Harga Emas Tak Banyak Bergerak Meski Konflik Iran vs AS-Israel Memanas

Mar 16, 2026 - 08:20
 0  3
Harga Emas Tak Banyak Bergerak Meski Konflik Iran vs AS-Israel Memanas

Harga emas dunia saat ini menunjukkan pergerakan yang relatif stagnan meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini cukup mengejutkan mengingat secara historis, emas dikenal sebagai aset "safe haven" yang biasanya menguat saat terjadi konflik global.

Ad
Ad

Harga Emas Tidak Melonjak Meskipun Konflik Memanas

Konflik terbaru dimulai setelah serangan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan tokoh penting Iran, Ayatollah Khamenei. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Arab dan menutup jalur penting Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur energi vital dunia.

Setelah serangan tersebut, harga emas sempat naik dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ounce. Namun, kenaikan ini tidak bertahan lama dan malah berbalik turun hingga lebih dari 6% menjadi US$5.085 pada 3 Maret 2026. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas bergerak stabil di kisaran US$5.050 hingga US$5.200 per troy ounce, dengan harga terakhir sekitar US$5.175 per troy ounce.

Faktor-Faktor yang Membuat Harga Emas Stagnan

Menurut Ross Norman, CEO situs analisis logam mulia Metals Daily, stagnasi harga emas dipengaruhi oleh beberapa faktor penting:

  • Penguatan Dolar AS yang membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menarik minat investor pada aset berbunga.
  • Kenaikan harga minyak akibat konflik yang dapat memperpanjang inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Norman menjelaskan, "Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang bergairah, tetapi mungkin itu wajar setelah lonjakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir." Dia juga menambahkan bahwa sebagian investor institusional mulai berhati-hati memegang emas karena volatilitas harga yang cukup tinggi.

Respons Pasar terhadap Konflik Geopolitik

Amer Halawi, Kepala Riset di perusahaan investasi Al Ramz, memberikan pandangan bahwa konflik geopolitik sering kali memicu aksi jual besar-besaran di awal krisis. Saat tekanan likuiditas terjadi, investor cenderung menjual berbagai aset terlebih dahulu untuk mendapatkan dana segar, termasuk emas yang biasanya dianggap aman.

"Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual sampai para pelaku pasar bisa memahami situasinya dan kembali memfokuskan investasi pada aset yang tepat," ujar Halawi dalam program "Access Middle East".

Fenomena ini merupakan dinamika tradisional pasar, di mana aset safe haven seperti emas pun sempat dijual sebelum akhirnya kembali diminati saat situasi mulai stabil.

Proyeksi Harga Emas Jangka Panjang Masih Optimis

Meski pergerakan harga emas tampak datar dalam jangka pendek, sejumlah bank investasi global tetap menyatakan optimisme terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Bank investasi JPMorgan Chase memperkirakan harga emas dapat mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026. Sementara itu, Deutsche Bank mempertahankan proyeksi harga US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun.

Para analis menilai ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung, inflasi yang masih tinggi, dan ketegangan di Timur Tengah akan terus mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai yang penting.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, stagnasi harga emas di tengah konflik Iran-AS-Israel menunjukkan dinamika pasar yang lebih kompleks daripada sekedar reaksi instan terhadap ketegangan geopolitik. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor penahan utama yang membatasi lonjakan harga emas meski risiko geopolitik meningkat.

Selain itu, aksi jual awal oleh investor saat krisis menunjukkan bahwa pasar keuangan global sedang beradaptasi dengan ketidakpastian, mencari likuiditas sebelum kembali ke aset-aset aman seperti emas. Hal ini menandakan bahwa volatilitas harga emas saat ini tidak mencerminkan penurunan kepercayaan terhadap emas, melainkan sebuah fase penyesuaian pasar.

Kedepannya, investor perlu mewaspadai potensi gangguan suplai energi global yang dapat memperpanjang inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Jika konflik meluas atau berlarut-larut, permintaan emas berpotensi meningkat tajam sebagai lindung nilai inflasi dan risiko geopolitik. Oleh karena itu, memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dan kebijakan moneter global akan sangat krusial bagi para pelaku pasar emas.

Dengan demikian, meskipun harga emas saat ini terlihat stabil, potensi kenaikan jangka panjang masih sangat terbuka lebar sebagai akibat ketidakpastian global yang terus berlanjut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad