Ebola Jadi Darurat Global, Kemenkes Imbau Hindari Konsumsi Daging Mentah dan Hewan Liar

May 19, 2026 - 11:54
 0  4
Ebola Jadi Darurat Global, Kemenkes Imbau Hindari Konsumsi Daging Mentah dan Hewan Liar

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meningkatkan kewaspadaan nasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Imbauan utama yang disampaikan pemerintah adalah agar masyarakat menghindari konsumsi daging mentah maupun hewan liar guna menekan risiko penularan virus Ebola yang mematikan.

Ad
Ad

Kewaspadaan Kemenkes dan Imbauan Konsumsi Makanan Aman

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan agar masyarakat hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak sampai matang.

"Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar,"
ujar Aji pada Minggu (17/5), seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Imbauan ini merupakan respons terhadap pengumuman WHO yang menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global. Langkah ini menandai tingkat keparahan wabah yang membutuhkan perhatian dan koordinasi internasional.

Perkembangan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa hingga kini telah tercatat lebih dari 300 kasus suspek Ebola dengan 88 kematian. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa wabah ini belum mencapai tingkat pandemi seperti Covid-19 dan belum merekomendasikan penutupan perbatasan internasional.

Wabah ini dipicu oleh Bundibugyo ebolavirus, salah satu strain Ebola yang tergolong langka dan belum memiliki vaksin atau terapi spesifik yang disetujui. Virus ini pertama kali teridentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, pada wabah tahun 2007-2008 dan kini kembali memicu lonjakan kasus besar di tahun 2026.

Kesiapsiagaan Nasional dan Upaya Pencegahan

Pemerintah Indonesia memperkuat kesiapsiagaan nasional untuk mencegah masuknya kasus Ebola ke dalam negeri. Aji Muhawarman menjelaskan bahwa pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional diperketat dengan berbagai metode, antara lain:

  • Penggunaan thermal scanner di pintu masuk negara,
  • Observasi visual terhadap gejala suspect,
  • Pemanfaatan aplikasi All Indonesia untuk pelacakan dan pemantauan.

Selain itu, Kemenkes telah menyiapkan 198 rumah sakit rujukan dalam jejaring layanan pengendalian Penyakit Infeksi Emerging (PIE) serta melakukan penguatan surveilans di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi.

Pemerintah juga meningkatkan kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, serta koordinasi lintas sektor bersama WHO dan pihak terkait lainnya. Masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, memakai masker saat sakit atau berada di tempat umum, serta menjaga etika batuk dan bersin.

Imbauan Masyarakat dan Pencegahan Penularan

Masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan orang, hewan, maupun benda yang diduga terkontaminasi virus. Langkah ini penting untuk menekan risiko penularan Ebola yang bisa menimbulkan gejala berat seperti demam, kerusakan organ, hingga perdarahan internal.

Menurut WHO, virus Ebola yang menyebar kali ini belum memiliki vaksin yang disetujui, sehingga pencegahan melalui penghindaran faktor risiko menjadi kunci utama. Menurut laporan WHO, strain Bundibugyo ebolavirus memang jarang muncul namun berpotensi menimbulkan wabah serius.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penetapan Ebola sebagai darurat kesehatan global oleh WHO menandakan betapa seriusnya potensi penyebaran virus ini, terutama mengingat belum adanya vaksin khusus untuk strain Bundibugyo. Kewaspadaan tinggi dan langkah-langkah pencegahan yang tegas dari pemerintah sangat krusial untuk mencegah kasus masuk ke Indonesia, mengingat mobilitas internasional yang tinggi.

Selain itu, imbauan menghindari konsumsi daging mentah dan hewan liar bukan hanya soal pencegahan Ebola, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis—penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Kebiasaan konsumsi makanan yang tidak higienis dapat membuka pintu bagi berbagai penyakit infeksi lain yang berpotensi menimbulkan krisis kesehatan.

Ke depan, pembaca perlu terus memantau informasi resmi dari Kemenkes dan WHO terkait perkembangan wabah ini. Kesiapsiagaan nasional harus terus ditingkatkan, termasuk edukasi masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Wabah Ebola yang sedang terjadi mengingatkan kita akan pentingnya kolaborasi internasional dalam penanganan penyakit menular dan perlunya investasi berkelanjutan pada sistem kesehatan global untuk mencegah krisis yang lebih besar di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad