Warga Iran Menyesal Dukung Serangan AS-Israel, Dampak Perang Membawa Penderitaan
Sejumlah warga Iran kini mengungkapkan penyesalan mendalam atas dukungan mereka terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang bertujuan menggulingkan pemerintahan rezim Republik Islam Iran. Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini ternyata memberikan dampak besar yang jauh lebih merugikan kehidupan rakyat dibandingkan perubahan politik yang diharapkan.
Dampak Serangan AS-Israel yang Membuat Warga Menyesal
Perang yang pecah antara AS-Israel dengan Iran ini dimulai setelah protes besar-besaran warga Iran menentang pemerintahan saat ini mencapai puncaknya pada Januari lalu. Presiden AS, Donald Trump, bahkan sempat menyatakan bahwa bantuan akan segera datang untuk mendukung demonstran. Namun, meski serangan militer berlangsung selama hampir dua bulan, rezim Iran yang saat ini dipimpin Mojtaba Khamenei tetap bertahan.
Kerusakan infrastruktur yang luas menjadi beban berat bagi rakyat Iran. Serangan menghancurkan sejumlah fasilitas penting seperti jembatan, jalur kereta api, depot minyak, pabrik baja, fasilitas petrokimia, sinagoge, rumah sakit, kampus dan sekolah, hingga ratusan bisnis. Kerusakan ini bukan hanya dirasakan oleh pendukung rezim, tetapi juga oleh mereka yang sebelumnya menentang pemerintah dan bahkan yang mendukung serangan tersebut.
"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya pikir Republik Islam akhirnya akan hancur," ungkap Leila, 25 tahun, yang namanya disamarkan demi keselamatan. "Saya bahkan berpikir AS dan Israel telah sepakat dengan Reza Pahlavi tentang masa depan Iran. Tapi saya tidak menyangka serangan ini malah merusak banyak fasilitas penting," tambahnya.
Leila mempertanyakan alasan di balik penghancuran fasilitas vital yang justru memperburuk kondisi negara. "Mengapa mereka menyerang jembatan? Mengapa menghancurkan jalur kereta api? Bagaimana itu bisa membantu mengubah pemerintahan?" katanya dengan nada kecewa.
Kerugian Nyata dan Kehilangan yang Dialami Warga
Ali, 29 tahun, juga merasakan dampak langsung dari perang ini. Awalnya dia mendukung perubahan dengan cara kekerasan, berharap sistem bisa berubah. Namun, kenyataan pahit datang saat pemerintah Iran melaporkan sebanyak 3.117 orang tewas, termasuk demonstran, pasukan keamanan, dan warga sipil. Lembaga HAM berbasis AS, Human Rights Activists News Agency, memperkirakan angka kematian mencapai 7.015 orang.
"Mereka mengatakan akan menargetkan situs militer dan orang tertentu. Kami pikir teknologi mereka cukup canggih untuk menghindari warga sipil," kata Ali. "Mungkin ketika mereka menyadari mereka tidak bisa mengubah sistem, mereka mulai menyerang semuanya. Atau mungkin saya hanya naif," ujarnya.
Kehancuran rumah tangga dan kehilangan tempat tinggal membuat Ali merasakan langsung penderitaan perang. "Rumah kami rata dengan tanah. Kami beruntung bisa selamat, tapi sekarang kami tidak punya tempat tinggal," katanya.
Tidak Semua Warga Anti Pemerintah Mendukung Perang
Meski ada yang mendukung serangan, tidak sedikit warga Iran yang menolak perang karena menyadari dampak buruknya bagi rakyat dan pembangunan negara.
"Hanya orang buta yang bisa berpikir bahwa perang yang dimulai oleh Trump dan Netanyahu akan membawa kita kebebasan," tegas Maryam, 47 tahun, nama samaran. "Bukankah kita melihat Gaza, Lebanon, dan Suriah? Bagaimana mungkin ada yang berpikir ini akan berbeda?"
Maryam juga mengecam warga Iran yang mendukung perang sambil mengabaikan kehancuran dan penderitaan yang dialami sesama warga. "Saya tidak bisa memaafkan mereka yang mengatakan dukungan mereka tak berhubungan dengan serangan AS-Israel, padahal Trump sendiri mengatakan warga Iran menyambut pemboman itu," katanya geram.
Reza Pahlavi dan Politik di Tengah Konflik
Abbas, 54 tahun, beranggapan bahwa serangan ini juga meruntuhkan karier politik Reza Pahlavi, tokoh oposisi yang dianggapnya rela mengorbankan rakyat demi kekuasaan. Menurut Abbas, Pahlavi tidak pernah mengutuk serangan AS dan Israel yang merusak infrastruktur negara.
"Ia mencoba segala bentuk sanjungan agar Trump menganggapnya serius. Namun ketika kesepakatan tercapai antara Washington dan Teheran, ia menjadi lebih tercela daripada sebelumnya," ungkap Abbas. "Saya harap para pendukungnya mengerti bahwa seseorang yang rela melihat rakyatnya terbunuh dan negaranya hancur tidak bisa diandalkan sebagai pemimpin."
Harapan Gencatan Senjata dan Masa Depan Iran
Niloufar, 34 tahun, warga Teheran, mengaku sulit percaya bahwa gencatan senjata benar-benar akan membawa perdamaian. Selama masa perang, suara jet tempur dan ledakan masih sering terdengar di sekelilingnya.
"Ketika gencatan senjata diumumkan, rasanya seperti beban terangkat dari dada saya. Untuk pertama kalinya dalam 40 hari, saya bisa tidur nyenyak," ujarnya.
Konflik ini meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana Iran dapat membangun kembali negaranya setelah kehancuran besar-besaran serta bagaimana rakyatnya dapat bangkit dari duka dan kerugian. Menurut laporan CNN Indonesia, perjuangan rakyat Iran masih jauh dari selesai dan masa depan politik negara ini masih penuh ketidakpastian.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penyesalan warga Iran yang semula mendukung serangan AS-Israel ini menunjukkan bahwa konflik militer tidak pernah menjadi solusi efektif untuk masalah politik dalam negeri sebuah negara. Alih-alih menggulingkan rezim yang berkuasa, serangan tersebut justru memperparah penderitaan rakyat sipil dan menghancurkan infrastruktur vital yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari dan pembangunan.
Lebih jauh, cerita ini mengungkapkan ironi politik di mana harapan perubahan melalui kekerasan berakhir dengan kerugian besar bagi rakyat yang tidak bersalah. Dukungan terhadap intervensi militer luar negeri ternyata berisiko menimbulkan dampak yang jauh dari perkiraan, terutama ketika aktor politik oposisi seperti Reza Pahlavi gagal memberikan alternatif yang jelas dan justru terlihat opportunistik.
Ke depan, warga Iran dan komunitas internasional harus lebih waspada terhadap janji-janji yang diiringi dengan kekerasan dan kerusakan. Perjuangan menuju perubahan harus ditempuh dengan cara yang lebih damai dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan. Kami akan terus memantau perkembangan situasi di Iran dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0