Negosiator Ransomware Dijatuhi Hukuman 70 Bulan Penjara karena Membantu Serangan BlackCat
Angelo Martino, mantan negosiator ransomware berusia 41 tahun, dijatuhi hukuman penjara selama 70 bulan atau hampir enam tahun di Amerika Serikat karena perannya dalam berkonspirasi dengan operator ransomware BlackCat yang kini sudah tidak aktif, serta membantu pemerasan terhadap sejumlah korban.
Dalam dokumen putusan, jaksa federal menggambarkan Martino sebagai "agen ganda yang berusaha memaksimalkan kerugian bagi kliennya sekaligus keuntungan finansial bagi para penjahat siber yang membayarnya sebagian dari uang tebusan". Martino diketahui memberikan data negosiasi rahasia para korban kepada pelaku BlackCat tanpa izin, sehingga ransomware operator dapat mengoptimalkan jumlah uang tebusan yang harus dibayar korban.
Peran Martino dalam Kejahatan Ransomware BlackCat
Martino yang berdomisili di Land O'Lakes, Florida, sebelumnya mengaku bersalah pada April 2026 atas dakwaan berkonspirasi mengganggu perdagangan antarnegara bagian melalui pemerasan. Ia bekerja sebagai negosiator untuk lima korban ransomware berbeda, namun secara diam-diam membocorkan informasi penting seperti batasan polis asuransi dan posisi negosiasi internal korban kepada pelaku BlackCat.
"Para korban Angelo Martino menceritakan kisah memilukan bagaimana bisnis mereka hampir hancur, sementara orang yang mereka percaya untuk membantu justru mengkhianati mereka kepada geng ransomware,"
ujar Asisten Jaksa Agung A. Tysen Duva dari Divisi Kriminal Departemen Kehakiman AS.
Kolaborasi dengan Profesional Keamanan Siber Lain
Selain itu, Martino juga dituduh bekerja sama dengan dua profesional keamanan siber lain, yaitu Ryan Goldberg (41) dari Georgia dan Kevin Martin (36) dari Texas, dalam melancarkan serangan ransomware BlackCat antara April hingga November 2023. Martino dan Kevin Martin bekerja di perusahaan DigitalMint, sementara Ryan Goldberg menjabat manajer respons insiden di perusahaan keamanan siber Sygnia.
Goldberg dan Martin telah divonis empat tahun penjara pada Mei 2026 setelah mengaku bersalah pada Desember 2025 atas keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.
"Dia dipekerjakan untuk membantu korban di saat krisis, tetapi malah mengkhianati mereka dengan menyampaikan posisi negosiasi rahasia kepada kriminal ransomware dan membantu mereka menekan korban untuk membayar uang tebusan lebih besar,"
kata Jaksa AS Jason A. Reding QuiƱones untuk Distrik Selatan Florida.
Konsekuensi Hukum dan Penyitaan Aset
Departemen Kehakiman menyatakan bahwa aparat penegak hukum telah menyita aset senilai 10 juta dolar AS milik Martino, yang mencakup mata uang digital, kendaraan, truk makanan, dan kapal memancing mewah yang dibeli dengan hasil kejahatan tersebut.
Martino dijadwalkan hadir di pengadilan pada 17 September 2026 untuk menentukan jumlah restitusi yang harus dibayarkan kepada para korban.
"Angelo Martino menjual korban yang seharusnya dia wakili dengan menyerahkan posisi negosiasi rahasia mereka kepada aktor BlackCat demi menaikkan uang tebusan dan memperkaya dirinya sendiri,"
ungkap Asisten Direktur Brett Leatherman dari Divisi Siber FBI.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kasus Angelo Martino menggambarkan ancaman serius dari insider threat dalam dunia keamanan siber yang sering kali luput dari perhatian publik. Ketika sosok yang dipercaya untuk menjadi jembatan antara korban dan pelaku justru menjadi kaki tangan kriminal, kerugian yang dialami korban bisa jauh lebih besar dan sulit dipulihkan.
Kasus ini juga mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap profesional keamanan siber yang menangani insiden ransomware. Tidak hanya tanggung jawab teknis, integritas dan etika harus menjadi fondasi utama untuk melindungi korban dari eksploitasi lebih lanjut.
Ke depan, publik dan pelaku industri keamanan siber harus terus mengawasi perkembangan hukum dan teknologi yang dapat mencegah terjadinya pengkhianatan serupa. Penindakan tegas seperti vonis terhadap Martino menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan mentolerir aksi kriminal yang merugikan masyarakat luas.
Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini tentang dunia keamanan siber dan kejahatan digital, kunjungi sumber asli artikel ini di The Hacker News dan berita resmi Departemen Kehakiman AS.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0