Wall Street dan Bursa Eropa Terjun Bebas Akibat Krisis Energi dan Ketegangan Timur Tengah

Mar 28, 2026 - 08:40
 0  4
Wall Street dan Bursa Eropa Terjun Bebas Akibat Krisis Energi dan Ketegangan Timur Tengah

Bursa saham Amerika Serikat (AS), khususnya Wall Street, serta pasar saham Eropa mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (27/3/2026), menandai penurunan signifikan yang mengguncang investor global. Lonjakan harga minyak Brent menembus US$110 per barel akibat insiden di Selat Hormuz, memperburuk kekhawatiran terkait pasokan energi dunia dan memantik aksi jual besar-besaran di pasar saham.

Ad
Ad

Pergerakan Bursa Wall Street yang Terjun Bebas

Indeks Dow Jones melemah tajam sebesar 793,47 poin (1,73%) ke posisi 45.166,64. Sementara itu, indeks S&P 500 anjlok 1,67% ke level terendah dalam tujuh bulan di 6.368,85 dan Nasdaq Composite jatuh 2,15% ke angka 20.948,36. Dalam sepekan terakhir, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 2,1% dan 3,2%, sedangkan Dow Jones melemah 0,9%.

Nasdaq bahkan memasuki wilayah koreksi, turun hampir 13% dari rekor tertingginya pada Oktober 2025. Dow Jones sempat menyentuh wilayah koreksi secara intraday dan menutup perdagangan dengan penurunan 10% dari puncak sebelumnya, sedangkan S&P 500 turun 8,7% dari rekor tertinggi.

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya

Kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 4,22% ke US$112,57 per barel serta West Texas Intermediate (WTI) naik 5,46% ke US$99,64 per barel menjadi penyebab utama tekanan di pasar saham. Ini adalah penutupan tertinggi kedua sejak Juli 2022 untuk kedua acuan tersebut.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April, memberi sinyal bahwa konflik AS-Iran belum mereda. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menulis:

"Berdasarkan permintaan Pemerintah Iran, saya menunda periode penghancuran fasilitas energi. Pembicaraan masih berlangsung dan, meskipun ada pernyataan keliru dari media 'berita palsu', semuanya berjalan sangat baik."

Namun, ketidakpastian masih menggelayuti pasar, karena Menteri Luar Negeri Iran menyatakan tidak berniat mengadakan pembicaraan dengan AS, sementara Pentagon mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 pasukan ke Timur Tengah.

Ketegangan di Selat Hormuz dan Implikasinya

Selat Hormuz yang strategis ditutup oleh Garda Revolusi Iran dengan ancaman keras terhadap kapal yang mencoba melewati jalur tersebut. Dua kapal China ditolak melintas dan sebuah kapal kargo Thailand dilaporkan kandas setelah serangan sebelumnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan gangguan pasokan minyak global.

Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors, menilai pasar menunggu resolusi nyata atas konflik ini agar dapat pulih:

"Semakin lama Selat Hormuz ditutup, semakin buruk kondisi pasar minyak. Harga mungkin turun cukup dalam setelah dibuka kembali, tapi masalah inventori akan tetap ada. Jika butuh satu bulan lagi, harga minyak akan bertahan tinggi sekitar US$80 sampai stok pulih."

Dampak Terhadap Kebijakan Moneter dan Sentimen Investor

Lonjakan harga minyak dan komoditas lain seperti pupuk akibat konflik memperparah kekhawatiran inflasi global. Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) tahun ini pun memudar drastis. Saat ini pasar tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga, bahkan ada peluang 25% kenaikan 25 basis poin pada pertemuan The Fed di Oktober.

Data sentimen konsumen AS terbaru juga menunjukkan penurunan ke level terendah dalam tiga bulan, menambah kekhawatiran atas prospek ekonomi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Bursa Saham Eropa Juga Tertekan

Pasar saham Eropa mengikuti tren negatif Wall Street dengan indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun 0,9%, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Indeks FTSE 100 stagnan, sementara CAC 40 dan DAX masing-masing turun 0,9% dan 1,3%. Investor kebingungan menanggapi berita saling bertentangan mengenai negosiasi damai di kawasan Timur Tengah.

Presiden Trump mengumumkan perpanjangan penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, di tengah klaim bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz sebagai "hadiah" untuk AS, meskipun belum ada komentar resmi dari Teheran.

Selain itu, pertemuan menteri luar negeri G7 di Prancis membahas perang di Iran dan Ukraina, meskipun Afrika Selatan yang dijadwalkan hadir sebagai pengamat mendapat penolakan karena tekanan AS.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tekanan hebat yang dialami Wall Street dan bursa Eropa bukan sekadar dampak langsung dari lonjakan harga minyak, melainkan juga refleksi dari ketidakpastian geopolitik yang kian mengkhawatirkan. Perpanjangan tenggat waktu serangan oleh Presiden Trump sesungguhnya memperpanjang bayang-bayang risiko konflik yang dapat melumpuhkan pasokan energi global.

Pasar saat ini sedang menunggu sinyal konkret terkait penyelesaian konflik AS-Iran, bukan hanya pernyataan yang bersifat sementara. Jika ketegangan terus berlanjut, tekanan pada pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global bisa semakin dalam. Investor harus waspada terhadap potensi volatilitas yang masih akan berlangsung, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS yang dapat mempengaruhi arah kebijakan pemerintahan berikutnya.

Selanjutnya, perkembangan di Selat Hormuz sangat krusial untuk dipantau karena jalur ini adalah pintu gerbang utama minyak dunia. Gangguan jangka panjang berpotensi mengubah peta pasar energi global dan memperparah inflasi, memaksa bank sentral mengambil kebijakan moneter lebih ketat lagi.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini, simak terus perkembangan di CNBC Indonesia serta situs berita terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad