Perusahaan AS Beralih ke Model AI Cina karena Biaya Lebih Murah dan Fleksibel

Jul 14, 2026 - 12:30
 0  5
Perusahaan AS Beralih ke Model AI Cina karena Biaya Lebih Murah dan Fleksibel

Seiring dengan melonjaknya tagihan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan besar, semakin banyak perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang mulai mempertimbangkan alternatif yang lebih ekonomis. Mereka bertanya, mengapa harus membayar mahal untuk model AI terkemuka asal AS, padahal ada model AI asal Cina yang jauh lebih murah dan fleksibel?

Ad
Ad

Beberapa perusahaan besar seperti DoorDash, Airbnb, dan Siemens kini mulai mengadopsi alat AI dari Cina, menurut laporan Financial Times. Daya tarik utama bukan hanya dari segi biaya yang lebih rendah, tetapi juga pendekatan "open-weight" yang memungkinkan model AI tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap perusahaan.

Keunggulan Model AI Cina yang Lebih Murah dan Fleksibel

Data dari OpenRouter, platform yang menyediakan akses terintegrasi ke berbagai model AI utama dan melacak penggunaannya, menunjukkan bahwa model-model AI Cina terkemuka seperti DeepSeek dan Z.ai kini telah melampaui model AS seperti Anthropic’s Claude dan OpenAI’s ChatGPT dalam hal penggunaan. Hal ini memperlihatkan bahwa pertimbangan efisiensi biaya kini mengalahkan rivalitas geopolitik.

"Model Cina adalah 'gajah di dalam ruangan'," kata Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI, kepada Financial Times. "Perusahaan mulai menyadari, 'Hei, kita tidak perlu model terbaik, kita bisa menggunakan model yang lebih cepat dan lebih murah.'"

Selama ini, model AI berbasis di AS sering dianggap sebagai yang paling canggih. Namun, persepsi ini mulai bergeser. Peluncuran GLM-5.2 dari startup Cina Z.ai bulan lalu menjadi sorotan di lingkup teknologi Barat, di mana banyak tokoh Silicon Valley mengakui kemampuannya yang setara atau hampir setara dengan sistem AS, dengan biaya penggunaan yang jauh lebih rendah.

Lonjakan Biaya AI di Korporasi dan Implikasi Pengalihannya

Model AI Cina yang murah datang pada waktu yang sangat tepat. Dalam setahun terakhir, dunia korporat yang terpesona oleh janji AI untuk meningkatkan produktivitas, mulai merasakan beban biaya yang tak sedikit. Sebuah organisasi bahkan dilaporkan menghabiskan 500 juta dolar AS dalam satu bulan hanya untuk biaya penggunaan Claude. Meski ini merupakan kasus ekstrem, penelitian Ramp AI Index menemukan bahwa perusahaan yang paling fokus pada AI menghabiskan sekitar 7.500 dolar AS per karyawan per bulan untuk AI.

Kultur penggunaan AI juga memperkuat tren ini. Beberapa perusahaan seperti Meta bahkan mewajibkan karyawan mereka menggunakan sistem AI secara maksimal dan memasukkan hal ini dalam penilaian kinerja. Insinyur perangkat lunak kini dituntut menghasilkan lebih banyak pekerjaan dengan bantuan beberapa agen AI yang berjalan simultan di latar belakang.

Jika perusahaan tak ingin mengurangi intensitas penggunaan AI, opsi terbaik berikutnya adalah mencari model yang lebih murah. Pendiri DoorDash, Andy Fang, menyatakan di X (sebelumnya Twitter) bahwa perusahaan menghemat banyak biaya dengan menggunakan model dari startup Cina Moonshot AI untuk pekerjaan "level rendah". Startup San Francisco, Lindy, bahkan telah sepenuhnya beralih dari alat AI Anthropic ke model terbaru V4 milik DeepSeek.

Faktor Keamanan dan Kontrol Lewat Model "Open-Weight"

Selain biaya, ada faktor penting lain yang menarik perusahaan ke model AI Cina, yaitu sifat "open-weight". Artinya, parameter dan nilai dari model tersebut sepenuhnya terbuka bagi pengguna, memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan model sesuai kebutuhan spesifik mereka. Dari sisi keamanan siber, ini memberikan kontrol dan transparansi lebih besar terhadap bagaimana data sensitif mereka diproses.

Menurut Sam Bresnick, peneliti dari Georgetown University’s Center for Security and Emerging Technology, "Perusahaan memiliki insentif untuk mengalihkan sebagian beban kerja ke model yang lebih murah. Mengapa harus membayar mahal untuk model Anthropic atau OpenAI, jika banyak pekerjaan dapat dilakukan dengan baik oleh model Cina?"

Bagi perusahaan asing yang mulai kecewa dengan dominasi AS dalam teknologi AI, pilihan beralih ke model Cina menjadi semakin mudah. Kepercayaan terhadap AS sebagai pemimpin AI menurun, terutama setelah pemerintahan Trump memblokir akses model Mythos dari Anthropic di luar negeri.

"Larangan Mythos adalah peristiwa paling nyata, di mana akses banyak pihak dicabut," ujar Aidan Gomez, CEO grup AI Kanada Cohere. "Ini memperlihatkan risiko jika mengandalkan satu entitas tunggal untuk beban kerja Anda."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pergeseran perusahaan-perusahaan besar AS dan Eropa ke model AI Cina bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga mencerminkan perubahan paradigma dalam industri teknologi global. Ini merupakan sinyal bahwa dominasi model AI AS mulai tergeser oleh alternatif yang lebih terbuka dan ekonomis, yang memungkinkan penyesuaian lebih besar terhadap kebutuhan bisnis sekaligus memberikan kontrol keamanan lebih baik.

Selain itu, tren ini berpotensi mempercepat ketergantungan perusahaan global pada teknologi Cina, yang dapat memperumit dinamika persaingan teknologi antara AS dan Cina. Perusahaan-perusahaan harus waspada terhadap implikasi jangka panjang dari keputusan mereka, terutama terkait keamanan data dan kedaulatan teknologi.

Ke depan, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perusahaan AS dan regulator akan merespons pergeseran ini. Apakah akan ada langkah untuk menekan biaya model AI domestik atau memperketat regulasi impor teknologi asing? Serta bagaimana inovasi dari kedua belah pihak akan berkembang dalam persaingan ketat ini.

Untuk pembaca, penting untuk terus mengikuti perkembangan teknologi AI global yang cepat berubah ini, karena dampaknya akan terasa tidak hanya di dunia bisnis, tetapi juga di ranah sosial dan geopolitik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad