Pasien di Nias Utara Rela Tempuh Puluhan KM Demi Bertemu Dokter Spesialis
Akses layanan kesehatan di Nias Utara masih menjadi tantangan besar bagi warga setempat. Untuk mendapatkan pengobatan dari dokter spesialis, pasien harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dan melewati jalan yang rusak parah. Kondisi ini menunjukkan betapa sulitnya pelayanan medis yang memadai bagi masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.
Perjalanan Berat Pasien Menuju RSUD Tafaeri
Pengalaman nyata dialami oleh Lastiaw Harefa yang harus membawa anaknya, Stephen Lase, berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tafaeri di Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara. Dari rumahnya di Lahewa, ia harus menempuh jarak sekitar 30 hingga 31 kilometer agar anaknya bisa mendapatkan penanganan dari dokter spesialis anak.
"Kalau dari rumah kami ke sini sekitar 30-31 kilometer. Karena di Nias Utara ini rumah sakit yang paling memadai ya di sini," ujar Lastiaw kepada CNBC Indonesia.
Perjalanan tersebut tidak mudah karena kondisi jalan yang rusak parah, terutama sekitar 2,5 sampai 3 kilometer ruas jalan yang berlubang dan rusak sehingga kendaraan harus berjalan sangat lambat. Bahkan untuk melewati ruas jalan rusak ini saja, kendaraan membutuhkan waktu sekitar 15 sampai 20 menit. Kondisi ini tentu menjadi kendala serius, terutama untuk pasien yang membutuhkan penanganan medis cepat, seperti kondisi darurat.
Lastiaw menambahkan, "Kalau pasiennya parah, menjangkau ke sini cukup berat. Jalannya juga ada yang rusak, jadi kadang kewalahan di perjalanan." Awalnya anaknya hanya mengalami demam dan pembengkakan di bibir. Setelah pengobatan di kampung yang hanya tersedia dokter umum tidak menunjukkan perbaikan, mereka memilih membawa Stephen ke RSUD Tafaeri untuk mendapatkan perawatan spesialis.
Perawatan dan Kendala Fasilitas di RSUD Tafaeri
Setibanya di rumah sakit, Stephen langsung mendapat perawatan intensif seperti infus, pemberian obat-obatan, dan injeksi. Menurut Lastiaw, kondisi anaknya mulai membaik sejak dirawat di sana. Ia juga mengungkapkan bahwa proses penggunaan BPJS Kesehatan cukup mudah meski datang tanpa rujukan awal dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Meski demikian, beberapa fasilitas di RSUD Tafaeri masih perlu peningkatan, seperti pendingin ruangan yang sudah rusak dan aliran air yang kurang deras. Lastiaw berharap fasilitas dan akses layanan kesehatan di Nias Utara bisa semakin diperbaiki agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan pengobatan.
Penyakit Kronis Jadi Kasus Dominan di Nias Utara
dr. Davinda Filarshi, dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Tafaeri, menyebutkan bahwa penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan tuberkulosis (TB) paru menjadi kasus yang paling sering ditangani di rumah sakit tersebut. Selain itu, pasien juga datang dengan keluhan gangguan pencernaan seperti dispepsia dan diare, namun penyakit tidak menular tetap mendominasi.
"Yang paling banyak di sini diabetes melitus tipe 2, kemudian hipertensi, dan TB paru," kata dr. Davinda.
Salah satu tantangan utama dalam penanganan penyakit kronis adalah rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengobatan rutin. Banyak pasien takut mengonsumsi obat karena khawatir dapat merusak ginjal, padahal pengobatan teratur justru melindungi organ tersebut. Edukasi kesehatan juga terkendala bahasa karena sebagian masyarakat, terutama yang sudah tua, kurang fasih berbahasa Indonesia sehingga edukasi harus melalui penerjemah.
Keterbatasan Fasilitas Medis dan Harapan Peningkatan Kelas RSUD
Dari sisi fasilitas, RSUD Tafaeri sudah memiliki laboratorium, rontgen, dan USG yang cukup memadai. Namun, beberapa alat kesehatan penting masih kurang, seperti layanan patologi anatomi untuk pemeriksaan jaringan yang diperlukan dalam diagnosis kanker. Saat ini pasien dengan kecurigaan kanker harus dirujuk ke Medan. Selain itu, alat CT scan di wilayah Nias juga sedang mengalami kerusakan, sehingga pemeriksaan lanjutan terbatas.
RSUD Tafaeri sedang dipersiapkan untuk naik kelas dari tipe D menjadi tipe C, yang diharapkan dapat memperluas layanan, menambah jumlah dokter spesialis, serta meningkatkan fasilitas medis. Dengan peningkatan kelas ini, diharapkan rumah sakit mampu menyediakan layanan spesialis yang lebih lengkap, seperti penyakit dalam, anak, bedah, kebidanan, dan anestesi.
"Harapannya dokter spesialis makin lengkap di sini, sehingga layanan kesehatan untuk masyarakat bisa semakin baik," ujar dr. Davinda.
Dengan penguatan fasilitas dan SDM medis, kebutuhan rujukan pasien ke luar daerah seperti Kota Gunungsitoli atau Medan dapat diminimalisir, meningkatkan kualitas layanan kesehatan di wilayah kepulauan yang selama ini mengalami keterbatasan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kondisi akses layanan kesehatan di Nias Utara menggambarkan kesenjangan yang masih terjadi di wilayah kepulauan Indonesia. Perjalanan puluhan kilometer dengan infrastruktur jalan yang buruk bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berisiko fatal terutama pada kasus darurat medis. Ini menggarisbawahi perlunya investasi infrastruktur yang tidak hanya sebatas fasilitas medis, tapi juga akses jalan yang memadai.
Selain itu, rendahnya pemahaman masyarakat tentang penyakit kronis dan pengobatan rutin menunjukkan bahwa edukasi kesehatan harus menjadi prioritas. Pendekatan yang sensitif budaya dan bahasa lokal sangat krusial untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mengurangi komplikasi penyakit.
Ke depan, perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan harus fokus pada peningkatan kelas rumah sakit serta pengadaan alat medis penting agar layanan kesehatan di Nias Utara tidak lagi menjadi beban berat bagi masyarakat. Melengkapi fasilitas dan tenaga spesialis akan menjadi game-changer bagi kualitas hidup warga di wilayah ini.
Terus ikuti perkembangan terbaru seputar peningkatan layanan kesehatan di Nias Utara agar Anda mendapatkan informasi terpercaya dan terkini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0