Menteri Angkatan Laut AS John Phelan Mundur di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Apr 23, 2026 - 20:52
 0  7
Menteri Angkatan Laut AS John Phelan Mundur di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), John Phelan, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu, 22 April 2026, di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz dan konflik antara AS-Israel melawan Iran. Pengumuman pengunduran diri ini disampaikan oleh Pentagon melalui juru bicaranya, Sean Parnell, yang menyatakan bahwa pengunduran diri Phelan berlaku efektif segera.

Ad
Ad

Jabatan yang sebagian besar bersifat administratif ini kini akan diisi oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Hung Cao, sambil menunggu penunjukan resmi berikutnya.

Faktor di Balik Pengunduran Diri John Phelan

Phelan menjadi pejabat militer berpangkat tinggi terbaru yang mundur dalam beberapa bulan terakhir. Berbeda dari pengumuman resmi yang minim detail, berbagai media AS melaporkan adanya ketegangan internal dalam kepemimpinan militer AS sebagai faktor utama pengunduran dirinya. Ketegangan ini terkait dengan pelaksanaan program pembangunan kapal perang baru yang diinisiasi Presiden Donald Trump.

"Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Phelan atas pengabdiannya kepada Departemen dan Angkatan Laut AS," ujar Sean Parnell. "Kami mendoakan yang terbaik bagi masa depannya."

Pengunduran diri ini juga terjadi hanya beberapa pekan setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, secara terbuka meminta Kepala Staf Angkatan Darat Randy George untuk mundur. Sebelumnya, sejumlah perwira senior militer, termasuk Jenderal David Hodne dan Mayor Jenderal William Green, juga dicopot dari jabatannya dalam rangka restrukturisasi yang disebut-sebut dipimpin Hegseth.

Kontroversi Program "Golden Fleet" dan Peran John Phelan

John Phelan, yang dilantik sebagai Menteri Angkatan Laut pada Maret 2025, merupakan warga sipil dan pengusaha yang sebelumnya tidak pernah bertugas di militer. Ia dikenal sebagai donor besar kampanye Presiden Trump dan menjadi andalan Trump untuk mengawasi program ambisius armada kapal perang baru yang dinamakan "Golden Fleet". Armada ini dirancang untuk memperkuat kekuatan maritim AS dengan kapal-kapal yang dipersenjatai dan dinamai sesuai figur penting, termasuk Presiden Trump sendiri.

Phelan bertugas mengelola kebijakan administratif Angkatan Laut, mulai dari perekrutan, pelatihan, hingga pengadaan dan perbaikan kapal perang. Namun, menurut sejumlah sumber, ketidaksepakatan Phelan dengan Menteri Pertahanan Hegseth mengenai arah dan pelaksanaan program pembangunan kapal menjadi sumber utama konflik yang berujung pada pengunduran dirinya.

"Pada akhirnya, seseorang akan dijadikan kambing hitam atas kurangnya kemajuan. Saya kira itu sekitar 30% alasannya," ujar Andrew Peek, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS, kepada BBC. "Sisanya 70% adalah penggantian dengan seseorang yang lebih disukai dan dipercaya presiden."

Siapa Hung Cao, Pengganti John Phelan?

Hung Cao, yang resmi menggantikan Phelan sebagai Menteri Angkatan Laut, telah menjabat sebagai Wakil Menteri Angkatan Laut sejak Oktober 2025. Cao adalah veteran Angkatan Laut dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dan pernah mencalonkan diri sebagai senator AS di Virginia dengan dukungan Donald Trump pada 2024, walau akhirnya kalah dari senator petahana.

Selama kampanye, Cao dikenal kritis terhadap inisiatif keberagaman dan inklusi di militer. Dalam sebuah debat, ia menekankan pentingnya perekrutan personel dengan karakter "laki-laki alfa dan perempuan alfa" yang siap berkorban demi kemenangan dalam peperangan.

Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya

Pengunduran diri Phelan dan pergantian pejabat ini terjadi di tengah blokade ketat AS terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global yang sangat vital. Bahkan setelah ada gencatan senjata dalam konflik, Presiden Trump menegaskan bahwa blokade ini akan tetap dilanjutkan.

Bentrokan antara pihak Iran dan AS terus berlangsung, dengan Iran melaporkan telah menyita dua kapal di selat tersebut. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa presiden merasa puas dengan blokade tersebut dan menilai Iran berada dalam posisi yang sangat lemah.

Sementara itu, ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa "tidak mungkin Selat Hormuz dibuka kembali karena pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata oleh AS dan Israel".

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pengunduran diri Menteri Angkatan Laut AS John Phelan bukan sekadar pergantian pejabat biasa, melainkan cerminan ketegangan dan dinamika politik-militer yang semakin kompleks di pemerintahan AS, terutama dalam konteks kebijakan luar negeri dan militer yang agresif terhadap Iran. Konflik internal yang dilaporkan di Pentagon menunjukkan adanya pergeseran strategi dan prioritas di bawah tekanan Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Selain itu, pergantian ini berpotensi memengaruhi efektivitas pelaksanaan program "Golden Fleet" yang ambisius, di mana keberhasilan atau kegagalannya akan berdampak signifikan terhadap kekuatan maritim AS dalam beberapa tahun ke depan. Dengan Hung Cao yang dikenal memiliki pandangan konservatif dan dukungan kuat dari basis pendukung Trump, kita dapat mengantisipasi kebijakan yang lebih tegas dan mungkin kurang fleksibel dalam manajemen Angkatan Laut.

Dalam konteks geopolitik, blokade berkelanjutan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa ketegangan regional belum akan mereda dalam waktu dekat. Sikap keras AS dan Israel terhadap Iran serta balasan keras dari Iran berisiko memperpanjang konflik yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama harga minyak dunia.

Publik dan pengamat harus terus memantau perkembangan kepemimpinan militer dan dampaknya terhadap kebijakan luar negeri AS, karena perubahan ini tidak hanya berdampak pada dinamika internal Pentagon tapi juga pada peta keamanan global yang sedang berubah cepat.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi sumber langsung di detikNews BBC Indonesia dan laporan terkait dari BBC World.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad