Lebaran 2026: Penyintas Banjir-Longsor Aceh Rayakan Idulfitri dengan Keprihatinan Mendalam

Mar 20, 2026 - 18:20
 0  5
Lebaran 2026: Penyintas Banjir-Longsor Aceh Rayakan Idulfitri dengan Keprihatinan Mendalam

Lebaran 2026 menjadi momen penuh keprihatinan bagi penyintas banjir dan longsor di Aceh Tengah dan Pidie Jaya. Dua keluarga yang terdampak bencana besar ini berusaha memaknai Idulfitri dengan cara masing-masing, di tengah kehilangan harta dan rumah yang mereka alami. Ada yang makin menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan hutan sebagai benteng utama dari bencana, sementara yang lain masih terus menanti dan mengingatkan tanggung jawab negara dalam penanganan bencana.

Ad
Ad

Penyintas Aceh Tengah: Kerugian Tak Terkira dan Pelajaran dari Alam

Ramdanu Martis, 60 tahun, adalah salah satu penyintas di Aceh Tengah yang rumah dan usaha penginapannya luluh lantak akibat banjir dan longsor. Pengusaha wisata ini kehilangan rumah, homestay, serta sejumlah kendaraan dan peralatan penting yang tertimbun material longsor. Martis menyaksikan langsung bagaimana tanah, kayu, dan batu dari gunung menghantam rumah serta jalan utama Takengon-Gayo Lues.

"Saya sendiri saksi hidup pada saat itu, datang air bersama material dari gunung, kami mengevakuasi diri ke arah timur, kawasan Bintang," ujar Martis.

Kerugian materi yang dialami Martis ia sebut tak terkira, namun ia berusaha memaknai Idulfitri dengan memperkuat hubungan keluarga dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Meski tidak banyak bantuan pemerintah yang diterima, uluran tangan relawan dan keluarga menjadi sumber kekuatan utama.

Martis juga kini makin menyadari pentingnya menjaga lingkungan, khususnya hutan, agar bencana serupa tidak terulang. Ia berjanji akan mempersiapkan lanskap yang dapat mengatur aliran air dari gunung, dan mengajak masyarakat Aceh Tengah untuk lebih peduli dan tidak asal membabat hutan.

  • Kerugian materi besar, termasuk rumah dan usaha homestay
  • Bantuan pemerintah kurang memadai, hanya sedikit beras
  • Relawan dan keluarga jadi sumber dukungan utama
  • Kesadaran lingkungan semakin meningkat

Keluarga Lindawati di Pidie Jaya: Berjuang di Tengah Kehilangan dan Penantian Hunian Sementara

Lindawati (37) dan keluarganya adalah korban banjir bandang yang melanda Desa Mancang, Pidie Jaya, pada November 2025 lalu. Rumah semi permanen mereka tersapu banjir, bersama dengan seluruh perabotan, sepeda motor, dan hasil panen padi yang belum sempat diproses.

"Selama dua hari tiga malam kami terperangkap di loteng rumah tanpa ada makanan dan air," kenang Lindawati.

Setelah bencana, keluarga Lindawati mengungsi ke rumah mertua dan kemudian mengontrak rumah bantuan tipe 36. Namun mereka belum mendapatkan hunian tetap. Pendapatan keluarga terganggu karena ratusan hektare sawah tertimbun lumpur dan alat kerja emping melinjo mereka hilang.

Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda. Lindawati hanya mampu membuat keripik pisang dan kue bawang, jauh dari tradisi menyiapkan beragam kue Lebaran sebelumnya. Situasi rumah yang bocor dan minim fasilitas juga menambah beban keluarga.

  • Rumah hanyut dan tinggal pondasi
  • Peralatan kerja dan hasil panen hilang
  • Belum mendapatkan hunian tetap (huntara)
  • Bantuan pemerintah berupa uang tunai Rp8 juta dan jadup 3 bulan
  • Pendapatan keluarga menurun drastis

Tanggung Jawab Pemerintah dan Harapan Penyintas

Kedua keluarga tersebut masih merasakan kurangnya respons pemerintah dalam penanganan bencana. Martis mengaku bantuan yang diterima sangat minim, sementara Lindawati dan keluarga baru menerima uang tunai dan jaminan hidup, tanpa hunian tetap yang memadai.

Harapan besar disematkan agar pemerintah segera membangun hunian tetap dan memulihkan mata pencaharian masyarakat yang terdampak. Keluarga Lindawati berharap rumah mereka yang hilang segera dibangun kembali di kampung halaman mereka.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kisah penyintas banjir dan longsor di Aceh ini menyoroti dua hal penting: pertama, keberlanjutan lingkungan sebagai kunci mitigasi bencana, dan kedua, kesiapan serta respons pemerintah dalam membantu korban bencana. Meski sudah menjadi langganan bencana, perhatian terhadap pengelolaan hutan dan lingkungan masih kurang, seperti yang disampaikan Martis. Kerusakan hutan akibat pembabatan liar dan deforestasi menjadi penyebab utama meluapnya aliran air dan material longsor yang mematikan.

Di sisi lain, kondisi bantuan dan hunian tetap bagi korban juga masih belum memadai. Kasus Lindawati yang masih tinggal di rumah kontrakan dengan kondisi kurang layak, serta bantuan pemerintah yang terkesan lambat, menunjukkan perlunya perbaikan sistem distribusi dan penanganan pascabencana. Pemerintah harus lebih responsif dan transparan agar kepercayaan masyarakat tidak terkikis, apalagi di saat momen penting seperti Idulfitri.

Ke depan, pembelajaran dari bencana ini harus menjadi momentum perubahan kebijakan lingkungan dan penanganan bencana di Indonesia. Masyarakat dan pemerintah perlu bersinergi menjaga alam, memperkuat mitigasi bencana, serta memberikan perlindungan sosial yang layak bagi para penyintas agar mereka dapat kembali bangkit dan berdaya.

Kita akan terus memantau perkembangan upaya rehabilitasi dan bantuan yang diberikan kepada para korban banjir dan longsor di Aceh. Semoga Idulfitri berikutnya membawa harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad