Banjir Garoga 2026 Dikaji: Hujan Ekstrem Siklon Senyar Jadi Penyebab Utama
Banjir Garoga yang terjadi di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, menjadi fokus kajian para peneliti dari Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia (UI). Melalui pemodelan hidrologi dan hidrodinamik yang mendalam, tim peneliti berhasil mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang menyebabkan bencana tersebut, terutama fenomena hujan ekstrem yang dipicu oleh Siklon Senyar.
Hujan Ekstrem dan Dampak Longsor di Hulu DAS Garoga
Menurut Eko Kusratmoko, peneliti I-SER UI, "Hasil temuan karena Siklon Senyar mengakibatkan banjir bandang". Curah hujan saat kejadian bahkan mencapai 229,7 milimeter per hari, dengan akumulasi selama sepekan lebih dari 600 milimeter. Angka ini mencerminkan intensitas hujan yang sangat tinggi, dengan periode ulang yang diperkirakan mencapai 300 tahun.
Hujan ekstrem ini menyebabkan terjadinya longsoran di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Berdasarkan citra satelit, ditemukan sebanyak 1.572 titik longsor, dimana 81 persen berada di kawasan hutan dengan lereng yang curam hingga sangat curam.
"Hujan yang ekstrem ini menimbulkan longsoran hebat di hulu dan kemudian aliran debris lumpur menutup saluran sungai, sehingga terjadi jebol dan banjir bandang," jelas Eko.
Material longsoran yang terbawa aliran air sungai berpotensi menyumbat aliran, dan ketika tidak mampu menampung, pelepasan material serta air secara mendadak menyebabkan banjir bandang yang melanda wilayah hilir.
Perubahan Tutupan Lahan dan Aktivitas Pertambangan
Selain faktor cuaca dan kondisi lereng, peneliti juga menilai perubahan tutupan lahan dalam DAS Garoga dari tahun 1990 hingga 2026. Terjadi konversi lahan hutan menjadi perkebunan, namun perubahan ini hanya sekitar 10 persen dari total luas DAS seluas 445 km².
Lokasi perubahan tutupan lahan sebagian besar berada di bagian bawah DAS, yang menurut analisis tidak berkontribusi signifikan terhadap banjir bandang di hilir. Eko menegaskan, "Sebagian besar perubahan lahan berada di bagian bawah, jadi sebenarnya tidak ada efeknya dengan banjir."
Penelitian juga mengkaji aktivitas pertambangan di kawasan Aek Pahu yang pernah menjadi perhatian publik. Namun, berdasarkan analisis aliran sungai, wilayah pertambangan tersebut berada di luar sistem aliran utama yang terdampak banjir Garoga.
"Aliran air dari Aek Pahu mengalir ke bagian hilir Sungai Garoga, mendekati laut, dan tidak melalui bagian tengah yang mengalami banjir," tambah Eko.
Strategi Penataan Ruang untuk Mitigasi Banjir
Peneliti I-SER UI mendorong langkah mitigasi risiko banjir bandang dengan fokus pada penataan ruang yang lebih baik. Penataan ini meliputi penentuan zona aman untuk permukiman dan lokasi evakuasi bencana.
Eko Kusratmoko menyarankan, "Perlu ada pembahasan bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat agar penataan ruang sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan warga."
- Penentuan batas aman permukiman
- Penetapan lokasi evakuasi yang strategis
- Kesepakatan bersama antara Pemda dan masyarakat
Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari mitigasi jangka panjang menghadapi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di kawasan dengan topografi rawan longsor.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kajian mendalam mengenai banjir Garoga ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang tidak hanya dipicu oleh faktor alam seperti hujan ekstrem akibat siklon tropis, tetapi juga membutuhkan pendekatan multi-disiplin dalam penanggulangannya. Faktor topografi, penggunaan lahan, hingga tata ruang menjadi kunci penting yang harus dikontrol secara ketat.
Temuan bahwa aktivitas pertambangan Aek Pahu tidak berkontribusi langsung terhadap banjir menepis beberapa asumsi publik, sekaligus mengarahkan perhatian lebih kepada faktor alam seperti Siklon Senyar dan kondisi lereng yang curam. Hal ini menegaskan perlunya sistem peringatan dini dan pemantauan cuaca yang lebih canggih di wilayah rawan bencana.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat sangat krusial untuk menyusun kebijakan penataan ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim dan geografi lokal. Pembelajaran dari banjir Garoga ini juga harus menjadi dasar bagi kebijakan mitigasi bencana di kawasan lain yang memiliki karakteristik serupa.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai kajian ini, Anda dapat mengunjungi sumber aslinya di MetroTVNews. Selain itu, berita terkait bencana hidrometeorologi dan mitigasi bisa diakses melalui situs resmi BNPB dan berbagai portal berita nasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0