Banjir Pasuruan dan Sikka 2026: Ribuan Warga Terdampak dan Longsor Mengancam

Mar 23, 2026 - 22:20
 0  5
Banjir Pasuruan dan Sikka 2026: Ribuan Warga Terdampak dan Longsor Mengancam

Banjir di Pasuruan dan Sikka kembali menjadi perhatian serius pada Maret 2026. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ribuan warga terdampak banjir dan longsor di dua wilayah berbeda ini, yang terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pasca-Lebaran 2026.

Ad
Ad

Banjir Pasuruan: 100 Kepala Keluarga Terendam Air hingga 40 cm

Di Kota Pasuruan, Jawa Timur, genangan air dengan ketinggian antara 5 hingga 40 sentimeter masih menggenangi beberapa wilayah, khususnya di Kecamatan Gadingrejo. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Karangketug serta Desa Rujak Gadung dan Desa Karang Asem.

Banjir ini dipicu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Sabtu malam, 21 Maret 2026, yang diperparah oleh pasang air laut sehingga debit Sungai Welang meningkat dan meluap ke permukiman warga. Sekitar 100 kepala keluarga dan 100 unit rumah terdampak banjir.

“Pemantauan ketinggian air terus dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan debit air serta memastikan keselamatan warga,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kota Pasuruan masih aktif melakukan asesmen dan pemantauan, terutama karena status siaga darurat bencana hidrometeorologi masih berlaku hingga 1 Mei 2026 di wilayah tersebut.

Banjir dan Longsor di Sikka: Ribuan Warga Terancam dan Infrastruktur Rusak

Sementara itu, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), banjir juga melanda sejak Jumat, 20 Maret 2026. Hujan deras menyebabkan Sungai Lowo Regi meluap, yang merusak akses jalan penghubung antar desa dan menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas.

Data BNPB mencatat bahwa sebanyak 2.922 kepala keluarga atau 12.981 jiwa terdampak dari banjir ini. Kerusakan meliputi 2.922 unit rumah, dengan satu rumah rusak berat dan tiga rumah rusak ringan. Selain itu, lahan pertanian seluas 15 hektare, pipa air bersih, dan empat titik akses jalan mengalami kerusakan.

Kebutuhan mendesak di lokasi terdampak antara lain bantuan sembako, air bersih, terpal, serta perbaikan darurat akses jalan.

Selain banjir, longsor juga terjadi di Sikka, mengancam akses antar desa di Kecamatan Tanawawo. Material longsor menutup jalan antara Desa Poma dan Desa Napugera, menyebabkan 11 kepala keluarga dan rumah mereka terancam. Upaya pembersihan dan pembukaan akses jalan masih terus dilakukan oleh BPBD, TNI/Polri, relawan, dan masyarakat setempat.

Imbauan BNPB: Waspada Bencana Hidrometeorologi Pasca-Lebaran

BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi seperti Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

“Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan saluran air, dan segera mengungsi jika terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda longsor,” ujar Abdul Muhari.

Imbauan ini krusial mengingat mobilitas masyarakat yang meningkat pasca-Lebaran dapat memperburuk risiko dan dampak bencana. Kebersihan saluran air menjadi kunci utama dalam mengurangi potensi genangan air dan banjir.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, banjir dan longsor yang terjadi di Pasuruan dan Sikka pada awal 2026 ini memperlihatkan keterkaitan erat antara faktor alam dan aktivitas manusia. Peningkatan mobilitas pasca-Lebaran berpotensi memperparah kondisi bencana, terutama jika kesiapsiagaan dan mitigasi belum maksimal.

Selain itu, bencana hidrometeorologi ini menegaskan perlunya pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, termasuk pengaturan pasang surut air laut dan penguatan infrastruktur sungai agar tidak mudah meluap ke permukiman. Kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur jalan di Sikka juga menunjukkan dampak ekonomi yang bisa memperlambat pemulihan masyarakat terdampak.

Ke depan, masyarakat dan pemerintah daerah harus meningkatkan koordinasi dalam mitigasi bencana, termasuk edukasi kesiapsiagaan dan perencanaan tata ruang yang adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Pantauan BNPB dan BPBD harus terus ditingkatkan, terutama menjelang musim hujan berikutnya, agar korban dan kerugian dapat diminimalisir.

Simak terus perkembangan banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya melalui update resmi BNPB dan media terpercaya untuk informasi terkini dan langkah antisipasi yang perlu dilakukan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad