Jurnalis Perempuan dan Seniman Salurkan Donasi untuk Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Mar 18, 2026 - 16:00
 0  5
Jurnalis Perempuan dan Seniman Salurkan Donasi untuk Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Empat bulan pasca-bencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang, ratusan warga Desa Pantai Tinjau, Kecamatan Sekerak, masih bertahan di tenda pengungsian. Debu lumpur yang menempel di rumah-rumah yang rusak belum tertata, namun semangat bangkit mereka tetap menyala.

Ad
Ad

Pada Selasa (17/3/2026), suasana haru dan penuh harapan mewarnai Aula Yayasan Ahmad Basyirdarussalam di Desa Pantai Tinjau. Sebanyak 255 kepala keluarga penyintas banjir bandang dan longsor November 2025 menyambut rombongan dari Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) yang berkolaborasi dengan Rumah Literasi Ranggi (RLR) dan Medan Teater Tronic (MTT).

Donasi Berbasis Seni dan Literasi untuk Penyintas Banjir

Penyaluran donasi yang terdiri dari bahan pokok, uang tunai, serta ratusan buku ini bukan hanya bantuan materi biasa. Bantuan ini merupakan wujud kepedulian yang dibalut oleh seni dan literasi. Sepuluh aktor yang dilatih sutradara Hafiz Taadi dari FJPI, RLR, dan MTT, yang sebelumnya tampil dalam pementasan teater kemanusiaan berjudul "Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan" di Auditorium Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Medan pada 7 Maret 2026, secara langsung mengantarkan bantuan tersebut ke masyarakat Aceh Tamiang.

Kolaborasi Lintas Sektor dalam Gerakan Kemanusiaan

Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti DAAI TV Medan, Yayasan Budha Tzu Chi, YPSIM Medan, Teater Dermaga, INALUM, India Expatriate Association Medan, Permata Hijau Group, serta Pertamina EP. Bantuan relawan dari Sekolah Inspirasi Bangsa Tamiang dan Kepala Desa Pantai Tinjau, Evi Ananda, juga sangat berarti.

"Saya salut dan terkejut. Jurnalis perempuan ternyata begitu banyak dan peduli. Mewakili warga, saya sangat berterima kasih, terutama dari FJPI dan seniman yang hadir," ujar Datok Evi dengan suara bergetar.

Hafiz Taadi menegaskan pentingnya kolaborasi dalam aksi kemanusiaan ini. "Kami prihatin dengan dampak bencana yang masih dirasakan warga setelah empat bulan. Melalui seni, kami ingin membantu dan berbagi," ujarnya.

Peran Teater dan Literasi dalam Menyuarakan Kondisi Pengungsi

Khairiah Lubis, Ketua Umum FJPI, membuka acara dengan mengingat kembali pementasan teater kemanusiaan di YPSIM Medan yang menjadi media untuk menarik perhatian publik secara emosional.

"Teater dipilih karena pers global terus berinovasi. Melalui tubuh dan dialog, pesan bisa menembus emosi. Semoga pementasan kemarin dapat mengingatkan dan menyuarakan kondisi pengungsi yang butuh penanganan serius dan cepat," kata Khairiah.

Acara semakin mengharukan saat Rindy Rayani, aktor dari Teater Dermaga Belawan, membacakan puisi berjudul Suara dari Sumatera. Puisi ini menyentuh hati warga hingga meneteskan air mata.

"Puisi itu seperti obat penyembuh luka batin, menyentuh jiwa kami yang masih terluka," ujar salah satu warga.

Sementara itu, Ranggini, Pendiri RLR, menyerahkan ratusan buku cerita dan pengetahuan kepada anak-anak Desa Pantai Tinjau.

"Buku adalah jendela dunia bagi anak-anak di sini. Mereka butuh mimpi baru setelah kehilangan rumah dan kenangan," ucap Ranggini sambil tersenyum hangat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kolaborasi antara jurnalis perempuan dan seniman dalam penyaluran donasi bagi penyintas banjir Aceh Tamiang ini bukan hanya sekadar aksi sosial biasa, melainkan sebuah model sinergi yang inspiratif. Seni dan literasi menjadi medium efektif untuk menyuarakan kondisi para pengungsi yang seringkali terabaikan oleh perhatian publik. Pendekatan ini juga membuka ruang baru bagi media untuk tidak hanya meliput fakta, tapi juga menggerakkan aksi nyata.

Lebih jauh, peristiwa ini menunjukkan bahwa penanganan pasca-bencana membutuhkan dukungan multidimensi, bukan hanya bantuan material, tetapi juga pemulihan psikososial melalui seni dan edukasi. Ke depan, kolaborasi lintas sektor seperti ini harus diperluas dan didukung oleh pemerintah serta masyarakat luas agar penyintas dapat segera pulih secara menyeluruh.

Masyarakat dan pihak terkait perlu terus memantau perkembangan kondisi pengungsi dan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan. Inisiatif seperti ini menjadi harapan baru bagi penyintas bencana di Indonesia, sekaligus mengingatkan kita semua pentingnya solidaritas dalam menghadapi bencana.

Dengan momentum ini, diharapkan perhatian nasional terhadap Aceh Tamiang dan daerah-daerah rawan bencana lain semakin meningkat, termasuk dukungan praktis dari berbagai elemen masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad