Harga Emas Melejit 3%: Bandar Borong Besar-Besaran di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Mar 28, 2026 - 10:01
 0  5
Harga Emas Melejit 3%: Bandar Borong Besar-Besaran di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Harga emas melejit hampir 3% pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, setelah terjadi aksi beli besar-besaran saat harga turun pasca koreksi awal pekan ini. Lonjakan harga ini menjadi sorotan para investor yang masih mencari tanda-tanda meredanya ketegangan konflik di Timur Tengah yang berimbas luas pada pasar global.

Ad
Ad

Kenaikan Harga Emas dan Dinamika Pekan Ini

Merujuk data Refinitiv, harga emas ditutup pada posisi US$4.492,48 per troy ons, naik 2,6% dari perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi angin segar setelah harga emas jatuh 2,8% pada Kamis, 26 Maret 2026.

Pergerakan harga emas pekan ini cukup volatil, dengan rincian sebagai berikut:

  • Senin: harga turun 1,8%
  • Selasa: naik 1,5%
  • Rabu: naik 0,7%
  • Kamis: turun tajam
  • Jumat: melonjak kembali hampir 3%

Sepanjang pekan lalu, harga emas menguat tipis sebesar 0,11%, menghentikan tren pelemahan selama tiga pekan berturut-turut sebelumnya.

Aksi Bandar dan Peluang Investasi Emas

Daniel Pavilonis, analis strategi pasar senior di RJO Futures, menilai bahwa penurunan harga emas baru-baru ini justru menciptakan peluang pembelian yang sangat baik.

"Penurunan harga baru-baru ini menciptakan peluang yang sangat baik karena pasar sempat terkoreksi... harga turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari... ini adalah waktu yang luar biasa untuk membeli emas,"
katanya, dikutip dari CNBC Indonesia.

Emas spot sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di US$4.097,99 pada Senin lalu, sebelum akhirnya rebound signifikan.

Pavilonis juga menambahkan, "Kita akan melihat kenaikan bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Dan jika situasi Iran ini bisa mereda, maka ada peluang besar bagi pasar untuk kembali mengambil risiko."

Pengaruh Konflik Timur Tengah dan Kebijakan Suku Bunga AS

Konflik di Timur Tengah yang kini memasuki minggu keempat telah meluas dan menimbulkan dampak besar, khususnya pada harga energi dan pupuk global yang memicu kekhawatiran inflasi. Harga minyak tetap bertahan di atas US$110 per barel meski Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kenaikan inflasi ini juga memengaruhi pandangan pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang sebelumnya diperkirakan akan menurunkan suku bunga beberapa kali sepanjang 2026. Namun kini, menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

Meski demikian, beberapa lembaga seperti Commerzbank menaikkan proyeksi harga emasnya menjadi US$5.000 per ons untuk akhir tahun ini, naik dari perkiraan sebelumnya di US$4.900. Mereka beralasan koreksi terbaru kemungkinan tidak akan bertahan lama dan perang di Iran diperkirakan akan berakhir pada musim semi.

Commerzbank memprediksi The Fed akan kembali memangkas suku bunga di akhir tahun dengan total penurunan sekitar 75 basis poin hingga pertengahan 2027, yang dapat mendorong harga emas kembali naik.

Daya Tarik Emas di Pasar Global

Nitesh Shah, analis komoditas di WisdomTree, menyatakan bahwa kebutuhan likuiditas awal akibat konflik sudah terpenuhi, sehingga sekarang adalah momen bagi emas untuk kembali bergerak naik.

"Investor cerdas memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang untuk menambah posisi,"
ujarnya.

Selain itu, harga emas yang lebih rendah menarik minat beli dari pasar India yang merupakan konsumen emas terbesar kedua dunia. Sementara itu, cadangan emas bank sentral Turki mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Agustus 2018 akibat dampak konflik Timur Tengah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga emas ini bukan sekadar reaksi jangka pendek terhadap volatilitas pasar, melainkan cerminan dari ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi dan potensi perubahan kebijakan moneter global. Bandar yang diam-diam borong besar-besaran emas menunjukkan bahwa para pelaku pasar besar menilai saat ini sebagai waktu yang tepat untuk mengakumulasi aset safe haven ini.

Konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan kebijakan suku bunga AS yang masih fluktuatif bisa menjadi faktor penggerak utama pergerakan harga emas dalam beberapa bulan ke depan. Investor dan masyarakat luas sebaiknya memantau perkembangan geopolitik dan pengumuman kebijakan The Fed sebagai indikator utama tren harga emas.

Ke depan, jika ketegangan di Iran mereda dan The Fed mulai melonggarkan kebijakan suku bunga, harga emas berpotensi mengalami koreksi turun. Namun, jika konflik meluas atau inflasi tetap tinggi, emas akan terus menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai terhadap risiko pasar.

Untuk update dan analisis mendalam tentang pergerakan harga emas dan dampaknya terhadap ekonomi global, pantau terus berita terpercaya seperti CNBC Indonesia dan media internasional lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad