Perjuangan Ayah di Pasar Tukka Menyediakan Tempat Berteduh Pasca Banjir Bandang

Mar 23, 2026 - 17:00
 0  4
Perjuangan Ayah di Pasar Tukka Menyediakan Tempat Berteduh Pasca Banjir Bandang

Ingotan Tua Draha berdiri tegak di atas timbunan lumpur yang dulunya adalah lantai rumahnya, di tengah terik matahari siang yang menyengat. Rumah puluhan tahun yang menjadi tempat berlindung keluarganya kini terkubur pasir dan tanah akibat banjir bandang dan longsor di Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, Tapanuli Tengah. Bersama istri dan delapan anaknya, ia harus memulai hidup dari nol tanpa rumah dan dengan keterbatasan ekonomi yang melanda.

Ad
Ad

Keputusan Sulit Memilih Kontrak Rumah

Alih-alih tinggal di pengungsian, Ingotan memilih mengontrak rumah dengan biaya sendiri. Keputusan ini bukan karena mampu, melainkan karena keadaan yang memaksa. Ia menyadari, hidup berdesakan di tenda pengungsian tidak layak untuk keluarga besar dan anak-anak yang masih sekolah.

“Kalau di tenda tidak mungkin. Kami ini banyak, ada delapan anak saya,”

Namun, setelah bencana, penghasilan Ingotan dan keluarganya berhenti. Tabungan yang mestinya menjadi pegangan masa depan perlahan terkuras untuk membayar biaya kontrakan. Meski begitu, bagi Ingotan, keselamatan dan rasa aman keluarganya jauh lebih berharga daripada uang yang tersisa.

Di Desa Pasar Tukka, fasilitas pengungsian masih sangat terbatas. Tenda pengungsian bahkan belum tersedia. Pemerintah pernah menjanjikan bantuan uang sewa sebesar Rp600 ribu bagi penyintas, namun empat bulan setelah bencana, bantuan tersebut belum cair.

“Katanya ada bantuan kontrak, tapi belum cair. Sudah lama kami tunggu,”

Kehidupan Masyarakat Pasar Tukka Pasca Banjir

Sebelum bencana, sebagian besar warga Pasar Tukka berprofesi sebagai petani padi dan karet dengan semangat gotong royong yang kuat. Namun, akibat banjir dan longsor, sawah serta kebun karet mereka nyaris tertimbun lumpur, membuat roda perekonomian terhenti.

Banyak warga beralih profesi menjadi kuli bangunan untuk bertahan hidup dan membangun kembali kampung mereka.

  • Petani beralih ke pekerjaan konstruksi
  • Tabungan menipis akibat biaya hidup pasca bencana
  • Bantuan pemerintah dan organisasi nonpemerintah belum merata

Ingotan berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan yang dijanjikan dan memperbaiki infrastruktur terutama sungai yang menjadi penyebab utama bencana agar tragedi serupa tidak terulang.

Janji dan Harapan di Tengah Kesulitan

Rumah Ingotan yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal nyaman kini hanya menyisakan bagian toilet yang terlihat, sementara bagian lainnya tertimbun lumpur dan pasir. Ia kini tinggal bersama keluarganya di rumah kontrakan yang dibagi menjadi beberapa kamar sederhana.

“Biar bagaimanapun, kami akan tetap berusaha menata kembali runtuhan ini menjadi rumah tinggal yang nyaman ketika ekonomi kami sudah membaik,”

Menurut Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, pemerintah daerah terus berupaya memulihkan kehidupan warga terdampak dengan mempercepat pendataan dan penyaluran bantuan, terutama bagi rumah yang rusak berat. Bantuan dari pemerintah provinsi sudah diberikan untuk satu bulan dan akan diupayakan lanjutan bulan berikutnya.

“Kalau ada warga yang menyewa rumah secara mandiri, sebenarnya sudah ada beberapa bantuan, baik dari organisasi nonpemerintah maupun dari pemerintah provinsi,”

Masinton mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan kerusakan agar bantuan tepat sasaran dan pendataan valid.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kisah Ingotan Tua Draha menjadi cermin nyata bagaimana keteguhan seorang kepala keluarga berperan penting dalam menghadapi bencana dan keterbatasan bantuan. Pilihan untuk mengontrak rumah secara mandiri di tengah minimnya fasilitas pengungsian dan keterlambatan bantuan pemerintah menunjukkan realitas pahit yang dihadapi warga terdampak.

Selain itu, kondisi ini menyoroti pentingnya percepatan distribusi bantuan serta pembangunan infrastruktur yang dapat mencegah bencana serupa. Pemerintah perlu memastikan bahwa janji bantuan tidak hanya berhenti di kata-kata, tetapi terealisasi tepat waktu agar warga tidak terjebak dalam ketidakpastian yang memperburuk kondisi psikologis dan ekonomi mereka.

Ke depan, perhatian terhadap penyediaan fasilitas pengungsian yang memadai dan program pemulihan ekonomi pascabanjir harus menjadi prioritas. Peran masyarakat dalam pendataan dan pelaporan kerusakan juga harus difasilitasi agar bantuan bisa lebih efektif dan tepat sasaran.

Kisah Ingotan dan keluarganya mengingatkan kita betapa pentingnya ketahanan keluarga dan komunitas dalam menghadapi bencana. Ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk mempercepat penanganan pascabencana demi membangun kembali kehidupan yang lebih baik.

Penutup

Masa depan Ingotan dan keluarganya masih penuh ketidakpastian, namun semangat mereka untuk bangkit menjadi inspirasi. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, harapan memiliki rumah kembali dan kehidupan yang layak dapat terwujud. Mari terus mengikuti perkembangan pemulihan pascabanjir di Tapanuli Tengah agar kisah seperti ini tidak terulang dan semua korban mendapatkan perhatian maksimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad