Alih Fungsi Lahan Pertanian Kota Batu: Dampak Pariwisata dan Properti yang Mengerikan
Kota Batu, yang dikenal sebagai sentra agrowisata di Jawa Timur, menghadapi masalah serius terkait alih fungsi lahan pertanian. Dalam satu dekade terakhir, kawasan hijau yang menjadi sumber penghidupan para petani lokal semakin berkurang drastis akibat ekspansi sektor pariwisata dan properti yang tidak terkendali.
Dampak Komodifikasi Lahan Pertanian di Kota Batu
Fenomena komodifikasi lahan secara masif ini menjadi perhatian utama Mohammad Reza, akademisi dan dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Melalui riset disertasinya berjudul "Model Komodifikasi Lahan Pertanian di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur", ia mengungkap bahwa keserakahan ekonomi membuat lahan pertanian hanya dinilai dari aspek nilai ekonomi, mengabaikan keberlanjutan ekologis dan sosial.
Reza menggunakan metode analisis spasial canggih Cellular Automata-Artificial Neural Network (CA-ANN) dan menemukan fakta mengejutkan bahwa pertumbuhan kawasan permukiman dan fasilitas wisata telah merambat ke zona rawan bencana.
"Ketika pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak berjalan seimbang, konsekuensi besarnya adalah bencana. Dalam 10 tahun terakhir, Kota Batu kerap dihantam longsor dan banjir akibat perubahan tata guna lahan,"ujar Reza pada Kamis (16/7/2026).
Petani Lokal Terdesak dan Risiko Bencana Meningkat
Ekspansi pembangunan hotel, vila, dan tempat wisata secara langsung menggerus lahan pertanian di dataran rendah. Akibatnya, para petani lokal terpaksa bergeser ke daerah yang lebih tinggi, yang sebenarnya berstatus hutan lindung, untuk melakukan pertanian tumpang sari.
Pola penataan yang keliru di kawasan tebing curam ini justru memperbesar risiko bencana tanah longsor, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi. Lahan yang semula berfungsi sebagai penyangga ekosistem berubah menjadi sumber ancaman bagi wilayah di bawahnya.
Ketimpangan Kekuasaan dan Tantangan Kebijakan Tata Ruang
Melalui pendekatan Social Network Analysis (SNA), Reza mengungkap adanya ketimpangan relasi kekuasaan di lapangan. Mayoritas lahan kini dikuasai oleh pemilik modal dari luar kota, sehingga posisi tawar petani lokal sangat lemah.
Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki tugas mengembangkan sektor jasa untuk meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja. Namun, pertumbuhan ini harus diimbangi dengan perlindungan terhadap petani dan kelestarian lingkungan.
"Jika alih fungsi lahan seperti Batu ini tidak segera dihentikan, jangan kaget kalau ke depan ketergantungan pangan kita ke luar negeri akan semakin tinggi,"tegas Reza, yang pernah menempuh pendidikan S2 di University of South Australia.
Rekomendasi Kebijakan dan Solusi Inovatif
Dalam risetnya, Reza menawarkan tiga skenario kebijakan melalui System Dynamics Modeling:
- Optimis: Menjaga lingkungan dan mengendalikan pembangunan secara ketat.
- Moderat: Mengakomodasi pembangunan secara berimbang antara sektor jasa dan pertanian.
- Pesimistis: Mengejar pembangunan tanpa memperhatikan dampak bencana dan ketahanan pangan.
Untuk menjembatani kebutuhan pariwisata dan pelestarian sektor agraris, Reza merekomendasikan reformulasi kebijakan tata ruang yang adaptif dan inklusif. Pemerintah daerah disarankan memberikan insentif seperti kemudahan pajak, kepastian suplai pupuk dan bibit unggul, serta bantuan teknologi pertanian secara gratis kepada petani yang bertahan.
Selain itu, pemanfaatan lahan tidur di perkotaan dengan sistem vertical farming dan optimalisasi lahan kritis non-lindung bersama Perhutani juga menjadi solusi produktif yang patut dipertimbangkan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, risiko alih fungsi lahan di Kota Batu bukan hanya soal hilangnya ruang hijau, tetapi juga ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional dan stabilitas ekologis. Sektor pariwisata dan properti memang memberikan kontribusi ekonomi, namun jika tidak diimbangi dengan kebijakan tata ruang yang bijaksana, Kota Batu akan kehilangan identitasnya sebagai sentra agrowisata sekaligus pusat pertanian produktif.
Ketimpangan kekuasaan dalam penguasaan lahan menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat dan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Jika dibiarkan, petani lokal akan terus terpinggirkan, dan potensi bencana alam semakin meningkat seiring waktu.
Pembaca perlu mengawasi perkembangan kebijakan pemerintah daerah dan turut mendorong penerapan solusi inovatif yang mengedepankan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Baca informasi dan riset lebih lengkapnya di detikJatim dan sumber terpercaya lainnya.
Masa Depan Lahan Pertanian Kota Batu
Mohammad Reza berencana mendalami riset tentang relasi kekuasaan dan kepentingan ekonomi di kawasan strategis agar pembangunan vila dan hotel tidak lagi merambah kawasan tangkapan air maupun lahan produktif. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan petani lokal.
Pesan penting bagi akademisi dan mahasiswa adalah konsistensi dalam melihat akar masalah dan menggunakan metodologi riset yang valid agar mampu menghasilkan solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Dengan perhatian serius dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Kota Batu masih memiliki peluang untuk menjadi contoh harmonisasi antara pariwisata, properti, dan keberlanjutan pertanian.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0