Agusen Desa Wisata di Kaki Leuser yang Hancur Akibat Banjir Bandang 2025

Mar 28, 2026 - 08:10
 0  5
Agusen Desa Wisata di Kaki Leuser yang Hancur Akibat Banjir Bandang 2025

Desa Agusen yang terletak di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, merupakan sebuah desa wisata yang berada di kaki Gunung Leuser. Desa ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan hutan lindung di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Namun, keindahan dan potensi alamnya kini hancur akibat banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah itu pada November 2025.

Ad
Ad

Sejarah dan Perubahan Sosial Ekonomi Desa Agusen

Agusen memiliki sejarah panjang yang berawal dari masa kolonial Belanda, di mana daerah ini dijadikan pengasingan bagi penderita kusta (lepra). Setelah kemerdekaan Indonesia, citra Agusen berubah drastis karena dikenal sebagai daerah penghasil ganja. Stigma negatif ini sangat melekat di masyarakat Aceh selama bertahun-tahun.

Namun, tidak semua warga bergantung pada tanaman terlarang tersebut. Menurut Anhar, seorang warga Agusen, selain sebagian yang menanam ganja, banyak juga yang bertani kopi dan tanaman lain. Sejak 2015, warga mulai mengubah arah perekonomian desa dan mengembangkan potensi wisata yang dimiliki.

Potensi Wisata dan Pertanian Kopi yang Berkembang

Agusen dikenal dengan bentang alam yang asri, mulai dari hamparan sawah, kebun kopi, hingga Sungai Agusen yang sangat jernih, menjadi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Alas-Singkil. Keindahan alam ini menarik wisatawan, terutama saat matahari terbit pagi hari.

Pada April 2016, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menetapkan Agusen sebagai desa wisata resmi. Berbagai fasilitas seperti gazebo, pondok wisata, mushala, dan jembatan penghubung desa dibangun untuk mendukung sektor pariwisata. Sekitar 800 warga turut berperan aktif dalam perubahan ini.

“Saat libur, banyak wisatawan datang dari berbagai daerah. Mereka umumnya menikmati wisata sungai,” ujar Ramadan, Kepala Desa Agusen.

Selain pariwisata, pertanian kopi juga berkembang pesat karena harga yang menjanjikan dan pasar yang mulai terbentuk. Hal ini membawa perubahan positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Kerusakan Akibat Banjir Bandang dan Longsor 2025

Sayangnya, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada Rabu, 26 November 2025, menghancurkan hampir seluruh desa Agusen dan puluhan desa lain di Aceh. Sebanyak 155 dari 278 kepala keluarga kehilangan rumah. Jembatan gantung yang menjadi akses utama desa putus total dan hingga kini proses pembangunan masih berlangsung dengan bantuan berbagai pihak.

Sektor wisata lumpuh total karena sungai yang dulu jernih kini berubah menjadi keruh, dan pepohonan di sekitar desa banyak yang hilang. Pertanian kopi dan sawah juga rusak parah, memaksa warga memulai kembali dari awal.

“Agusen sekarang terlihat tandus,” ungkap Ramadan.

Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada fisik desa, tetapi juga pada ekonomi masyarakat yang bergantung pada pertanian dan pariwisata.

Tantangan Pemulihan dan Bantuan yang Belum Maksimal

Menurut Fardia, Program Officer dari Katahati Institute, lembaga yang fokus pada pendampingan masyarakat di Aceh, penanganan pasca bencana di Agusen belum berjalan maksimal. Warga diminta pindah, namun belum ada kepastian relokasi yang jelas.

“Saat ini, warga Agusen harus membeli tanah untuk membangun rumah baru,” jelas Fardia.

Selain itu, roda ekonomi masyarakat masih belum pulih dan banyak yang masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. Fardia menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dan ekosistem alam sebagai prioritas utama.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, bencana yang menghantam Agusen menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat akan pentingnya pengelolaan kawasan rawan bencana secara berkelanjutan. Desa yang selama ini berhasil mengubah stigma negatif menjadi potensi wisata dan ekonomi yang menjanjikan, justru harus menghadapi kenyataan pahit akibat bencana alam.

Kerusakan ekosistem dan infrastruktur yang belum tertangani secara optimal berpotensi memperlambat pemulihan masyarakat. Jika tidak segera ditangani dengan sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal, risiko kemiskinan dan migrasi paksa akan meningkat.

Ke depannya, penting bagi pihak terkait untuk fokus pada rehabilitasi lingkungan, pembangunan infrastruktur tahan bencana, dan penguatan ekonomi lokal yang inklusif. Desa-desa wisata di kawasan rawan bencana harus dijadikan contoh pengembangan ekonomi berbasis ekosistem yang tangguh. Untuk informasi lebih lengkap dan up-to-date, Anda dapat mengunjungi sumber asli berita dan berita terpercaya lainnya.

Kesimpulan dan Harapan ke Depan

Agusen adalah contoh nyata bagaimana bencana alam dapat menghancurkan kemajuan sebuah komunitas yang sedang berkembang. Namun, dengan komitmen kuat dari masyarakat dan dukungan berbagai pihak, pemulihan masih mungkin dilakukan. Prioritas utama adalah memastikan warga mendapatkan tempat tinggal yang aman, menghidupkan kembali sektor pertanian dan wisata, serta menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Memantau perkembangan Agusen dan desa-desa lain di kawasan rawan bencana menjadi penting agar langkah-langkah perbaikan dan mitigasi dapat terus diperkuat demi masa depan yang lebih baik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad