Anggota DPR AS Ro Khanna Ditahan Pemukim Israel Bersenjata di Tepi Barat
Anggota DPR Amerika Serikat (AS), Ro Khanna, yang berasal dari Partai Demokrat, mengaku sempat mengalami insiden penahanan oleh sekelompok pemukim Israel bersenjata saat kunjungannya ke wilayah Tepi Barat pada pekan ini. Kejadian ini kembali menyoroti ketegangan yang terus berlanjut antara Israel dan Palestina, serta menimbulkan perdebatan baru mengenai kebijakan AS terhadap konflik tersebut.
Penahanan oleh Pemukim Israel di Tepi Barat
Ro Khanna menceritakan bahwa rombongannya dikepung oleh para pemukim bersenjata yang membawa senapan M4 buatan Amerika Serikat ketika mengunjungi sebuah desa di bagian selatan Tepi Barat pada hari Rabu, 8 Juli 2026. Desa tersebut telah menjadi target serangan para pemukim sebelumnya.
"Kami berada di sebuah desa yang telah dihancurkan pemukim Israel. Mereka menghancurkan sekolah dan desa itu, lalu kami datang untuk melihat kondisinya," ujar Khanna kepada Reuters, Kamis (9/7).
Kelompok pemukim tersebut kemudian mengepung kendaraan yang ditumpangi rombongan Khanna dan memblokade akses jalan, bahkan memanggil Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Menurut Khanna, IDF justru berpihak kepada pemukim itu, bukan kepada warga Amerika.
"Mereka datang membawa senapan M4 buatan Amerika. Mereka menahan kami, memblokade jalan, lalu memanggil IDF. Saat itu IDF berpihak kepada mereka, bukan kepada warga Amerika," tambah Khanna.
Respons Militer Israel dan Dampak Politik
Seorang staf Khanna, Cameron Kasky, menyatakan bahwa mereka tertahan selama lebih dari satu jam, dan sempat meminta bantuan Kedutaan Besar AS di Yerusalem. Mereka baru dapat melanjutkan perjalanan setelah petugas yang diduga dari kepolisian Israel tiba dan membubarkan para pemukim.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukan dan kepolisian dikerahkan untuk menangani laporan pemukim yang memblokir kendaraan rombongan Khanna dekat dengan Khirbet Zanuta, dusun Palestina di Tepi Barat bagian selatan yang telah ditinggalkan penduduknya setelah serangkaian serangan pemukim.
Dalam pernyataannya, militer menyebut bahwa personel mereka membubarkan warga sipil Israel yang menghalangi jalan sehingga rombongan bisa melanjutkan perjalanan. Namun, Kepolisian Israel dan Kedutaan Besar AS di Yerusalem belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Konteks Politik dan Isu Palestina-Israel dalam Politik AS
Ro Khanna adalah tokoh Partai Demokrat kedua yang mengunjungi kawasan Tepi Barat pekan ini, di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pencalonannya dalam pemilihan presiden AS 2028. Sehari sebelumnya, Rahm Emanuel, mantan Kepala Staf Presiden Barack Obama, juga menyatakan kritik terhadap kebijakan Israel terhadap warga Palestina yang dinilai mengikis dukungan terhadap aliansi AS-Israel.
"Saya serius mempertimbangkannya, dan perjalanan ini justru membuat saya semakin mantap untuk memikirkan hal itu," kata Khanna soal kemungkinan pencalonan presiden.
Dalam agenda kunjungannya, Khanna sengaja hanya mendatangi wilayah Tepi Barat yang dipandu oleh warga Palestina agar memperoleh gambaran langsung situasi di lapangan. Ia menilai isu Palestina-Israel merupakan ujian moral dalam politik AS.
"Jika Anda tidak bersedia membela hak asasi rakyat Palestina, tidak bersedia bersuara terhadap genosida di Gaza dan apartheid di Tepi Barat, maka secara moral Anda telah berkompromi," tegas Khanna.
Pemerintah Israel membantah tuduhan genosida di Gaza maupun penerapan rezim apartheid di Tepi Barat. Saat ini, Tepi Barat dihuni sekitar 3 juta warga Palestina dan sekitar 500 ribu pemukim Yahudi.
Mayoritas negara, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menganggap permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat. Namun, Israel mengklaim wilayah tersebut sebagai wilayah sengketa yang memiliki keterkaitan sejarah dengan bangsa Yahudi.
Perpecahan Dalam Partai Demokrat dan Bantuan Militer AS
Isu dukungan terhadap Israel semakin memecah Partai Demokrat menjelang pemilu sela Kongres November 2026. Survei menunjukkan dukungan positif pemilih Demokrat terhadap Israel turun drastis dari 59 persen pada 2018 menjadi 22 persen pada Mei 2026.
Sejumlah anggota Partai Demokrat kini mendorong penghentian bantuan militer AS kepada Israel yang mencapai sekitar US$3,8 miliar (setara Rp68,70 triliun) per tahun. Bantuan ini meliputi pengadaan persenjataan seperti senapan M4 dan sistem pertahanan rudal yang digunakan Israel dalam berbagai operasi militernya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, insiden penahanan Ro Khanna oleh pemukim Israel bersenjata ini membuka kembali sorotan terhadap kompleksitas konflik Israel-Palestina dan bagaimana kebijakan AS memainkan peran penting di dalamnya. Rombongan Khanna yang berusaha melihat langsung kondisi warga Palestina justru dihadang oleh kelompok yang didukung secara tidak langsung oleh aparat keamanan Israel, memperlihatkan ketegangan yang sangat nyata di lapangan.
Peristiwa ini juga mencerminkan bagaimana isu Palestina semakin menjadi bahan perdebatan serius dalam politik dalam negeri AS, khususnya di kalangan Partai Demokrat yang mulai mempertimbangkan kembali hubungan dan dukungan militer besar-besaran terhadap Israel. Penurunan dukungan pemilih Demokrat terhadap Israel dan dorongan untuk menghentikan bantuan militer akan berpengaruh besar pada kebijakan luar negeri AS di masa depan.
Selanjutnya, publik dan pengamat harus mencermati perkembangan sikap pejabat AS terhadap konflik ini, terutama menjelang pemilu 2028, karena perubahan kebijakan dapat berdampak luas pada dinamika kawasan dan hubungan AS dengan negara-negara Timur Tengah. Selalu ikuti perkembangan terbaru dari sumber terpercaya seperti CNN Indonesia dan media internasional lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0