Benih untuk Pulih: Perjalanan Panjang Memulihkan Hulu Hutan Sumatera Pasca Bencana
Hulu hutan Sumatera tengah menghadapi tantangan berat setelah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah pada akhir 2025. Kerusakan parah pada daerah hulu hutan menyebabkan pohon-pohon tumbang dan kayu gelondongan terbawa air bah hingga ke pantai-pantai Sumatera, memperlihatkan betapa rentannya ekosistem tersebut. Kondisi ini mendorong peluncuran program Benih untuk Pulih, sebuah inisiatif kolaborasi antara Eiger dan National Geographic Indonesia yang resmi diperkenalkan pada 12 Maret 2026.
Fokus Awal: Pemetaan Kondisi Hulu Hutan
Program Benih untuk Pulih menandai awal perjalanan panjang dalam upaya pemulihan kawasan hutan di Sumatera. Tahap pertama yang dilakukan adalah pemetaan kondisi hulu hutan dengan titik fokus di dua lokasi utama, yakni Bentang Leuseur yang membentang di Aceh dan Sumatera Utara, serta Batu Sangkar di Sumatera Barat. Pemetaan ini akan dimulai pada kuarter kedua 2026, kira-kira bulan April.
Menurut Zakiy Zulkarnaen, Brand Communications Eiger, pemilihan lokasi didasarkan pada data awal yang diperoleh dari jaringan lapangan National Geographic. Pemetaan ini penting untuk memahami dampak kebencanaan secara detail dan menjadi landasan strategi pemulihan yang tepat.
"Jadi, premisnya, kita pengen balik ke Sumatera untuk memetakan gimana sih dampak kebencanaan di sana, khususnya di hutan-hutan tutupan di sana," ujar Zakiy dalam jumpa pers di Jakarta.
Kerusakan Ekosistem dan Tantangan Pemulihan
Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, menjelaskan bahwa Bentang Leuseur memiliki peran ekologis penting karena menjadi jalur habitat bagi satwa langka seperti badak Sumatera, harimau Sumatera, dan orangutan Tapanuli. Sayangnya, hampir 50 persen hutan di Sumatera telah hilang akibat aktivitas hutan produksi, yang membuat kondisi ekosistem semakin terancam.
"Kita enggak mungkin mengembalikan kondisinya 100 persen, tapi kita bisa mendekati apa yang dibutuhkan ekosistemnya... Paling tidak, kita mengembalikannya dengan pemahaman-pemahaman ekologi yang lebih baik," jelas Didi.
Melalui pemetaan, Benih untuk Pulih bertujuan menggali data mendalam tentang kondisi hutan sebelum bencana, dengan melibatkan akademisi dan masyarakat adat setempat. Pendekatan ini memastikan proses pemulihan tidak hanya restoratif, tapi juga berkelanjutan dan selaras dengan kebutuhan ekologi asli.
Sertifikat Wali Pohon: Melibatkan Masyarakat dalam Pemulihan
Setelah tahap pemetaan, program akan berlanjut dengan penanaman pohon di area yang gundul. Penanaman akan berfokus pada pohon endemik yang sesuai dengan kondisi lapangan, untuk memastikan keberhasilan restorasi ekologis.
Eiger mengajak pelanggan dan masyarakat luas untuk berpartisipasi melalui program Sertifikat Wali Pohon. Mereka yang berbelanja dengan nominal tertentu dapat menjadi wali pohon, yang namanya akan dicatat dan ditempelkan pada pohon yang ditanam sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian langsung.
"Nanti ketika kita benar-benar sudah eksekusi di Sumatera, nama-namanya akan kita taggung di pohon-pohon yang kita tanam," ujar Zakiy.
Edukasi dan Kesadaran Mitigasi Bencana
Pohon yang ditanam bukanlah akhir dari perjalanan program ini. Benih untuk Pulih juga berkomitmen untuk mengedukasi masyarakat, baik yang tinggal di lokasi terdampak maupun masyarakat umum, tentang pentingnya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.
"Ujung-ujungnya akan ke edukasi mitigasi bencana," kata Zakiy, menegaskan bahwa edukasi menjadi bagian penting dari program ini.
Kesadaran ini sangat penting mengingat Indonesia rawan terhadap berbagai bencana alam. Dengan pengetahuan dan tindakan bersama, potensi kerusakan di masa depan dapat diminimalisir.
Didi menambahkan bahwa edukasi juga berfungsi sebagai modal sosial untuk menyamakan persepsi dan mendorong kebijakan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
"Saya sedih untuk mengatakan (bencana) ini momentum, tapi paling tidak, kita mau mulai dari sini," tutup Didi.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, program Benih untuk Pulih menjadi langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga pada pemahaman ekologi dan pelibatan komunitas lokal. Pendekatan ini sangat krusial karena pemulihan hutan tidak bisa dilakukan secara instan atau hanya dengan menanam pohon tanpa memperhatikan ekosistem asli dan sosial budaya masyarakat sekitar.
Salah satu hal yang kurang disorot publik adalah potensi peran masyarakat adat dan akademisi dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan tradisi lokal untuk restorasi hutan. Keterlibatan mereka dapat meningkatkan efektivitas program dan menjaga keberlanjutan jangka panjang.
Kedepannya, kita perlu mengawasi bagaimana implementasi program ini, terutama dalam memastikan pohon-pohon endemik benar-benar ditanam dan dirawat dengan baik. Selain itu, edukasi mitigasi bencana yang terus dilakukan harus mampu mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap alam dan siap menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Kesimpulan
Program Benih untuk Pulih menandai sebuah inisiatif penting dalam upaya pemulihan hutan Sumatera yang rusak akibat bencana banjir bandang. Dengan pemetaan akurat, penanaman pohon endemik, dan edukasi mitigasi bencana, diharapkan ekosistem hutan dapat pulih secara bertahap dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Perjalanan ini memang panjang dan penuh tantangan, namun langkah awal ini menjadi fondasi yang kuat untuk masa depan hutan Sumatera yang lestari.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0