Produksi Bijih Tembaga Freeport Turun Jadi 65% di 2026 Imbas Longsor
PT Freeport Indonesia (PTFI) memperkirakan kapasitas produksi tambang bijih tembaga miliknya hanya akan mencapai 65% pada tahun 2026. Penurunan ini disebabkan oleh dampak insiden longsoran yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.
Penurunan Kapasitas Produksi Akibat Longsor
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menjelaskan bahwa perusahaan tengah fokus pada tahap pemulihan operasional pasca longsoran di GBC. Menurutnya, keamanan menjadi prioritas utama sebelum produksi dapat ditingkatkan kembali.
"Sebagaimana diketahui bahwa tahun ini kita PTFI masih hanya dalam kapasitas 60% dari hulunya karena memang akibat dari longsoran yang terjadi di bulan September (2025) kita melakukan perbaikan-perbaikan meyakinkan bahwa ini semuanya betul-betul aman sehingga produksi ramp up-nya agak berjalan tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya sehingga tahun ini masih akan mencapai 65% dari total kapasitas," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Penurunan ini juga tercermin pada target volume penambangan bijih harian yang ditetapkan sebesar 124.000 ton pada 2026, turun dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sempat mencapai 139.000 ton per hari sebelum operasional sempat terhenti.
Target Produksi Logam dan Pemulihan Bertahap
Tony Wenas mengungkapkan bahwa target produksi logam pada 2026 adalah sekitar 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas atau setara dengan 21 ton emas. Perusahaan berencana menaikkan kapasitas produksi secara bertahap untuk kembali ke level normal di atas 200.000 ton bijih per hari.
Rencana pemulihan kapasitas produksi:
- Semester I 2027: Meningkat ke 75% kapasitas produksi.
- Akhir 2027: Kapasitas produksi kembali pulih sepenuhnya 100%.
- Produksi 2027: Diperkirakan mencapai 1,2 miliar pound tembaga dan satu juta ounces emas (~31 ton emas).
- 2028: Produksi naik menjadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounces emas (~43 ton emas).
- Produksi akan terus meningkat hingga tahun 2030.
Pengembangan Tambang Baru sebagai Antisipasi Penurunan Produksi
Selain pemulihan kapasitas produksi di tambang Grasberg, PTFI juga sedang menyiapkan pengembangan tambang baru, yaitu Blok Kucing Liar, yang dijadwalkan mulai berproduksi pada 2029. Pengembangan ini bertujuan menggantikan blok Deep Mill Level Zone (DMLC) yang diperkirakan akan mengalami penurunan volume di masa depan.
"Ini adalah untuk menggantikan DMLC yang mulai merendah tonasenya sehingga kestabilan atau kelangsungan dari penambangan sekitar 220.000 ton bijih per hari itu akan bisa dilanjutkan," tambah Tony Wenas.
Pemulihan produksi dan pengembangan tambang baru menjadi kunci strategis Freeport untuk menjaga kontribusi besar terhadap pasokan tembaga dan emas nasional serta global.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penurunan produksi Freeport akibat longsor pada 2025 tidak hanya berdampak pada kapasitas tambang saja, tetapi juga memberikan sinyal penting tentang risiko operasional di tambang bawah tanah skala besar seperti Grasberg. Keamanan dan penanganan risiko bencana menjadi aspek yang tidak bisa ditawar dalam industri pertambangan untuk memastikan kelangsungan produksi jangka panjang.
Selain itu, pemulihan bertahap hingga 2027 dan pengembangan Blok Kucing Liar pada 2029 menunjukkan bahwa Freeport sedang beradaptasi dengan keterbatasan sumber daya yang ada dan risiko geologi yang berubah. Ini juga menegaskan pentingnya diversifikasi sumber tambang untuk menjaga stabilitas produksi dan pasokan logam strategis seperti tembaga dan emas.
Ke depan, publik dan pemangku kepentingan industri harus mencermati bagaimana Freeport mengelola aspek keamanan dan efisiensi operasionalnya, terutama dalam menghadapi tantangan geologi dan lingkungan yang makin kompleks. Laporan CNBC Indonesia menjadi sumber penting untuk mengikuti perkembangan ini secara transparan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0