Hilirisasi Industri Darah RI Melesat, Investasi Jepang Rp18 T Dorong Ketahanan Kesehatan

Jul 16, 2026 - 14:11
 0  2
Hilirisasi Industri Darah RI Melesat, Investasi Jepang Rp18 T Dorong Ketahanan Kesehatan

Kementerian Kesehatan Indonesia terus mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional dengan fokus khusus pada pengembangan hilirisasi industri darah. Upaya ini menjadi bagian dari enam pilar transformasi yang bertujuan memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia, terutama pasca pandemi Covid-19 yang mengungkap kelemahan dalam ketersediaan obat esensial, termasuk produk turunan plasma.

Ad
Ad

Transformasi Sistem Kesehatan dan Pentingnya Produk Turunan Plasma

Dalam pernyataannya pada 16 Juli 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa produk turunan plasma (Plasma Derived Product/PDP) seperti albumin, IVIG/Gamaras, Factor-8, dan Factor-9 sangat krusial bagi sistem layanan kesehatan. "Obat-obatan PDP ini merupakan hasil hilirisasi dari darah ke plasma hingga produk PDP," ujarnya.

Ketergantungan Indonesia pada impor produk-produk tersebut selama pandemi menunjukkan perlunya penguatan sektor ini secara domestik. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan melonggarkan regulasi untuk mempercepat pembangunan pabrik plasma dalam negeri.

Investasi Besar dan Percepatan Pembangunan Pabrik Plasma

Sejak regulasi dilonggarkan pada 2023, proyek pembangunan pabrik plasma berjalan masif. Pada 2026, pabrik dengan kapasitas 600 ribu liter dan nilai investasi mencapai US$ 300 juta (Rp 5,4 triliun) telah selesai dibangun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027 setelah mendapatkan izin dari BPOM.

SK Plasma Core Indonesia, perusahaan asal Korea Selatan, bermitra dengan Indonesian Investment Authority (INA) dalam proyek ini. Menteri Kesehatan telah meninjau fasilitas tersebut di Karawang, Jawa Barat, untuk memastikan kesiapan komersialisasi pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia.

"Kami pasti akan mendukung penuh dan mencari cara terbaik untuk menstrukturkan kerjasama ini dengan baik. Pemerintah dapat bergerak melalui integrasi dengan institusi seperti Danantara, maupun sinergi dengan holding BUMN farmasi seperti Bio Farma," tegas Budi Gunadi Sadikin.

Investasi Rp18 Triliun dari Perusahaan Jepang Takeda

Tahun 2026 juga menjadi tonggak penting dengan masuknya Takeda, perusahaan farmasi asal Jepang dan salah satu pemain terbesar dunia di bidang PDP, yang mengumumkan investasi lebih dari US$ 1 miliar (Rp 18 triliun) untuk membangun pabrik PDP berkapasitas 1 juta liter per tahun di Indonesia.

Dalam tahap awal, Takeda mengalokasikan dana sekitar US$ 30 juta (Rp 539 miliar) untuk membangun bank plasma yang akan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan BioLife. Selama fasilitas manufaktur pabrik dalam negeri tengah dalam proses penilaian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan prioritas kebutuhan domestik.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama dengan mitra global seperti Takeda, Indonesia akan mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang tangguh," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Dukungan Pemerintah dan Dampak Jangka Panjang

Kerja sama lintas sektor juga melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Investasi Rosan P. Roeslani menyebut investasi ini sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan, tapi juga membuka peluang transfer teknologi dan lapangan kerja.

  • Transfer teknologi plasma dan farmasi tingkat lanjut
  • Pengembangan sumber daya manusia nasional
  • Penciptaan lapangan pekerjaan berketerampilan tinggi
  • Peningkatan kapasitas dan kemandirian industri farmasi

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia dan pengembangan tenaga kerja lokal.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, percepatan hilirisasi industri darah dengan investasi besar dari perusahaan global seperti Takeda menjadi game-changer bagi sistem kesehatan Indonesia. Ini bukan sekadar soal kemandirian pasokan obat esensial, tapi juga membuka peluang transformasi industri farmasi nasional menuju teknologi tinggi dan inovasi berkelanjutan.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada pembangunan fisik pabrik, melainkan bagaimana memastikan kesinambungan pasokan plasma, peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor plasma, dan penguatan regulasi agar produk lokal dapat bersaing dengan produk impor. Pemerintah harus mengawal proses ini dengan ketat agar investasi tidak hanya berhenti di fase pembangunan, tetapi berbuah nyata bagi kesehatan publik.

Ke depan, publik perlu mengawasi implementasi peta jalan jangka panjang industri layanan kesehatan yang direncanakan hingga 30 tahun mendatang. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi pusat regional inovasi dan manufaktur obat berteknologi mutakhir, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Untuk informasi lebih detail, kunjungi sumber asli di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad