Rupiah Melemah ke Rp17.000, Dosen UGM Prediksi Harga Pangan Naik
Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Maret 2026 menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk akademisi. Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menyoroti potensi dampak negatif dari kondisi ini terhadap harga pangan di Indonesia.
Pengaruh Fluktuasi Rupiah terhadap Harga Pangan
Hani Perwitasari menjelaskan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah akan berdampak langsung pada stabilitas harga pangan di pasar domestik, terutama untuk bahan pangan yang mengandalkan impor. Menurutnya, variasi kenaikan harga dapat berkisar antara 2 sampai 8 persen, tergantung jenis komoditas pangan yang dimaksud.
“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujar Hani sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM pada Jumat (27/3/2026).
Variasi Dampak Berdasarkan Jenis Komoditas
Dari perspektif agribisnis, fluktuasi nilai tukar rupiah tidak berdampak seragam pada seluruh komoditas pangan di Indonesia. Hani menekankan bahwa pengaruhnya sangat tergantung pada:
- Jenis komoditas pangan, apakah bahan tersebut impor atau diproduksi dalam negeri.
- Ketersediaan pasokan dalam negeri yang menentukan stabilitas harga meskipun ada tekanan nilai tukar.
Ia menyebutkan bahwa komoditas dengan pasokan cukup di dalam negeri cenderung mengalami harga yang lebih stabil, sehingga dampak pelemahan rupiah tidak terlalu signifikan. Sedangkan bahan pangan yang sangat bergantung pada impor akan lebih rentan mengalami kenaikan harga.
Implikasi untuk Konsumen dan Pemerintah
Kenaikan harga pangan akibat pelemahan rupiah tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan pokok. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memperhatikan kondisi nilai tukar dan melakukan langkah mitigasi agar fluktuasi tidak berujung pada lonjakan harga pangan yang merugikan konsumen.
Selain itu, upaya peningkatan produksi pangan dalam negeri juga menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan impor dan menstabilkan harga di pasar domestik. Langkah ini sekaligus dapat memperkuat ketahanan pangan nasional.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, melemahnya rupiah hingga mencapai Rp 17.000 per dolar AS bukan hanya fenomena ekonomi makro biasa, melainkan sinyal penting bagi sektor pangan Indonesia yang sangat bergantung pada impor. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi harga pangan yang dapat memperburuk ketimpangan sosial dan mengganggu stabilitas ekonomi rakyat kecil.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan fiskal dan moneter yang responsif terhadap fluktuasi nilai tukar serta mempercepat program diversifikasi pangan dan peningkatan produktivitas lokal. Jika tidak, risiko ketergantungan pada impor akan terus memperbesar kerentanan terhadap gejolak pasar global.
Ke depan, sangat penting untuk memantau perkembangan nilai tukar dan dampaknya secara berkala. Publik dan pelaku usaha juga harus tetap waspada dan adaptif terhadap perubahan harga pangan yang mungkin terjadi.
Untuk informasi lebih lengkap terkait dampak ekonomi rupiah melemah, Anda dapat mengunjungi laman resmi Kompas.com yang menjadi sumber utama berita ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0