IHSG Menguat, Rupiah Perlu Bangkit di Tengah Ketegangan Global dan Ekonomi

Jul 10, 2026 - 12:01
 0  1
IHSG Menguat, Rupiah Perlu Bangkit di Tengah Ketegangan Global dan Ekonomi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), menandakan optimisme pasar saham Indonesia meski ketegangan geopolitik masih membayangi. Namun, di sisi lain, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan dan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menandakan perlunya pemulihan mata uang nasional untuk mendukung stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan.

Ad
Ad

IHSG Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Pada penutupan perdagangan Kamis, IHSG tercatat naik 39,07 poin atau 0,67% ke level 5.912,44, kembali menembus level psikologis 5.900. Penguatan ini didorong oleh sektor barang baku, energi, dan konsumer yang menjadi motor utama, sementara sektor kesehatan, teknologi, properti, dan keuangan masih mengalami tekanan. Dari total saham yang diperdagangkan, 327 saham menguat, 275 melemah, dan 190 stagnan dengan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp10.351 triliun.

Namun, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp689,3 miliar, menandakan adanya kehati-hatian terhadap kondisi global yang penuh risiko.

Rupiah Melemah Tertekan Ketegangan Timur Tengah dan Dolar AS

Berbeda dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru melemah tajam hingga 0,44% ke level Rp18.070/US$, posisi terlemah dalam hampir sebulan terakhir dan kembali menembus level psikologis Rp18.000/US$. Rupiah dibuka melemah dan terus mendapat tekanan sepanjang hari, sempat menyentuh Rp18.095/US$, hampir menembus Rp18.100/US$.

Penguatan dolar AS yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Harga energi yang tinggi meningkatkan kekhawatiran inflasi global, sehingga pasar memprediksi The Fed akan lebih cepat menaikkan suku bunga, memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko termasuk rupiah.

Sentimen Global dan Perang di Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi sentimen utama yang memengaruhi pasar. Militer AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan Iran ke fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Konflik ini meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama 20% pasokan minyak dunia.

Meski demikian, harga minyak dunia pada Kamis justru turun setelah muncul sinyal negosiasi dari Iran ke AS melalui mediator Qatar dan Pakistan. Namun, kondisi ini masih dipenuhi ketidakpastian yang membuat volatilitas pasar tetap tinggi.

Peluncuran B50 dan Dampaknya untuk Ekonomi Indonesia

Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, resmi meluncurkan mandatori B50, yaitu solar dengan campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit. Kebijakan ini diharapkan mengurangi impor solar yang selama ini mencapai 3-4 juta kiloliter per tahun, sekaligus mendukung industri sawit nasional dan mengurangi emisi karbon.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa implementasi B50 akan berlangsung bertahap dengan target alokasi sekitar 16,7-18 juta kiloliter pada 2026, diharapkan menghemat devisa hingga Rp170 triliun per tahun serta menyerap tenaga kerja sekitar 2,1 juta orang.

Proyeksi dan Risiko Ekonomi Global Menurut IMF

Dalam laporan World Economic Outlook Update Juli 2026, IMF memperingatkan adanya empat risiko besar yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global, yaitu:

  • Harga energi yang tetap tinggi, dengan perkiraan harga minyak mencapai US$89 per barel pada 2026.
  • Suku bunga tinggi bertahan lebih lama, karena inflasi global diperkirakan tetap tinggi akibat mahalnya energi dan pangan.
  • Ruang fiskal semakin terbatas, memaksa pemerintah harus mengelola subsidi dan bantuan energi dengan tepat sasaran.
  • Risiko geopolitik meningkat, terutama terkait konflik Timur Tengah yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya sebesar 3,0% pada 2026, turun dari rata-rata 3,5% pada 2024-2025, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dipertahankan pada 5,0% untuk 2026 dan 5,1% pada 2027.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penguatan IHSG merupakan sinyal positif bahwa pasar saham Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, terutama dari sisi geopolitik dan risiko inflasi. Namun, pelemahan rupiah yang cukup tajam menandakan bahwa sentimen negatif dari luar negeri masih sangat kuat dan berpotensi menekan daya beli serta inflasi domestik.

Kebijakan B50 menjadi game-changer bagi perekonomian Indonesia karena selain mengurangi ketergantungan impor energi, juga mampu menyelamatkan devisa dan mendorong sektor agribisnis nasional yang strategis. Namun, pasar juga perlu mewaspadai potensi volatilitas yang tinggi akibat konflik Timur Tengah yang belum mereda serta kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang memperkuat dolar AS.

Ke depan, penguatan rupiah menjadi kunci agar stabilitas pasar keuangan bisa terjaga, sehingga investor domestik dan asing merasa lebih nyaman menempatkan modalnya di Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan moneter dan fiskal yang responsif terhadap dinamika global serta perlindungan terhadap sektor riil harus terus diperkuat.

Untuk pembaca yang ingin memahami lebih dalam dinamika pasar keuangan Indonesia dan global, laporan lengkap CNBC Indonesia dapat menjadi sumber informasi terpercaya.

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, pasar keuangan Indonesia diharapkan tetap resilient dan mampu memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah ketegangan global yang belum usai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad