Musik AI Menguasai Platform Streaming, Tapi Minat Pendengar Terus Turun

May 2, 2026 - 20:20
 0  4
Musik AI Menguasai Platform Streaming, Tapi Minat Pendengar Terus Turun

Musik berbasis kecerdasan buatan (AI) kini semakin banyak membanjiri platform streaming global. Namun, minat dan kenyamanan pendengar terhadap musik AI justru semakin menurun, terutama di kalangan generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha, menurut laporan terbaru dari perusahaan riset musik dan hiburan Luminate.

Ad
Ad

Penurunan Minat Musik AI di Kalangan Pendengar Muda

Dalam studi yang membandingkan sikap pendengar terhadap penggunaan AI dalam penciptaan musik dari Mei hingga November 2025, ditemukan bahwa minat keseluruhan terhadap musik AI turun dari -13% menjadi -20%. Audrey Schomer, analis media sekaligus penulis laporan "Generative AI in Entertainment 2026: Examining Changes in Industry Strategies, Legal Challenges & Consumer Attitudes," menjelaskan:

"Secara umum, kami menemukan bahwa konsumen memiliki sikap negatif. Artinya, lebih banyak orang yang merasa tidak nyaman daripada nyaman terhadap penggunaan AI."

Laporan tersebut mencakup sikap terhadap penggunaan AI parsial, seperti penulisan lirik atau vokal, serta komposisi atau pertunjukan musik yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI, dengan komposisi penuh yang cenderung mendapat penilaian lebih negatif. Sekitar sepertiga responden menunjukkan sikap netral terhadap musik AI, namun yang mencolok adalah perubahan sikap dari positif menjadi negatif dalam kurun waktu tersebut.

Ledakan Konten AI di Platform Streaming dan Tantangan yang Muncul

Fenomena ini bertepatan dengan meningkatnya konten generatif AI di media sosial dan platform streaming. Pada tahun lalu, perusahaan asal Prancis, Deezer, meluncurkan alat deteksi AI untuk melacak dan memberi label konten "sintetis" yang diunggah. Menurut laporan terbaru Deezer, sekitar 44% unggahan harian sekarang berupa lagu yang dihasilkan AI. Namun, dari sisi perilaku mendengarkan, lagu AI hanya menyumbang kurang dari 3% total streaming, dan sebagian besar streaming tersebut dinilai sebagai aktivitas palsu yang kemungkinan besar dilakukan oleh bot.

Deezer mengonfirmasi bahwa mereka melakukan demonetisasi terhadap streaming yang dianggap tidak sah tersebut.

Sementara itu, para musisi dan pegiat industri musik menyuarakan kekhawatiran terkait dampak lonjakan konten AI terhadap pendapatan musisi asli. Model royalti pro rata yang digunakan oleh Spotify, Apple Music, dan platform lain membuat royalti dibagi berdasarkan persentase streaming total, sehingga konten AI yang melimpah dipandang mengencerkan pendapatan musisi sungguhan. Pada Februari 2026, sejumlah kelompok hak musisi global mengirim surat terbuka berjudul "Say No To Suno" — merujuk pada salah satu generator lagu AI terbesar — yang menyatakan bahwa konten AI "mengurangi porsi royalti bagi musisi asli yang lagunya dijadikan bahan."

Kontroversi dan Perkembangan Musik AI di Industri

Meski begitu, tidak semua kabar soal musik AI suram. Beberapa proyek musik AI yang mengklaim penggunaan teknologi ini, seperti Xania Monet dan Breaking Rust, berhasil menembus tangga lagu Billboard. Monet, avatar buatan yang mengubah puisi penyair Mississippi Telisha "Nikki" Jones menjadi komposisi R&B menggunakan Suno, bahkan menandatangani kontrak rekaman multimiliar dolar pada musim gugur 2025.

Namun, perkembangan ini juga menimbulkan kekhawatiran serius dari beberapa penyanyi. Penyanyi R&B SZA mengaku merasa "berperang" dengan AI dan jenis konten yang dihasilkan, terutama yang menyasar musik Black. Ia menyatakan:

"Ini terjadi secara tidak proporsional pada musik Black. Mengapa saya mendengar cover AI dari Olivia Dean yang baru saja debut? Dia bahkan tidak mendapat royalti dari streaming itu. Saya juga tersinggung dengan jenis musik Black yang dihasilkan AI, stereotip perjuangan yang aneh."

Schomer menyebut bahwa suara dari musisi yang menentang AI bisa jadi memengaruhi perubahan sikap pendengar, apalagi jika mereka merasa terikat dengan artis-artis tersebut. Selain itu, fenomena AI fatigue atau kelelahan mental karena penggunaan AI yang berlebihan juga mungkin turut berperan, terutama bagi generasi muda yang menghadapi kecemasan soal lapangan kerja yang makin dipengaruhi AI.

Isu Hak Cipta dan Masa Depan Musik AI

Laporan Luminate juga menyoroti sikap negatif pendengar terhadap lagu-lagu AI yang dibuat meniru gaya atau suara artis tertentu. Generator lagu AI besar seperti Suno dan Udio menghadapi gugatan hak cipta karena menggunakan karya artis tanpa izin. Namun, beberapa label besar seperti Warner Music Group dan Universal Music Group telah menandatangani kesepakatan lisensi dengan alat AI ini untuk mengkompensasi artis dan penulis lagu yang setuju suara atau gaya mereka digunakan.

Bulan lalu, Taylor Swift mengajukan beberapa paten merek dagang yang diduga bertujuan melindungi suara dan citranya dari penggunaan tanpa izin oleh teknologi AI.

Ke depan, beberapa generator musik dan layanan streaming seperti Spotify berencana menawarkan fitur interaktif yang memungkinkan penggemar mengubah dan remix lagu menggunakan AI. Namun, menurut Schomer, membangun kepercayaan pengguna terhadap fitur ini tidak mudah karena penurunan minat terbesar terjadi pada penggunaan AI untuk membuat musik baru yang meniru artis asli.

"Ini merupakan tantangan besar bagi platform layanan untuk menarik pengguna dan membuktikan bahwa ini membawa dampak positif bagi industri."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan minat pendengar terhadap musik AI mencerminkan ketidakpastian dan kekhawatiran yang mendalam di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang menjadi target utama industri musik digital. Di satu sisi, AI menawarkan peluang inovasi dan kreativitas baru, namun di sisi lain menimbulkan tantangan serius terkait keaslian, royalti, dan keberlangsungan karier musisi asli.

Lebih jauh, pergeseran sikap negatif ini berpotensi memaksa platform streaming dan pembuat konten AI untuk mengevaluasi kembali strategi mereka, terutama dalam hal transparansi penggunaan AI dan perlindungan hak cipta. Jika tidak direspons dengan bijak, potensi "AI fatigue" dan kekecewaan pendengar bisa menghambat adopsi teknologi ini secara luas.

Publik dan pelaku industri patut mengawasi secara seksama bagaimana regulasi dan inovasi teknologi AI akan berkembang, serta bagaimana hal itu akan memengaruhi ekosistem musik di masa depan. Kepekaan terhadap suara musisi dan preferensi pendengar menjadi kunci agar musik AI bisa diterima secara berkelanjutan.

Untuk informasi lengkap dan detail, baca laporan asli di NPR dan pantau terus perkembangan terbaru di media resmi industri musik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad