Meta Diduga Unduh Ribuan Konten Porno dan Materi Ilegal: Fakta Lengkap Gugatan Strike 3

Jul 25, 2026 - 03:30
 0  2
Meta Diduga Unduh Ribuan Konten Porno dan Materi Ilegal: Fakta Lengkap Gugatan Strike 3

Meta, perusahaan teknologi raksasa, kini menghadapi gugatan hukum yang menuduhnya mengunduh dan mendistribusikan ribuan video porno berhak cipta, foto selebriti tanpa izin, blueprint senjata yang dapat dicetak 3D, serta jutaan password hasil peretasan. Gugatan ini diajukan oleh Strike 3, perusahaan induk dari Vixen Media Group, sebuah produsen film dewasa terkemuka.

Ad
Ad

Konten Ilegal yang Diduga Diunduh Meta

Menurut dokumen pengadilan, Meta mengunduh 2.973 video dewasa yang dimiliki Strike 3 melalui jaringan BitTorrent selama dua tahun terakhir. Namun, daftar file yang dikumpulkan Strike 3 juga mencakup berbagai materi lain yang sangat bermasalah, seperti:

  • Foto selebriti hasil hack tahun 2014 yang dikenal sebagai "Celebgate", termasuk Jennifer Lawrence dan Kirsten Dunst.
  • Beberapa koleksi deepfake porno selebriti dengan wajah Natalie Portman, Scarlett Johansson, Elizabeth Olsen, dan Gal Gadot.
  • Video dari situs GirlsDoPorn, yang ditutup akibat kasus perdagangan seks.
  • Blueprint atau desain senjata api yang dapat dicetak dengan printer 3D.
  • Daftar lebih dari 5 juta password akun yang diretas antara 2015-2019.
  • Perangkat lunak peretas untuk membobol akun dan file-file musik, film, serta software populer.

Meta Membantah Tuduhan dan Klaim Penggunaan Pribadi

Ketika dikonfirmasi, Meta melalui juru bicaranya membantah tuduhan tersebut dengan menyebut klaim itu sebagai "tidak berdasar". Meta juga mengklaim bahwa aktivitas pengunduhan tersebut mungkin dilakukan oleh karyawan, kontraktor, atau pengunjung kantor secara "untuk konsumsi pribadi", bukan bagian dari proyek perusahaan.

"Kami tidak menginginkan konten seperti ini dan mengambil langkah-langkah untuk menghindari pelatihan AI menggunakan materi tersebut," ujar juru bicara Meta.

Namun, pola dan volume pengunduhan yang tercatat tampak sangat tidak konsisten dengan penggunaan pribadi. Misalnya, pengunduhan berurutan dua konten yang sama sekali berbeda tema seperti film "Teenage Mutant Ninja Turtles" dan video berjudul "Teen Sex Sessions 2" menunjukkan kemungkinan aktivitas yang sistematis dan terkoordinasi.

Pertimbangan Hukum dan Implikasi AI

Hakim Eumi Lee, yang menolak permohonan Meta untuk membatalkan kasus ini, menilai bahwa pola pengunduhan tersebut sulit dijelaskan sebagai kebetulan. Meta juga diketahui telah menggunakan BitTorrent untuk mengunduh jutaan buku berhak cipta sebagai bahan pelatihan AI, walaupun beberapa karyawan merasa ragu secara etis dan hukum terhadap praktik ini.

Menurut Strike 3, materi yang diunduh bisa saja digunakan untuk melatih sistem AI, meskipun Meta membantahnya dan menyatakan bahwa kebijakan mereka melarang pembuatan gambar pornografi menggunakan AI mereka.

Namun, dalam praktiknya, perusahaan teknologi kerap menggunakan konten bermasalah untuk menguji dan memperkuat guardrails atau pembatas agar sistem AI tidak menghasilkan konten serupa.

BitTorrent dan Peranannya dalam Dunia AI dan Piranti Lunak

BitTorrent adalah jaringan berbagi file yang memungkinkan pengguna untuk mengunduh sekaligus membagikan file dengan pengguna lain. Strike 3 mencatat bahwa perangkat dalam jaringan Meta tidak hanya mengunduh tetapi juga menyebarkan video milik Strike 3 selama berbulan-bulan, yang disebut sebagai praktik "seeding."

Selain video dewasa, Meta juga tercatat mengunduh film-film terkenal seperti BlacKkKlansman dan The Banshees of Inisherin, musik dari artis ternama, serta perangkat lunak populer seperti Microsoft Windows dan Adobe Photoshop.

Praktik penggunaan BitTorrent oleh perusahaan teknologi besar ini mencerminkan dilema di era AI saat ini—di mana perusahaan harus mengakses sebanyak mungkin konten berkualitas untuk melatih model AI mereka, tetapi seringkali dengan cara yang kontroversial dan berpotensi melanggar hukum.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kasus ini menunjukkan sisi gelap dari pengembangan AI yang sering kali mengandalkan bahan pelatihan yang tidak etis dan ilegal. Jika Meta benar mengunduh materi seperti itu dalam jumlah besar dan secara sistematis, hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan teknologi besar tidak hanya berperan sebagai inovator, tetapi juga sebagai pelaku pelanggaran hak cipta dan privasi.

Lebih jauh, ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana perusahaan teknologi mengelola data yang mereka kumpulkan, terutama materi sensitif dan ilegal. Jika mereka menggunakan data tersebut untuk melatih AI, risiko pelanggaran hak cipta dan privasi semakin besar, yang bisa berdampak pada reputasi dan regulasi yang lebih ketat di masa depan.

Ke depan, publik dan regulator harus mengawasi lebih ketat praktik pengumpulan data perusahaan AI seperti Meta. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prioritas utama untuk memastikan inovasi teknologi tidak merugikan hak cipta, privasi, dan norma sosial.

Untuk informasi lebih lanjut dan pembaruan terkini, Anda dapat membaca laporan lengkap dari The Atlantic.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad