Kejiwaan PM Netanyahu: Profil Agresif dan Manipulatif dari Psikolog Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan bukan hanya karena perannya dalam politik, tetapi juga terkait profil psikologisnya yang baru-baru ini diungkap oleh psikolog Israel. Psikolog Shaul Kimhi dari Tel-Hai College mempublikasikan analisis mendalam mengenai karakteristik kepribadian Netanyahu, terutama setelah masa jabatan pertamanya sebagai PM pada 1996-1999.
Profil Kejiwaan Netanyahu Menurut Psikolog Israel
Dalam penelitiannya, Kimhi menguraikan bahwa Netanyahu memiliki ciri-ciri yang kuat berupa egosentrisme, ambisi besar, agresi, dan kemampuan manipulasi. Ia menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang memandang dunia politik layaknya arena "hukum rimba", di mana hanya yang kuat yang dapat bertahan dan yang lemah harus tersingkir.
Menurut Kimhi, ambisi dan tekad adalah ciri paling menonjol dalam kepribadian Netanyahu. Keinginannya untuk menjadi yang terbaik, meraih puncak kekuasaan, dan mengalahkan lawan politiknya, menjadi motivasi utama dalam setiap tindakannya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang orator ulung dengan gaya pidato yang kerap membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa bertahan hidup.
Sejarah Keluarga dan Pengaruh Ayahnya Terhadap Kepribadian Netanyahu
Psikolog lain, Dr. Ofer Grozberg dari Tel Aviv University, juga pernah menganalisis karakter Netanyahu. Ia menyoroti bahwa Netanyahu tumbuh dalam keluarga yang sangat ideologis dan keras, terutama dipengaruhi oleh ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang profesor sejarah yang cerdas dan kritis. Ayahnya ini menanamkan nilai bahwa "Jika saya tidak membela diri sendiri, siapa yang akan membela saya?" yang kemudian menjadi landasan sikap keras dan tidak mudah menyerah pada Netanyahu.
Namun, hubungan ayah-anak ini juga bersifat dingin dan penuh tuntutan, tanpa banyak ruang untuk ekspresi emosional atau kerentanan. Netanyahu bahkan pernah menggunakan nama pena ayahnya, "Ben Nitai", sebagai simbol identitasnya di masa muda.
Reaksi dan Kontroversi Terbaru Netanyahu di Tengah Konflik
Belakangan ini, Netanyahu mendapat kritik ketika menyatakan secara enteng bahwa berat badannya hanya berkurang sedikit meski sedang menghadapi kondisi perang. Hal ini terjadi dalam konteks konflik Israel dengan Hamas yang meletus pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 warga Israel. Pernyataan itu dianggap kurang peka terhadap situasi darurat dan memancing reaksi dari lawan politiknya.
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga mengakui bahwa serangan Hamas mengubah pandangannya mengenai doktrin keamanan Israel, terutama terkait pembangunan zona penyangga dalam wilayah musuh. Ia menyatakan telah belajar dari pengalaman dan harus menyesuaikan strategi keamanan negaranya.
Karakter Politik Netanyahu: Agresif dan Manipulatif
Menurut Kimhi, dominasi dan manipulasi yang dilakukan Netanyahu bukan didasari oleh kebencian atau kekejaman, melainkan perhitungan rasional yang dingin untuk mencapai tujuan politiknya. Ia disebut menggunakan segala cara yang dianggap perlu demi kemenangan dan mempertahankan kekuasaannya, bahkan jika itu berarti harus bekerjasama dengan donor atau kontributor yang memiliki pandangan ekstrem berbeda dari dirinya, seperti Sheldon Adelson.
- Egosentrisme: Kesuksesan pribadi di atas ideologi.
- Ambisi dan tekad: Keinginan kuat menjadi yang terbaik dan teratas.
- Agresi dan manipulasi: Melihat politik sebagai arena persaingan keras.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, profil psikologis Netanyahu yang agresif dan manipulatif memberikan gambaran mengapa ia mampu bertahan dan bangkit kembali di panggung politik Israel selama beberapa dekade. Sikap egosentris dan ambisinya yang besar memang menjadi pedang bermata dua; di satu sisi memacu keberhasilan politik, namun di sisi lain dapat memicu ketegangan dan polarisasi di masyarakat.
Lebih jauh, pernyataan enteng mengenai kondisi perang mengindikasikan adanya jarak emosional yang mungkin melekat pada dirinya, sebuah coping mechanism yang diperlukan untuk menghadapi tekanan ekstrem, namun berisiko menimbulkan kritik publik. Hal ini penting untuk diamati ke depannya, terutama dalam konteks konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang membutuhkan sensitivitas dan kepemimpinan yang kuat namun empatik.
Kedepan, publik dan pengamat politik harus memonitor bagaimana karakter dan strategi Netanyahu akan mempengaruhi dinamika keamanan dan politik Israel, terutama saat menghadapi tantangan besar seperti konflik dengan Hamas dan hubungan dengan komunitas internasional.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca langsung sumber asli di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0