Awal Pertemuan Ali Khamenei & Khomeini hingga Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Ali Hosseini Khamenei adalah sosok penting dalam sejarah Republik Islam Iran yang baru saja meninggal dunia dan dimakamkan pada Kamis, 9 Juli 2026, di Kota Mashhad. Sebagai pemimpin tertinggi kedua Iran setelah Ayatollah Khomeini, Khamenei memegang posisi tertinggi di negara ini selama lebih dari tiga dekade. Artikel ini mengulas perjalanan awal pertemuan Khamenei dengan Khomeini hingga perjalanan kariernya yang menanjak hingga menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Awal Pertemuan dan Pengaruh Khomeini terhadap Khamenei
Ali Khamenei pertama kali bertemu dengan Ayatollah Khomeini pada 1957 di kota Qom, pusat pendidikan agama di Iran. Pertemuan ini menjadi titik balik yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Khamenei. Bersama Khomeini, Khamenei mulai aktif melawan rezim Shah Reza Pahlavi yang berkuasa saat itu.
Selain itu, ketika Khamenei mendalami ilmu agama di Qom, ia belajar di bawah bimbingan Ayatollah Borudjerdi, guru spiritual yang juga membimbing Khomeini. Namun, Khamenei memiliki ciri khas politisasi yang kuat dibandingkan ulama lain pada masa itu.
Faktor lain yang memperkuat pandangan politik Khamenei adalah pertemuannya dengan pemimpin kelompok Fada'iyan-e Islam, Seyed Mojtaba Navvab Safavi. Kelompok ini berambisi mendirikan pemerintahan Islam di Iran sejak tahun 1940-an, mirip dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang dipengaruhi oleh Seyed Qotb. Beberapa karya Qotb bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Khamenei, menandakan pengaruh ideologis yang mendalam.
Karier Politik dan Perlawanan terhadap Rezim Shah
Akibat aktivitas politik dan keagamaannya, Khamenei pernah ditangkap sebanyak enam kali dan dijatuhi hukuman penjara. Pada tahun 1977, rezim kekaisaran Shah mengasingkannya ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Namun, ia kembali lebih cepat ke Teheran ketika Revolusi Iran pecah pada 1978.
Setelah revolusi berhasil menggulingkan Shah, Khamenei meraih posisi penting secara cepat:
- Menjadi anggota Dewan Revolusioner Iran
- Diangkat oleh Khomeini sebagai Imam Jumat di Teheran, posisi strategis untuk memimpin salat berjamaah sekaligus menyebarkan ideologi pemerintah baru
- Menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan
Khamenei juga sempat menjabat sebagai Presiden Iran dari 1981 hingga 1989, memperkuat pengaruh politik dan militernya.
Pengangkatan sebagai Pemimpin Tertinggi dan Masa Pemerintahan
Ketika Ayatollah Khomeini meninggal dunia pada 1989, Ali Khamenei secara resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Majelis Ahli pada tanggal 4 Juni 1989, hari yang sama saat wafatnya Khomeini. Jabatan ini merupakan posisi tertinggi di Iran yang mengendalikan semua cabang pemerintahan dan militer.
Masa jabatan Khamenei berlangsung selama 36 tahun dan enam bulan, menjadikannya pemimpin dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah hingga wafatnya. Ia melewati masa-masa penuh tantangan, termasuk serangan Israel dan Amerika Serikat yang terjadi pada 28 Februari 2026.
Khamenei meninggal dunia di usia 86 tahun dan dimakamkan di Komplek Imam Reza di Mashhad, kota kelahirannya. Pemakamannya dihadiri oleh jutaan orang yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh dan peran Khamenei dalam sejarah Iran modern.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, perjalanan hidup Ali Khamenei mencerminkan transformasi politik dan ideologi yang sangat kuat dalam Republik Islam Iran. Pertemuan awalnya dengan Khomeini dan guru-gurunya yang berpengaruh menegaskan bahwa pendidikan agama di Qom bukan hanya soal spiritualitas, tetapi juga menjadi pusat pembentukan kekuasaan politik berbasis agama.
Masa jabatan Khamenei selama lebih dari tiga dekade menunjukkan stabilitas sekaligus ketegangan yang dialami Iran di tengah tekanan dari kekuatan asing dan dinamika internal. Dari sisi geopolitik, keberlangsungan rezim yang dipimpin oleh ulama ini menjadi kekuatan utama yang mempengaruhi politik Timur Tengah secara luas. Namun, masa jabatan panjang ini juga menimbulkan tantangan regenerasi kepemimpinan di Iran dan potensi konflik internal di masa depan.
Ke depan, publik dan pengamat politik harus mencermati siapa yang akan menggantikan posisi Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, serta bagaimana arah kebijakan Iran akan berubah, terutama mengingat tekanan internasional dan tuntutan reformasi domestik yang terus mengemuka.
Untuk informasi lebih lengkap, baca berita asli di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0