topi berlogo PSI, menunjukkan komitmennya untuk mengangkat elektabilitas partai ini.
- Tujuan utama safari politik ini adalah memperkuat struktur PSI hingga tingkat kecamatan.
- Jokowi berusaha membantu PSI menembus ambang batas parlemen di Pemilu 2029.
- PSI dipimpin oleh Kaesang Pangarep, anak bungsu Jokowi.
Namun, kritik Sobary ini membuka perdebatan tentang keberlanjutan dan kekuatan politik PSI di tengah persaingan partai yang sudah mengakar dengan ideologi kuat.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kritik terhadap PSI ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi partai baru di Indonesia: antara membangun solidaritas internal dan memiliki ideologi politik yang jelas sebagai fondasi eksistensi jangka panjang. Solidaritas memang penting untuk mendukung kekompakan, tetapi tidak cukup sebagai landasan dalam sistem demokrasi yang berkelanjutan.
Manuver Jokowi yang turun gunung untuk mendukung PSI dapat memberikan dorongan elektoral dalam jangka pendek, tetapi tanpa ideologi yang kuat, PSI berpotensi menghadapi kesulitan dalam menarik dukungan massa luas dan membangun loyalitas pemilih yang stabil. Hal ini terlihat dari perbandingan dengan PKB dan PAN yang mampu memanfaatkan identitas ideologis mereka sebagai alat mobilisasi politik.
Ke depan, PSI perlu mempertimbangkan untuk memperjelas platform ideologisnya agar tidak hanya bergantung pada solidaritas internal dan pengaruh figur sentral. Jika tidak, risiko PSI menjadi partai yang mudah terombang-ambing dalam dinamika politik nasional akan semakin besar.
Untuk perkembangan terbaru dan opini terkait politik Indonesia, terus pantau berita di Warta Ekonomi dan media terpercaya lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0