AS Ancam Malaysia soal Deportasi Warga Israel, PM Anwar Ibrahim Tegas Tak Takut

Jul 23, 2026 - 16:20
 0  2
AS Ancam Malaysia soal Deportasi Warga Israel, PM Anwar Ibrahim Tegas Tak Takut

Amerika Serikat menyatakan kemarahan dan mengancam Malaysia setelah pemerintah negara ini mengumumkan rencana untuk mengusir warga negara Israel yang tinggal di Malaysia. Pernyataan keras ini disampaikan oleh sejumlah anggota Kongres AS sebagai reaksi atas kebijakan tegas Malaysia yang dianggap melanggar hukum internasional. Meski mendapat tekanan dari Washington, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan gentar dan tetap menjalankan kebijakan tersebut.

Ad
Ad

Respons Tegas PM Anwar Ibrahim terhadap Tekanan AS

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari the Star, Anwar Ibrahim menolak tuduhan bahwa Malaysia melanggar hukum internasional dengan melarang warga Israel tinggal di negaranya.

"Saya ingin menanggapi para anggota parlemen Amerika Serikat, setidaknya beberapa di antaranya, yang secara tegas menyatakan bahwa Malaysia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati hak-hak bangsa,"
kata Anwar.

Dia menambahkan bahwa kebijakan ini sudah diterapkan selama beberapa dekade dan bukan merupakan bentuk diskriminasi terhadap orang Yahudi, melainkan menolak warga negara Israel karena keterlibatan mereka dalam konflik yang berkepanjangan terhadap Palestina dan Gaza.

"Kami menentang kehadiran warga negara Israel mana pun di sini, bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel karena mereka terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan serta penjajahan berkelanjutan terhadap Palestina dan Gaza,"
jelas Anwar.

Ancaman dari Kongres AS dan Implikasinya

Ancaman dari Amerika Serikat disampaikan oleh sejumlah anggota Kongres, termasuk Greg Landsman, Josh Gottheimer, Jimmy Panetta, Dan Goldman, Debbie Wasserman Schultz, Jared Moskowitz, Brad Sherman, dan Jake Auchincloss. Mereka mengajukan surat kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mendesak peninjauan kembali hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia jika kebijakan deportasi ini tetap dijalankan.

Dalam surat tersebut, anggota Kongres menekankan bahwa Malaysia selama ini menerima bantuan keamanan dari AS, termasuk program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (IMET) yang membiayai pelatihan profesional militer Malaysia. Mereka juga menyoroti manfaat akses Malaysia ke teknologi dan pasar AS.

"Mengingat poin-poin pengaruh diplomatik ini, kami percaya AS harus menjelaskan kepada Anwar dan pemerintahannya bahwa, dengan bantuan dan dukungan kami, ada harapan bahwa mereka tidak akan menargetkan warga negara salah satu sekutu terdekat kami,"
tulis surat itu.

Lebih lanjut, surat itu mengancam bahwa jika Malaysia tidak mencabut kebijakan ini dalam waktu 15 hari, maka pihak AS akan mempertimbangkan untuk menangguhkan pendanaan IMET.

"Kami sangat mendesak Anda (Rubio) untuk menggunakan setiap alat yang kami miliki untuk memperjelas bahwa perilaku ini membawa konsekuensi,"
tambah mereka.

Latar Belakang Kebijakan Malaysia terhadap Warga Israel

Kebijakan Malaysia melarang warga Israel masuk dan tinggal di negara tersebut sudah berlangsung lama dan menjadi bagian dari solidaritas Malaysia terhadap perjuangan Palestina. Penolakan ini bukan hanya soal politik, tapi juga didasari oleh sikap moral terhadap konflik yang terjadi di Timur Tengah. Malaysia menilai kehadiran warga Israel di negaranya akan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan solidaritas internasional.

Namun, kebijakan ini menimbulkan ketegangan diplomatik dengan Amerika Serikat, negara yang memiliki hubungan erat dengan Israel dan menjadi sekutu strategis di kawasan. Tekanan dari AS yang berupa ancaman pengurangan bantuan militer dan ekonomi menunjukkan betapa sensitifnya isu ini dalam peta geopolitik global.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, ketegangan antara Malaysia dan Amerika Serikat ini merupakan cerminan dari dinamika geopolitik yang terus berkembang, di mana negara-negara kecil atau menengah seperti Malaysia harus berani mengambil sikap berdasarkan prinsip dan kepentingan nasional mereka, meski berhadapan dengan tekanan dari negara besar. Sikap tegas Anwar Ibrahim menunjukkan keberanian politik yang jarang terlihat di kawasan Asia Tenggara yang cenderung berhati-hati dalam diplomasi.

Namun, konsekuensi dari kebijakan ini berpotensi memperumit hubungan bilateral Malaysia-AS, khususnya dalam bidang keamanan dan ekonomi yang selama ini saling menguntungkan. Malaysia harus bersiap menghadapi dampak nyata seperti pengurangan bantuan pelatihan militer dan akses teknologi. Hal ini juga menjadi peringatan bagi negara-negara lain yang mungkin memiliki kebijakan serupa di masa depan.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Malaysia bisa menyeimbangkan solidaritas internasional dengan kebutuhan pragmatis dalam hubungan luar negeri, terutama dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Selain itu, publik Indonesia dan kawasan ASEAN perlu mengikuti perkembangan ini karena dapat berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi regional.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini mengenai konflik diplomatik ini, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad