IRGC Iran Klaim Serang dan Hancurkan Fasilitas Militer AS di Lanud Yordania Lagi

Jul 12, 2026 - 11:30
 0  1
IRGC Iran Klaim Serang dan Hancurkan Fasilitas Militer AS di Lanud Yordania Lagi

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengklaim melakukan serangan ke fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania. Dalam serangan terbaru ini, IRGC menargetkan Pangkalan Udara Pangeran Hassan dengan beberapa rudal balistik, yang menurut mereka berhasil menghancurkan pusat komando dan kendali serta hanggar drone MQ-9 di pangkalan tersebut.

Ad
Ad

Serangan ini diumumkan melalui pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB dan dilaporkan oleh CNN Indonesia pada Minggu, 12 Juli 2026. IRGC menyebut serangan tersebut sebagai fase pertama dari respons mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi berkelanjutan dari Amerika Serikat di kawasan.

Serangan Terhadap Pangkalan Udara Pangeran Hassan

IRGC menegaskan bahwa serangan rudal balistik mereka berhasil menghancurkan pusat komando dan kendali serta hanggar yang menyimpan drone MQ-9, sebuah aset militer penting AS. Pangkalan ini terletak di Yordania dan sebelumnya juga menjadi sasaran serangan IRGC pada Kamis, 9 Juli 2026, ketika mereka menyerang Pangkalan Udara Al Azraq di Kota Azrak, sekitar 100 kilometer dari Amman.

Dalam pernyataannya, IRGC juga menuding Amerika Serikat memaksa kehendaknya pada negara tetangga Oman dan mencoba mengarahkan kapal-kapal melalui Selat Hormuz secara ilegal. Tindakan ini kemudian direspons tegas oleh angkatan laut Iran, yang menurut mereka telah menghentikan upaya tersebut.

Ketegangan di Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi titik panas dalam konflik ini. IRGC menuduh AS menyerang sejumlah pangkalan pesisir dan menara telekomunikasi di pantai selatan Iran, serta menyatakan bahwa serangan balasan mereka akan semakin keras jika Amerika terus melakukan agresi. Ketegangan semakin meningkat karena AS menuduh Iran menembak kapal kontainer berbendera Siprus yang melintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis dunia.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa serangan udara mereka diluncurkan pada Minggu, 12 Juli 2026, sekitar pukul 23.15 GMT atau 02.45 dini hari waktu Teheran. Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ini sebagai respons atas serangan yang dilakukan IRGC terhadap kapal sipil tersebut.

"Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," ujar CENTCOM dalam pernyataannya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar akibatnya."

Reaksi dan Implikasi Konflik Iran-AS di Timur Tengah

Serangan-serangan yang terus berulang antara IRGC dan militer AS di wilayah Yordania dan perairan Selat Hormuz memperlihatkan eskalasi ketegangan yang serius di Timur Tengah. Iran dengan tegas memperingatkan bahwa jika AS tidak menghentikan serangan mereka, maka respons Iran akan semakin keras dan menyasar seluruh pangkalan militer AS di kawasan.

  • Serangan rudal balistik IRGC ke Pangkalan Udara Pangeran Hassan, Yordania.
  • Serangan sebelumnya di Pangkalan Udara Al Azraq, Yordania.
  • Tuduhan Iran terkait kapal yang melewati Selat Hormuz secara ilegal.
  • Serangan udara AS sebagai balasan terhadap aktivitas IRGC di Selat Hormuz.

Konflik ini tidak hanya berpotensi mengganggu stabilitas keamanan kawasan, tapi juga dapat mempengaruhi jalur perdagangan dan distribusi energi global yang melintasi Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, klaim IRGC yang terus menerus melakukan serangan ke fasilitas militer AS di Yordania merupakan indikasi eskalasi konflik yang jauh dari kata mereda. Serangan yang menargetkan pusat komando dan drone MQ-9 menunjukkan bahwa Iran berupaya melemahkan kemampuan intelijen dan operasi militer AS di kawasan secara signifikan.

Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz sangat krusial karena jalur ini adalah pintu gerbang utama pengiriman minyak dunia. Gangguan di wilayah ini dapat memicu kenaikan harga minyak global dan memperparah krisis energi. Amerika Serikat dan sekutunya harus berhati-hati dalam menanggapi serangan ini agar tidak terjadi perang terbuka yang akan berdampak luas.

Ke depan, publik dan pengamat internasional harus memantau dengan seksama perkembangan diplomasi dan langkah militer kedua belah pihak. Inisiatif diplomatik yang serius sangat diperlukan untuk meredam ketegangan, mengingat konflik ini berpotensi memicu instabilitas yang lebih luas di Timur Tengah dan mengganggu ekonomi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad