Kecelakaan Pesawat 2025 Lebih Mematikan Meski Jumlahnya Lebih Sedikit dari 2024

Mar 10, 2026 - 16:50
 0  4
Kecelakaan Pesawat 2025 Lebih Mematikan Meski Jumlahnya Lebih Sedikit dari 2024

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) melaporkan bahwa meskipun jumlah kecelakaan pesawat pada tahun 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat fatalitas kecelakaan pesawat justru meningkat signifikan. Total korban jiwa mencapai 394 orang dari delapan kecelakaan fatal sepanjang tahun 2025, naik dari 244 korban jiwa akibat tujuh kecelakaan fatal pada tahun 2024.

Ad
Ad

Kecelakaan Fatal yang Menjadi Sorotan IATA

IATA menyoroti dua kecelakaan dengan korban jiwa terbanyak yang berkontribusi besar terhadap angka fatalitas tersebut. Pertama, kecelakaan pesawat Boeing 787 Dreamliner Air India 171 yang jatuh di Ahmedabad, India, pada Juni 2025, menewaskan 241 penumpang. Kedua, tabrakan antara pesawat Bombardier CRJ700 yang dioperasikan anak perusahaan American Airlines dengan helikopter militer di Amerika Serikat pada Januari 2025 yang menewaskan 64 orang di dalam pesawat.

Meski begitu, IATA hanya menghitung korban jiwa dari pesawat penumpang dan tidak memasukkan korban di darat atau awak helikopter militer yang juga tewas dalam insiden tersebut.

Statistik Kecelakaan dan Tren Keselamatan Penerbangan

Tahun 2025 mencatat 51 kecelakaan dari 38,7 juta penerbangan, sedikit menurun dari 54 kecelakaan dari 37,9 juta penerbangan pada tahun 2024. Tingkat kecelakaan per juta penerbangan turun menjadi 1,32 dibandingkan 1,42 pada 2024. Namun, angka ini masih sedikit lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir (2021-2025) yang sebesar 1,27 kecelakaan per juta penerbangan.

IATA menggarisbawahi peningkatan signifikan dalam keselamatan penerbangan selama 15 tahun terakhir, dengan kejadian kecelakaan fatal turun dari satu kecelakaan setiap 3,5 juta penerbangan pada 2012-2016 menjadi satu kecelakaan setiap 5,6 juta penerbangan saat ini. Peningkatan ini dikaitkan dengan kemajuan teknologi dan pelatihan pilot yang lebih baik.

Kecelakaan paling umum saat ini adalah tailstrike — kondisi ketika ekor pesawat menyentuh landasan saat pendaratan atau lepas landas — dan masalah pada roda pendaratan.

Kesaksian Satu-Satunya Korban Selamat Kecelakaan Air India 171

Viswashkumar Ramesh, warga negara Inggris, menjadi satu-satunya penumpang yang selamat dari kecelakaan Air India 171. Pesawat tersebut menabrak bangunan tak lama setelah lepas landas di Ahmedabad, menewaskan 241 orang. Ramesh duduk di kursi 11A dekat pintu darurat, yang memungkinkannya keluar dari reruntuhan.

"Sangat menyakitkan berbicara tentang kecelakaan itu," kata Ramesh dalam wawancara dengan Sky News. Ia menggambarkan trauma fisik dan psikologis yang masih ia rasakan, termasuk nyeri lutut, bahu, punggung, serta luka bakar di lengannya.

Ramesh tinggal bersama istri dan putranya di Leicester, Inggris. Ia mengaku masih mengalami kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan bantuan, termasuk dari keluarganya. Ia didampingi oleh penasihat dan tokoh masyarakat setempat dalam upaya pemulihan.

Tuntutan Tanggung Jawab dan Dukungan dari Maskapai

Ramesh dan keluarganya menuntut tanggung jawab dari Air India atas dampak kecelakaan tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa kompensasi yang ditawarkan Air India sebesar 21,5 ribu pound sterling (sekitar Rp 468 juta) dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama masa pemulihan.

Mereka mengajukan permintaan agar Air India memberikan dukungan lebih dari sekadar uang tunai, termasuk dukungan medis, psikologis, dan bantuan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga berharap kepala eksekutif Air India dapat bertemu langsung untuk mendengarkan pengalaman dan perjuangan para korban.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, data IATA yang menunjukkan kenaikan fatalitas meskipun jumlah kecelakaan menurun menandakan bahwa insiden besar dengan korban banyak menjadi faktor dominan dalam statistik 2025. Hal ini menyoroti pentingnya fokus tidak hanya pada jumlah kecelakaan, tetapi juga pada dampak korban jiwa yang terjadi dalam setiap insiden.

Kecelakaan Air India 171, dengan korban jiwa yang sangat besar, menjadi pengingat keras bahwa meskipun teknologi dan pelatihan sudah semakin maju, risiko kecelakaan pesawat dengan konsekuensi tragis masih ada. Ini menuntut peningkatan berkelanjutan dalam pengawasan keselamatan, teknologi pencegahan, serta kesiapan tanggap bencana.

Lebih jauh, kisah korban selamat seperti Ramesh memperlihatkan sisi kemanusiaan yang sering terlupakan dalam statistik resmi. Perlunya tanggung jawab sosial dan dukungan holistik dari maskapai kepada korban dan keluarganya harus menjadi perhatian utama agar pemulihan mereka dapat berjalan optimal.

Ke depan, publik dan industri penerbangan harus terus mengawasi laporan keselamatan dan mendorong transparansi serta keadilan bagi korban kecelakaan. Perbaikan sistem keselamatan tidak hanya soal menurunkan angka kecelakaan, tetapi juga meminimalkan dampak tragis saat kecelakaan terjadi.

Ikuti terus perkembangan terbaru seputar keselamatan penerbangan dan kisah korban kecelakaan pesawat hanya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad