Harga Minyak Mulai Mendingin, Tapi Ancaman Gejolak Timur Tengah Masih Mengintai

Mar 18, 2026 - 19:11
 0  5
Harga Minyak Mulai Mendingin, Tapi Ancaman Gejolak Timur Tengah Masih Mengintai

Harga minyak mentah dunia menunjukkan penurunan setelah beberapa waktu bergerak sangat labil. Meski begitu, ancaman baru dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus membayangi pasar, berpotensi mengerek kembali harga minyak dalam waktu dekat.

Ad
Ad

Harga Minyak Brent dan WTI Turun Setelah Lonjakan

Merujuk data Refinitiv pada Kamis pagi (18/3/2026) pukul 08.38 WIB, harga minyak Brent turun sebesar 0,82% menjadi US$ 102,57 per barel, sementara harga minyak WTI anjlok 1,32% ke level US$ 94,94 per barel. Penurunan ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan Rabu (17/3/2026) yang mencatat kenaikan signifikan, di mana Brent naik 3,2% dan WTI melonjak 2,9%.

Meskipun melemah, harga minyak masih berada di level tinggi, didorong oleh ketegangan yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi minyak dunia.

Ancaman Baru dari Kematian Pejabat Iran Ali Larijani

Pasar semakin waspada setelah media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan tokoh penting dalam kepemimpinan masa perang negara itu. Kematian Larijani memperbesar kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan minyak global.

"Pembunuhan Larijani sangat signifikan dan dapat meningkatkan tekad Iran untuk mengganggu pengiriman minyak," ujar Aaron Stein, Presiden Foreign Policy Research Institute, dikutip dari Reuters.

Peristiwa ini terjadi di tengah upaya Presiden AS Donald Trump untuk membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Trump sebelumnya meminta sekutunya mengerahkan kapal perang untuk mengamankan selat tersebut, namun permintaan itu ditarik kembali karena kurangnya dukungan.

Konflik dan Gangguan Pasokan Mendorong Harga Minyak Tetap Tinggi

Tahun ini, harga minyak mentah AS sudah melonjak lebih dari 60%, terutama akibat serangan awal oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Balasan serangan dari Teheran menargetkan infrastruktur energi serta lalu lintas kapal tanker, memicu kekhawatiran inflasi global.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran meningkatkan serangan, termasuk serangan berat ke wilayah Arab Saudi, khususnya di provinsi timur yang merupakan lokasi infrastruktur minyak penting.

Dengan Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup, pemerintah Saudi mempercepat upaya menyalurkan minyak melalui jalur pipa alternatif menuju pelabuhan di Laut Merah agar pasokan tetap terjaga.

Pengaruh Politik terhadap Lalu Lintas Kapal dan Prediksi Harga

Situasi lalu lintas kapal saat ini sangat dipengaruhi oleh pertimbangan politik, di mana Iran membatasi akses kapal berdasarkan hubungan politik dengan negara pengirim. Kapal dari negara yang tidak bersahabat bisa diblokir atau dibatasi melintas.

"Kami belum melihat tanda-tanda konflik akan berakhir. Dengan meningkatnya gangguan produksi dan Selat Hormuz yang masih tertutup, kami memperkirakan harga Brent akan bertahan di kisaran US$95-US$110 per barel," kata Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas Westpac.

Rennie menambahkan bahwa jika terjadi serangan terhadap kilang besar atau ada konfirmasi ranjau di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak lagi sebesar US$10-US$20 per barel.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, meskipun harga minyak mulai melandai, kondisi geopolitik yang tidak stabil di Timur Tengah, khususnya kematian tokoh penting Iran, dapat menjadi pemicu ketegangan baru yang berpotensi mendongkrak harga minyak secara signifikan. Pasar minyak dunia sangat sensitif terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak global. Dengan adanya pembatasan lalu lintas kapal yang didasarkan pada hubungan politik, risiko gangguan pasokan akan terus membayangi.

Selain itu, peran Amerika Serikat dalam menjaga keamanan jalur perdagangan minyak ini juga menjadi faktor penting. Tekanan politik terhadap kebijakan keamanan di wilayah tersebut bisa memicu intervensi militer yang lebih tegang, sehingga potensi konflik semakin besar.

Ke depan, para pelaku pasar dan pemerintah harus terus memonitor perkembangan situasi politik dan militer di Timur Tengah. Langkah diplomasi dan pengamanan di Selat Hormuz menjadi sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga minyak yang berdampak langsung pada inflasi dan ekonomi global.

Perkembangan terbaru akan kami pantau dan laporkan secara berkelanjutan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai dinamika pasar minyak dan implikasinya bagi Indonesia dan dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad