BNPB Rilis Banjir dan Longsor 22-23 Maret 2026: Dampak Serius di Jatim & NTT

Mar 25, 2026 - 11:31
 0  7
BNPB Rilis Banjir dan Longsor 22-23 Maret 2026: Dampak Serius di Jatim & NTT

BNPB merilis laporan bencana periode 22-23 Maret 2026 yang didominasi oleh kejadian banjir dan longsor di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Kejadian ini berlangsung di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pasca Idul Fitri, yang berpotensi memperparah dampak bencana di lapangan.

Ad
Ad

Banjir Melanda Kota Pasuruan, Jawa Timur

Di Kota Pasuruan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sejak Sabtu malam, memicu banjir akibat luapan Sungai Welang yang diperparah oleh pasang air laut. Genangan air tercatat mencapai 5 hingga 40 cm, merendam permukiman warga di Kecamatan Gadingrejo, khususnya di Kelurahan Karangketug, Desa Rujak Gadung, dan Karang Asem.

  • 100 kepala keluarga terdampak
  • 100 rumah terendam banjir

BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kota Pasuruan segera melakukan asesmen dan pemantauan ketinggian air untuk mengantisipasi potensi kenaikan debit air dan memastikan keselamatan warga. Peristiwa ini terjadi saat Jawa Timur masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang berlangsung sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.

Banjir dan Longsor di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur

Sementara itu, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, banjir melanda sejak Jumat (20/3) akibat hujan deras yang menyebabkan Sungai Lowo Regi meluap. Banjir merusak akses jalan di Desa Masebewa dan berdampak pada 10 desa dengan total:

  • 2.922 kepala keluarga atau 12.981 jiwa terdampak
  • 2.922 rumah terdampak, dengan 1 rumah rusak berat dan 3 rusak ringan
  • 15 hektare lahan pertanian rusak
  • Kerusakan pada pipa air bersih dan beberapa titik akses jalan

Warga terpaksa menyeberangi banjir dengan berjalan kaki, menimbulkan risiko keselamatan. BPBD Kabupaten Sikka bersama instansi terkait telah melakukan pendataan dan penanganan, mengidentifikasi kebutuhan mendesak seperti sembako, terpal, air bersih, dan perbaikan akses jalan.

Selain banjir, longsor juga terjadi di wilayah ini, menutup akses jalan antara Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo. Sebanyak 11 kepala keluarga dan rumah mereka terancam. Penanganan dilakukan dengan pembersihan material longsor dan pembukaan kembali akses jalan.

Imbauan BNPB dan Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah

BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi. Masyarakat diminta untuk:

  • Memantau perkembangan cuaca secara rutin
  • Menjaga lingkungan agar tidak memperparah risiko bencana
  • Segera mengungsi jika situasi memburuk

Selain itu, pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor untuk meminimalkan risiko bencana di tengah aktivitas masyarakat yang masih tinggi pasca Lebaran.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, banjir dan longsor yang terjadi di periode ini menegaskan kerentanan wilayah-wilayah tertentu di Indonesia terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim peralihan dengan curah hujan tinggi. Meningkatnya mobilitas masyarakat pasca Idul Fitri juga menjadi faktor risiko karena potensi evakuasi dan penyelamatan menjadi lebih kompleks di tengah aktivitas warga yang padat.

Selain dampak langsung berupa kerusakan rumah dan infrastruktur, bencana ini berpotensi memperburuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat, khususnya yang menggantungkan hidup pada pertanian dan akses jalan yang kini terputus. Hal ini menunjukkan perlunya perencanaan mitigasi bencana yang lebih terintegrasi dan proaktif, termasuk peningkatan sistem peringatan dini dan edukasi masyarakat.

Kedepannya, penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk terus memperkuat koordinasi dan mempercepat penanganan pascabencana untuk mengurangi dampak berkepanjangan. Masyarakat juga harus lebih adaptif dan responsif terhadap peringatan dini. Monitoring cuaca dan kesiapsiagaan harus menjadi budaya baru agar potensi kerugian bisa diminimalkan.

Dengan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di awal tahun dan menjelang musim penghujan, publik harus tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan bencana serupa di masa datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad