Perang AS-Iran Meluas ke Laut Merah, Biaya Konflik Capai Rp 672 Triliun

Jul 22, 2026 - 22:44
 0  4
Perang AS-Iran Meluas ke Laut Merah, Biaya Konflik Capai Rp 672 Triliun

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat dengan eskalasi yang meluas ke jalur pelayaran internasional di Laut Merah. Konflik yang awalnya terjadi di medan tempur kini mengancam stabilitas perdagangan global dan pasokan energi dunia. Selain serangan udara yang terus berlanjut, isu keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb menjadi pusat perhatian dunia.

Ad
Ad

Eskalasi Konflik dan Ancaman Jalur Pelayaran Strategis

Washington menuduh Iran mencoba mengontrol lalu lintas kapal di Selat Hormuz dengan mengarahkan kapal-kapal komersial melintasi jalur dekat pantai Iran dan bahkan mengenakan biaya kepada kapal yang melintas. Dalam beberapa hari terakhir, serangan terhadap kapal tanker meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global.

"Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Situasi semakin memburuk ketika kelompok Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Mereka mengancam akan menyerang kapal yang mengangkut maupun membongkar minyak Saudi, sehingga dua jalur pelayaran strategis dunia kini terancam secara bersamaan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk bertindak jika Houthi benar-benar mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

"Sejauh ini itu belum terjadi. Jika hal seperti itu terjadi, kami akan menanganinya," kata Trump.

Gangguan di dua selat penting ini memicu kekhawatiran mendalam terkait rantai pasok global dan mendorong harga minyak Brent melambung ke kisaran US$90 per barel atau sekitar Rp 1,61 juta per barel.

Perhatian ASEAN dan Komitmen Keamanan Maritim

Dampak dari konflik di Timur Tengah menjadi sorotan dalam pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila pada 22 Juli 2026. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa upaya Iran mengendalikan Selat Hormuz bisa menjadi preseden buruk bagi kebebasan pelayaran internasional, yang berpotensi menular ke kawasan Indo-Pasifik.

Menurut Rubio:

  • Praktik pemungutan biaya dan pengendalian jalur pelayaran dapat memicu negara lain melakukan hal serupa di jalur strategis lain.
  • AS berkomitmen menjaga keamanan maritim bersama negara-negara ASEAN, meskipun saat ini fokus utama Washington adalah konflik dengan Iran.
  • Dalam forum Quad (AS, Australia, India, Jepang), keempat negara menegaskan pentingnya kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik.

Peran Pakistan sebagai Mediator Perdamaian

Dalam upaya meredakan ketegangan, Pakistan kembali memainkan peran mediator antara AS dan Iran. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, bertemu dengan pejabat tinggi Pakistan di Islamabad pada 21 Juli 2026 untuk membahas potensi penghentian eskalasi dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Seorang diplomat menyatakan, "Pakistan berupaya mencegah perang meluas dan memfasilitasi dialog antara kedua pihak."

Saat bersamaan, Pakistan mengajukan permintaan fasilitas stabilisasi devisa senilai US$10 miliar (Rp179,3 triliun) kepada Departemen Keuangan AS guna memperkuat cadangan devisa dan menopang nilai tukar rupee dalam rangka mendukung reformasi ekonomi yang disokong IMF.

AS Bersiap Hadapi Konflik Berkepanjangan

Meskipun jalur diplomasi terus dijaga, Amerika Serikat menyiapkan diri menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan dengan Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan bahwa hingga saat ini, biaya perang telah mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp 672 triliun.

Pentagon juga tengah meminta tambahan anggaran kepada Kongres untuk operasi militer berkelanjutan dan pengisian kembali persediaan persenjataan.

Pemerintahan Trump menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus dilakukan selama Teheran tidak mengubah kebijakan agresifnya. Di sisi lain, AS juga berupaya membantu Lebanon menjaga stabilitas di tengah ketegangan regional, termasuk membuka kembali penerbangan langsung AS-Lebanon yang telah terhenti sejak 1985.

Trump kembali memperingatkan kelompok Houthi agar tidak mengganggu pelayaran internasional di Laut Merah dan menegaskan tindakan tegas akan diambil jika blokade benar-benar terjadi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, eskalasi perang AS-Iran yang kini melibatkan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb bukan hanya soal konflik regional, melainkan ancaman serius terhadap keamanan energi dan perdagangan dunia. Blokade oleh kelompok Houthi menandai dimensi baru dalam perang proxy yang bisa memperpanjang krisis dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.

Kehadiran Pakistan sebagai mediator menunjukkan bahwa solusi diplomatik masih mungkin tercapai, namun diperlukannya komitmen kuat dari semua pihak agar risiko perang meluas dapat dicegah. Kenaikan biaya perang dan permintaan anggaran tambahan AS mencerminkan ancaman konflik yang tidak akan cepat selesai.

Warga dunia dan pelaku industri harus mewaspadai potensi gangguan pasokan minyak dan fluktuasi harga komoditas dalam beberapa bulan ke depan. Perkembangan ini juga menegaskan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran internasional sebagai pilar utama stabilitas ekonomi global. Untuk update terbaru dan analisis mendalam soal konflik ini, simak berita dari DetikNews dan sumber resmi lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad