Harga Emas Melonjak Lagi, Tapi Risiko Konflik Timur Tengah Masih Menghantui

Mar 25, 2026 - 10:00
 0  4
Harga Emas Melonjak Lagi, Tapi Risiko Konflik Timur Tengah Masih Menghantui

Harga emas dan perak kembali menguat setelah mengalami tekanan berat akibat ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa waktu terakhir. Namun, sentimen risiko dari konflik di Timur Tengah masih terus membayangi pasar logam mulia global.

Ad
Ad

Harga Emas Menguat Setelah Penurunan Beruntun

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (24/3/2026), harga emas ditutup di posisi US$ 4473,59 per troy ons, naik sebesar 1,54% dari perdagangan sebelumnya. Penguatan ini menjadi angin segar setelah emas mengalami penurunan selama sembilan hari berturut-turut dan anjlok hingga 15%.

Memasuki Rabu (25/3/2026) pagi, harga emas kembali menguat 0,69% ke level US$ 4504,49 per troy ons pada pukul 06.36 WIB. Kenaikan ini didorong oleh harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah yang selama ini menekan pasar.

Negosiasi Damai AS-Iran Jadi Pemicu Optimisme

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pada Selasa (24/3/2026) bahwa AS telah membuat kemajuan penting dalam negosiasi mengakhiri perang dengan Iran. AS bahkan telah mengirimkan proposal penyelesaian berisi 15 poin kepada Teheran. Trump menyebut bahwa Washington berbicara dengan pihak-pihak yang tepat di Iran dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan damai.

"AS sedang berbicara dengan orang-orang yang tepat di Iran untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri permusuhan," ujar Trump di Gedung Putih.

Meskipun demikian, Iran masih membantah adanya negosiasi ini, menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Tekanan Berlanjut di Tengah Risiko Perang dan Inflasi

Menurut Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, jika perang berlanjut dan harga energi terus naik, hal tersebut akan menjadi tekanan negatif bagi harga emas. Ia memperkirakan bahwa emas akan tetap tertekan pada kuartal kedua tahun ini, namun prospeknya akan lebih menarik menjelang akhir tahun.

"Emas kemungkinan akan berada di bawah tekanan pada kuartal kedua, tetapi saya pikir menjelang akhir tahun prospek emas akan kembali menarik," kata Melek kepada Reuters.

Melek juga berharap bank sentral seperti The Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang yang lebih luas untuk melonggarkan kebijakan moneter, yang dapat melemahkan dolar AS dan menurunkan suku bunga, sehingga mendukung harga emas.

Emas sebagai aset safe haven dan lindung nilai terhadap inflasi memang cenderung kehilangan daya tarik dalam situasi suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, ketegangan geopolitik yang membuat pengiriman minyak dan LNG global terganggu melalui Selat Hormuz menjadi faktor risiko besar yang memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang lebih luas.

Perak Terus Menguat Ikuti Tren Positif

Sementara itu, harga perak juga menunjukkan tren perbaikan. Pada Selasa (24/3/2026), harga perak ditutup di posisi US$ 71,23 per troy ons, melonjak 3% dan memperpanjang kenaikan selama dua hari berturut-turut yang mencapai 5%.

Pada Rabu pagi, harga perak semakin melesat 1,32% ke US$ 72,13 per troy ons, menunjukkan sentimen pasar yang mulai berbalik positif.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penguatan harga emas dan perak kali ini merupakan tanda awal stabilisasi pasar setelah periode tekanan berat akibat ketegangan geopolitik. Namun, risiko yang masih mengintai dari konflik di Timur Tengah seperti perang Iran dan potensi lonjakan harga energi bisa kembali mengguncang pasar logam mulia.

Selain itu, pernyataan optimistis dari Presiden Trump soal negosiasi damai memang mampu mendorong sentimen positif, tetapi ketidakpastian tinggi karena bantahan Iran tetap menjadi faktor penghambat. Dalam konteks global, kebijakan bank sentral, terutama The Fed, akan sangat menentukan arah harga emas ke depan. Ruang bagi pelonggaran moneter dapat menjadi katalis positif, tapi jika inflasi melonjak kembali akibat konflik, maka harga emas bisa kembali melonjak tajam sebagai aset safe haven.

Ke depan, investor dan pelaku pasar wajib mencermati perkembangan negosiasi damai AS-Iran, dinamika harga energi, dan kebijakan moneter global. Semua faktor ini akan menjadi kunci penentu volatilitas harga emas dan perak di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad