BPBD Probolinggo Usulkan Perpanjangan Status Tanggap Darurat hingga Juni 2026

Mar 25, 2026 - 18:30
 0  9
BPBD Probolinggo Usulkan Perpanjangan Status Tanggap Darurat hingga Juni 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengajukan usulan perpanjangan masa status tanggap darurat bencana hingga 30 Juni 2026. Langkah ini diambil menyusul masih tingginya potensi bencana di wilayah tersebut, terutama terkait cuaca ekstrem dan hidrometeorologi basah.

Ad
Ad

Usulan Perpanjangan Status Tanggap Darurat dengan Alasan Potensi Bencana Masih Tinggi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengungkapkan bahwa masa tanggap darurat yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 31 Maret 2026 kini diusulkan diperpanjang hingga akhir Juni 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat koordinasi siaga bencana secara daring, pada Rabu, 25 Maret 2026.

"Status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem dan hidrometeorologi basah yang sebelumnya berakhir pada 31 Maret 2026, saat ini diusulkan untuk diperpanjang hingga 30 Juni 2026," ujar Oemar Sjarief.

Rapat ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, yang melibatkan seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD) serta camat di wilayah tersebut. Ugas menegaskan pentingnya perpanjangan status ini karena progres penanganan bencana masih berlangsung dan potensi bahaya belum sepenuhnya hilang.

"Kami mengusulkan perpanjangan status tanggap darurat karena penanganan darurat masih berjalan dan kondisi lapangan masih menunggu berkurangnya potensi bahaya," tambah Ugas.

Dampak Bencana dan Kondisi Terkini di Kabupaten Probolinggo

Salah satu dampak nyata dari bencana yang terjadi adalah putusnya jembatan akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Probolinggo. BPBD mencatat berbagai kejadian bencana yang mendominasi sejak awal tahun 2026, antara lain:

  • Banjir
  • Cuaca ekstrem
  • Tanah longsor

Penanganan darurat terhadap kejadian ini masih terus berlangsung dan membutuhkan koordinasi serta kesiapsiagaan bersama dari semua pihak.

Selain itu, selama periode libur Lebaran, BPBD juga mencatat kejadian kebakaran rumah dan krisis air bersih di beberapa wilayah akibat gangguan pada fasilitas PDAM. Hal ini menjadi perhatian serius agar pelayanan dasar tetap berjalan optimal.

Peningkatan Kewaspadaan pada Masa Pancaroba dan Persiapan Menghadapi Musim Kemarau

Menjelang masa pancaroba Maret hingga April 2026, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang, puting beliung, petir, serta hujan dengan intensitas tinggi namun berdurasi singkat.

"Potensi cuaca seperti ini bisa memicu bencana lanjutan seperti banjir dan longsor," pesan Kepala BPBD, Oemar Sjarief.

Berdasarkan prediksi cuaca, curah hujan di wilayah Probolinggo diperkirakan masih tinggi hingga April 2026, terutama di beberapa kecamatan yang masuk kategori curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Pada Mei, intensitas hujan mulai menurun, dan Juni sebagian besar wilayah akan memasuki musim kemarau.

Meski demikian, kewaspadaan harus tetap dijaga karena risiko bencana peralihan musim masih ada. BPBD juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang meliputi potensi krisis air bersih dan kebakaran lahan.

Persiapan ini mencakup koordinasi lintas sektor dan penguatan mitigasi melalui:

  • Pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana)
  • Pemasangan rambu kebencanaan
  • Penyusunan rencana kontingensi terintegrasi

Optimalisasi Kolaborasi Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana

Oemar Sjarief menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix—yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media—untuk memperkuat upaya mitigasi dan respons bencana.

"Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus dengan kolaborasi pentahelix agar mitigasi dan respons menjadi lebih efektif," jelasnya.

Upaya kolaboratif ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan bencana yang terus muncul di Kabupaten Probolinggo.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, usulan perpanjangan status tanggap darurat di Kabupaten Probolinggo bukan sekadar langkah administratif, tetapi mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi daerah dalam mengelola risiko bencana yang bersifat dinamis dan kompleks. Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang terus muncul menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan dan peningkatan sistem mitigasi yang adaptif.

Perpanjangan ini juga menunjukkan bahwa penanganan bencana memerlukan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Masyarakat dan pemerintah daerah harus terus berkolaborasi agar dampak bencana bisa diminimalisasi secara signifikan. Kesiapsiagaan di masa pancaroba dan transisi musim kemarau harus menjadi prioritas agar tidak terjadi krisis air bersih dan kebakaran lahan yang meluas.

Kedepan, publik perlu mengawasi perkembangan situasi, terutama efektivitas pelaksanaan mitigasi dan respons dari berbagai pihak. Jangan sampai momentum perpanjangan status tanggap darurat ini hanya menjadi formalitas tanpa diiringi tindakan nyata di lapangan. Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini terkait status bencana di Probolinggo, pembaca dapat melihat langsung sumbernya di MetroTVNews dan berita resmi dari pemerintah provinsi Jawa Timur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad