Campak Masih Jadi Penyakit Sangat Menular, Waspadai Risiko pada Anak

Mar 18, 2026 - 17:50
 0  4
Campak Masih Jadi Penyakit Sangat Menular, Waspadai Risiko pada Anak

Campak masih menjadi salah satu penyakit yang sangat menular dan menjadi perhatian serius di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus campak sepanjang 2025 hingga awal 2026, bahkan sejumlah daerah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang mengkhawatirkan. Kondisi ini menegaskan bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap sepele, terutama pada anak-anak yang rentan terhadap komplikasi serius.

Ad
Ad

Kenaikan Kasus Campak dan Dampaknya pada Anak

Sepanjang tahun 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi secara laboratorium dan 69 kematian akibat penyakit ini. Memasuki awal 2026, hingga minggu ketujuh, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian. Selain itu, terdapat 21 KLB yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi, menunjukkan bahwa penularan campak masih berlangsung signifikan di berbagai wilayah.

Menurut dr. Venty, Sp.A, CIMI, dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, campak disebabkan oleh virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus ini dapat bertahan di udara atau permukaan benda dalam waktu tertentu, sehingga risiko penularan sangat tinggi, terutama di lingkungan yang belum terlindungi imunisasi.

“Jika ada satu anak yang terinfeksi di lingkungan yang belum terlindungi vaksin, penyakit ini dapat dengan cepat menyebar ke anak lainnya,” tegas dr. Venty.

Gejala dan Komplikasi Campak yang Harus Diwaspadai

Gejala awal campak seringkali mirip dengan flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Ciri khas penyakit ini adalah munculnya bercak putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik, yang kemudian diikuti oleh ruam kulit yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.

Campak bukanlah penyakit ringan. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti:

  • Infeksi telinga
  • Diare berat
  • Pneumonia
  • Radang otak (ensefalitis)
  • Kematian, khususnya pada anak dengan imunisasi yang belum lengkap atau daya tahan tubuh rendah

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, meliputi istirahat cukup, asupan nutrisi dan cairan yang memadai, serta pemberian vitamin A sesuai usia untuk mengurangi risiko komplikasi. Obat-obatan juga digunakan untuk meringankan gejala seperti demam, batuk, dan pilek, sementara antibiotik hanya diberikan jika terjadi infeksi bakteri sekunder.

Upaya Pencegahan: Imunisasi dan Perilaku Hidup Sehat

Pencegahan campak paling efektif adalah melalui vaksinasi. Vaksin campak diberikan dalam bentuk vaksin MR (Measles-Rubella) pada usia 9 bulan, dilanjutkan dengan booster pada usia 15–18 bulan, dan booster lanjutan pada usia 5–7 tahun sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Orang tua sangat dianjurkan untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan imunisasi lengkap untuk memutus rantai penularan dan mencegah komplikasi.

Selain vaksinasi, perilaku hidup bersih dan sehat sangat penting diterapkan, seperti:

  • Mencuci tangan secara rutin
  • Menerapkan etika batuk yang benar
  • Mengisolasi penderita selama masa penularan

Orang tua juga harus waspada dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda komplikasi seperti diare disertai dehidrasi, pneumonia, kejang, atau penurunan kesadaran.

Fasilitas dan Imbauan Kesehatan

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan bahwa rumah sakit menyediakan layanan kesehatan anak dengan tenaga medis dan fasilitas lengkap untuk diagnosis dan penanganan penyakit infeksi termasuk campak. "Kami mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap gejala campak dan melakukan pemeriksaan dini agar penanganan tepat waktu dapat dilakukan," ujarnya.

Dengan peningkatan kewaspadaan, penerapan pola hidup sehat, dan cakupan imunisasi yang optimal, risiko penularan campak dapat ditekan dan kesehatan anak-anak Indonesia lebih terjaga.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan kasus campak yang masih terjadi di Indonesia menunjukkan adanya celah dalam cakupan imunisasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi. Penyebaran cepat campak terutama di masa mobilitas tinggi, seperti jelang Hari Raya Idulfitri, menggarisbawahi kebutuhan koordinasi lebih baik antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memperkuat imunisasi dan edukasi kesehatan.

Selain itu, dampak komplikasi campak yang fatal pada anak-anak menuntut perhatian ekstra, terutama bagi keluarga dengan anak yang memiliki gangguan imun atau yang belum lengkap imunisasinya. Media dan fasilitas kesehatan perlu meningkatkan sosialisasi agar stigma negatif terhadap vaksin tidak menghambat upaya pencegahan.

Ke depannya, penting juga untuk memantau dan menindaklanjuti KLB campak secara cepat agar tidak meluas. Pemerintah harus memastikan vaksinasi massal dan layanan kesehatan tersedia merata hingga ke daerah terpencil. Bagi pembaca, pastikan anak-anak Anda mendapatkan vaksin MR lengkap sesuai jadwal dan selalu terapkan pola hidup bersih agar terhindar dari penularan campak yang sangat berbahaya ini.

Terus pantau informasi kesehatan terbaru dan jangan abaikan gejala campak pada anak untuk mencegah komplikasi yang mengancam nyawa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad