Walkot Semarang Kebut Pembangunan 5 Embung untuk Perkuat Pengendalian Banjir
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mempercepat pembangunan lima embung dan kolam retensi prioritas sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat pengendalian banjir di wilayah timur Kota Semarang. Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah banjir dan genangan yang telah lama menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Strategi Pengendalian Banjir Semarang Timur
Kelima embung tersebut merupakan bagian dari 20 titik potensi embung dan kolam retensi yang sudah dipetakan dalam Sistem Semarang Timur. Proyek ini melengkapi upaya sebelumnya seperti normalisasi saluran air, pembangunan sistem drainase, dan pengoperasian rumah pompa yang selama ini menjadi andalan pemerintah kota.
"Banjir adalah persoalan yang telah dihadapi Kota Semarang selama bertahun-tahun. Karena itu penyelesaiannya tidak bisa hanya bersifat jangka pendek," tegas Agustina Wilujeng pada Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, penanganan banjir harus dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi, mulai dari penguatan drainase, optimalisasi pompa air, normalisasi sungai, hingga pembangunan embung yang saling terhubung agar manfaatnya maksimal dan berkelanjutan.
Prioritas Pembangunan Lima Embung
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Semarang, Murni Ediati, menjelaskan bahwa kelima embung diprioritaskan berdasarkan kesiapan teknis, kebutuhan penanganan banjir, dan dukungan anggaran. Berikut rincian lima embung tersebut:
- Embung Dung Tungkul di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, menjadi prioritas utama dengan luas 6,473 hektare dan kapasitas tampung 120.000 meter kubik. Proyek ini menelan biaya sekitar Rp 56,75 miliar dan diharapkan dapat mereduksi debit puncak Kali Babon hingga 14,35% serta mengurangi genangan seluas 3,3 hektare di Meteseh dan Rowosari.
- Embung Sembungharjo di Kecamatan Genuk, luas 1,74 hektare dengan kapasitas 52.240 meter kubik, memiliki estimasi biaya Rp 12,5 miliar. Embung ini akan didukung pembangunan saluran tersier terintegrasi senilai Rp 38,7 miliar untuk mengatasi genangan di Sembungharjo dan Karangroto.
- Embung Graha Estetika di Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, diprioritaskan untuk mengurangi genangan di persimpangan Sirojudin dan Tembalang Selatan dengan nilai investasi Rp 6 miliar.
- Kolam Retensi Muktiharjo Kidul 1 dengan anggaran Rp 4,98 miliar.
- Kolam Retensi Muktiharjo Kidul 3 dengan anggaran Rp 1,98 miliar, termasuk pembangunan saluran penghubung inlet dan outlet kawasan senilai Rp 10,835 miliar.
Kelima embung dan kolam retensi ini diproyeksikan mampu mengurangi risiko banjir yang selama ini melanda 23 kelurahan, termasuk Meteseh, Rowosari, Sembungharjo, Karangroto, Tembalang, dan Muktiharjo Kidul.
Manfaat dan Pendekatan Terintegrasi
Agustina Wilujeng menegaskan, pembangunan embung bukan hanya soal mengurangi banjir semata, tetapi juga sebagai investasi infrastruktur yang meningkatkan cadangan air, mendukung ketahanan lingkungan, dan menyediakan ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pemkot Semarang menekankan pendekatan integrasi dalam penanganan banjir, memastikan seluruh perangkat daerah bergerak cepat dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan agar manfaatnya dapat segera dirasakan publik.
"Pekerjaan ini membutuhkan proses, tapi arah kebijakannya sudah jelas. Kami akan terus mengawal pembangunan embung secara bertahap hingga seluruh titik yang dipetakan dapat terwujud," ujar Agustina.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, percepatan pembangunan lima embung ini merupakan langkah strategis yang sangat penting bagi Kota Semarang untuk mengurangi risiko banjir yang kerap mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat. Pemkot tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek, tetapi juga mengembangkan infrastruktur yang tahan lama dan multifungsi, seperti embung yang juga dapat menjadi ruang terbuka hijau dan meningkatkan ekosistem lokal.
Namun, tantangan terbesar adalah memastikan kelima proyek ini berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi dan pendanaan agar manfaatnya dapat segera dirasakan. Pemetaan prioritas yang jelas dan koordinasi antar perangkat daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga konsistensi pelaksanaan.
Ke depan, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu terus mengawasi perkembangan proyek ini, serta mendorong pemerintah kota agar pengendalian banjir juga diikuti dengan edukasi publik dan kesiapsiagaan bencana yang lebih baik. Upaya ini akan menjadi contoh penting bagi kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.
Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini, Anda dapat mengikuti berita terkait di detikNews.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0