Berdamai dengan Bencana: Kisah Inspiratif Sulaiman Bangkit dari Derita Banjir Aceh
Banjir besar yang melanda Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh pada 26 November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat, termasuk Muktar Sulaiman, seorang pria berusia 65 tahun. Meski kehilangan rumah dan lahan perkebunan, Sulaiman masih menemukan kekuatan untuk bersyukur karena keluarganya selamat dari amukan air bah tersebut.
Perjalanan Sulaiman Menyusuri Kenangan dan Luka
Dengan langkah tanpa alas kaki, Sulaiman menyusuri tanah bekas banjir sambil melantunkan lagu berisi lirik mendalam, "Tuhan dosa apakah yang kami perbuat selama ini hingga akhirnya Kau menurunkan musibah ini?" Nada suaranya pelan menyatu dengan angin, mengekspresikan kesedihan sekaligus harapan.
Lagu itu bukan hanya pengakuan duka, melainkan juga bentuk berdamai dengan takdir yang tak terelakkan. Dalam bait-baitnya, terkandung kisah kehilangan rumah, kebun durian, duku, dan sawit yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga Sulaiman.
Banjir yang meluluhlantakkan Sekumur tersebut bukanlah yang pertama kali dialaminya. Ia pernah menghadapi banjir pada tahun 1986 dan 2006, namun kali ini air datang dengan kekuatan jauh lebih besar, membawa kayu-kayu raksasa dan lumpur yang menghancurkan segala sesuatu.
Membangun Kembali dari Reruntuhan dan Harapan Baru
Meski kehilangan besar, Sulaiman tetap bersyukur karena seluruh keluarganya, istri, tujuh anak, dan 15 cucu, berhasil selamat. Keselamatan mereka menjadi alasan kuat baginya untuk menerima dan bangkit kembali.
Selama berbulan-bulan pascabanjir, Sulaiman bergantung pada bantuan pemerintah dan swasta untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti beras, daging, pakaian, dan obat-obatan. Kini, setelah kembali ke rumah, ia berencana membersihkan lahan perkebunan yang hancur setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
"Saat ini kami masih menjalankan ibadah puasa, jadi belum memungkinkan untuk aktivitas berat di kebun," ujarnya.
Namun, Sulaiman tidak tinggal diam. Ia mulai memanfaatkan kayu bekas banjir untuk membuat perahu, keahlian yang diwarisi sejak remaja dari ayahnya. Sebatang kayu gelam besar yang terdampar menjadi bahan utama pembuatan perahu baru yang ia rencanakan selesai dalam 20 hari dan akan dijual seharga Rp4 juta.
Perahu sebagai Simbol Kebangkitan dan Kepedulian Sosial
Sulaiman memiliki empat perahu yang selama ini digunakan untuk transportasi sungai dan menangkap ikan. Perahu-perahu itu juga berperan penting saat evakuasi warga dari bencana, menunjukkan bahwa karyanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
"Perahu saya sering dipakai untuk menolong warga yang hanyut di sungai," katanya.
Dengan keahlian membuat perahu, Sulaiman tidak hanya membangun kembali hidupnya, tetapi juga memberikan kontribusi sosial penting di tengah komunitasnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kisah Sulaiman mengajarkan kita bahwa ketahanan dan semangat bangkit dari bencana adalah kunci utama menghadapi musibah alam yang tak terduga. Banjir Aceh Tamiang bukan sekadar kerusakan fisik, tetapi juga ujian mental dan sosial bagi masyarakatnya.
Yang menarik, Sulaiman menunjukkan bagaimana warisan budaya dan keahlian tradisional seperti pembuatan perahu bisa menjadi modal penting dalam pemulihan ekonomi dan sosial pascabencana. Ini menegaskan bahwa solusi lokal dan kearifan budaya harus mendapatkan perhatian lebih dalam strategi mitigasi bencana dan pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, kita perlu memperhatikan bagaimana sektor informal dan ketrampilan turun-temurun dapat diintegrasikan dalam program bantuan dan rehabilitasi. Kisah Sulaiman juga mengingatkan pentingnya bantuan jangka panjang dan pemberdayaan komunitas agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang setelah bencana.
Berdamai dengan bencana ala Sulaiman bukan hanya tentang menerima kehilangan, melainkan juga menyalakan kembali harapan dan membangun masa depan dengan tangan sendiri. Kisahnya layak menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi seluruh bangsa dalam menghadapi tantangan alam yang semakin tidak menentu.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0