Pemkot Surabaya Bangun Rumah Pompa Baru untuk Atasi Banjir Ketintang-Margorejo

Apr 26, 2026 - 21:20
 0  7
Pemkot Surabaya Bangun Rumah Pompa Baru untuk Atasi Banjir Ketintang-Margorejo

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah strategis untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap terjadi di kawasan Ketintang dan Margorejo. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial hanya di satu titik, melainkan harus menyentuh akar permasalahan di sisi hulu dengan melakukan penataan ulang aliran air (catchment area).

Ad
Ad

Strategi Pengalihan Aliran Air dan Penataan Catchment Area

Selama ini, aliran air dari daerah Jambangan hingga Karah menumpuk di kawasan Margorejo, yang menyebabkan titik-titik genangan dan banjir. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya diinstruksikan untuk melakukan pengalihan arus air secara signifikan.

"Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang," ujar Eri Cahyadi di Surabaya, Minggu (26/4).

Lebih lanjut, Pemkot merencanakan pembalikan arah arus dari Ketintang Baru agar air dapat dialirkan kembali ke saluran Kebon Agung melalui Central Park di kawasan Ahmad Yani dan Mang Kabayan (area Ketintang). Dengan langkah ini, saluran di Margorejo sampai Prapen akan menjadi titik penampung debit air dari pemukiman setempat saja, bukan lagi menjadi titik penumpukan air dari wilayah lain.

Pembangunan Rumah Pompa Baru di Pulo Wonokromo

Untuk mengurangi genangan di sekitar Royal Plaza dan Kantor Telkom Ketintang, Pemkot Surabaya akan membangun rumah pompa baru di bantaran Kali Surabaya, tepatnya di wilayah Pulo Wonokromo.

"Saya sudah meminta izin ke BBWS untuk menggunakan lahan sekitar 3-4 rumah warga untuk membangun pompa, supaya air dari area Telkom bisa segera ditarik ke sungai, sehingga tidak terjadi genangan di Ketintang," jelas Eri Cahyadi.

Kompleksitas dan Tahapan Penanganan Banjir

Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa persoalan genangan di Ketintang, Gayungsari, hingga Karah cukup kompleks dan tidak dapat diselesaikan sekaligus dalam waktu singkat.

"Banjir ini kompleks, tidak bisa selesai dalam satu tahun berjalan karena ada tahapan-tahapannya. Problem utamanya adalah beban air dari barat atau tol semuanya lari ke arah timur, ke Wonorejo," katanya.

DSDABM akan menindaklanjuti arahan Wali Kota dengan mengalihkan arus air secara signifikan, menghentikan beban di Avur Wonorejo dan membuat sodetan menuju Sungai Kebon Agung. Kapasitas saluran menuju Prapen yang semakin terbatas menjadi alasan utama langkah ini diambil. Dengan membagi beban aliran ke arah selatan, diharapkan genangan di sejumlah titik seperti Ketintang, Karah, dan Gayungsari dapat berkurang secara signifikan.

"Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo kita hentikan, lalu kita potong langsung ke arah selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan begitu, volume air yang lari ke saluran Prapen akan berkurang drastis," pungkas Adi Gunita.

Target Penyelesaian dan Harapan ke Depan

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menargetkan agar DSDABM dapat menyelesaikan pengalihan aliran air ini sebelum akhir Oktober 2026. Dengan selesainya proyek ini, diharapkan permasalahan banjir di wilayah Ketintang hingga Margorejo dapat teratasi, sehingga mengurangi risiko genangan yang merugikan warga dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, upaya Pemkot Surabaya untuk membangun rumah pompa baru dan mengalihkan aliran air secara strategis merupakan langkah yang sangat krusial dalam menanggulangi banjir yang selama ini menjadi momok bagi warga Ketintang dan Margorejo. Penanganan yang menyentuh akar masalah di hulu aliran air memperlihatkan bahwa Pemkot tidak hanya berfokus pada solusi jangka pendek, tetapi juga memikirkan keberlanjutan pengelolaan air di masa depan.

Namun, kompleksitas masalah yang diungkap oleh Kepala Bidang Drainase DSDABM menunjukkan bahwa penanganan banjir ini membutuhkan koordinasi lintas sektor dan kesabaran masyarakat karena tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Pengalihan aliran air yang tepat dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti rumah pompa merupakan fondasi penting, tetapi perlu didukung dengan pemeliharaan berkala dan edukasi warga agar kawasan ini tidak kembali menjadi langganan banjir di masa depan.

Ke depan, publik perlu terus memantau progres pembangunan ini dan memastikan bahwa target Oktober 2026 dapat tercapai. Selain itu, integrasi dengan program pengelolaan air yang lebih luas di Surabaya akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut dan perkembangan terkini, Anda dapat mengunjungi laman resmi Pemkot Surabaya atau berita terpercaya seperti JawaPos.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad