Algoritma Media Sosial: Kunci Cepat Lambatnya Isu Publik Berkembang di Era Digital
Jakarta – Algoritma media sosial kini menjadi faktor utama yang menentukan seberapa cepat sebuah isu dapat berkembang dan mendapat perhatian publik. Analis media sosial, Rustika Herlambang, menegaskan bahwa dalam ekosistem digital, interaksi antara manusia dan algoritma menjadi penentu penting visibilitas sebuah isu di ruang publik.
"Komunikasi kebijakan saat ini harus memahami cara kerja perhatian publik dalam marketplace of attention yang dipengaruhi oleh manusia sekaligus algoritma. Membangun resonansi menjadi sama pentingnya dengan menyampaikan informasi," ujar Rustika dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Peran Algoritma dalam Membentuk Agenda Publik
Dalam penelitian doktoralnya berjudul "Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020–2024)", Rustika mengungkap bagaimana algoritma media sosial memengaruhi sejauh mana pesan memperoleh resonansi, sekaligus menentukan visibilitas sebuah isu.
Menurutnya, agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Proses ini terbentuk melalui interaksi kompleks antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur seperti For You Page di TikTok.
Temuan Utama: Kualitas Konten Lebih Penting daripada Kuantitas
Rustika menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi digital tidak hanya ditentukan oleh banyaknya konten yang dipublikasikan. Konten dalam jumlah besar belum tentu menarik perhatian publik. Sebaliknya, pesan dengan publikasi lebih sedikit bisa mendapatkan resonansi jauh lebih tinggi jika:
- Hadir pada momentum yang tepat
- Dikemas sesuai karakteristik platform media sosial
- Diperkuat oleh mekanisme distribusi algoritmik
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perhatian publik terhadap isu pemerintah seperti Ibu Kota Negara (IKN) bersifat episodik. Intensitas percakapan meningkat pada momen-momen tertentu, seperti:
- Pengesahan Undang-Undang IKN
- Dinamika politik menjelang Pemilu
- Perkembangan pembangunan fisik
- Peringatan Hari Kemerdekaan di kawasan IKN
Agenda publik tidak berkembang secara linear, melainkan mengikuti momentum politik, kebijakan, dan peristiwa simbolik yang diperkuat oleh distribusi informasi di berbagai platform digital.
Karakteristik Berbeda Setiap Platform dalam Membentuk Persepsi Publik
Rustika juga menemukan bahwa setiap platform media sosial memiliki fungsi berbeda dalam membentuk persepsi publik terhadap isu IKN:
- Media daring memperkuat legitimasi lewat penyajian informasi kebijakan dan perkembangan pembangunan.
- Twitter/X menjadi ruang diskusi, kritik, dan kontestasi berbagai sudut pandang.
- TikTok membangun pengalaman visual dan emosional, membuat isu kebijakan lebih mudah dipahami dan dibagikan.
Model Baru: Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS)
Melalui temuannya, Rustika memperkenalkan model teoretis baru bernama Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS). Model ini memperluas teori intermedia agenda-setting dengan menempatkan algoritma sebagai mediator penting dalam pembentukan agenda publik di era digital.
AIAS memahami agenda publik sebagai hasil interaksi antara:
- Pemerintah
- Media massa
- Publik
- Kreator konten
- Sistem algoritma yang menentukan distribusi dan visibilitas informasi
Rustika juga menyoroti bahwa suatu isu memiliki peluang lebih besar menjadi agenda publik ketika lima unsur bertemu secara bersamaan, yaitu pesan, momentum, format, emosi, dan logika platform.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penelitian Rustika Herlambang memberikan perspektif penting tentang bagaimana dinamika komunikasi publik berubah drastis di era digital. Algoritma bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan aktor utama yang membentuk percepatan atau perlambatan isu di masyarakat.
Hal ini menuntut pemerintah, media, dan kreator konten untuk lebih memahami mekanisme distribusi algoritmik agar pesan yang disampaikan dapat mencapai resonansi maksimal. Terlebih, fenomena episodik perhatian publik menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif harus memanfaatkan momentum strategis, bukan hanya kuantitas produksi konten.
Ke depan, publik dan pengelola konten harus kritis terhadap cara algoritma mengatur informasi agar tidak terjebak dalam filter bubble atau echo chamber yang bisa mempersempit ruang diskusi sosial. Dengan memahami dan mengoptimalkan interaksi manusia dan algoritma, komunikasi kebijakan dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berdampak.
Untuk pembaca yang ingin memahami lebih lanjut tentang pengaruh algoritma media sosial dalam komunikasi publik, simak penjelasan lengkap Rustika Herlambang dalam penelitian yang dirilis di sumber asli ANTARA.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0