Harga Minyak Tembus Rekor 4 Tahun, Ketegangan Iran Buat Pasar Global Guncang
Harga minyak mentah dunia mencatat rekor tertinggi dalam hampir empat tahun akibat kekhawatiran gangguan pasokan yang terus membayangi pasar global, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump berusaha meredakan ketegangan dengan Iran melalui negosiasi.
Menurut data dari Refinitiv, pada perdagangan Jumat (27/3/2026), harga minyak Brent sebagai patokan global ditutup di level US$ 112,57 per barel, naik 4,2% dan menjadi level tertinggi sejak 4 Juli 2022 yang mencapai US$ 113,5 per barel. Kenaikan ini menandai lonjakan signifikan setelah hampir satu bulan perang yang meletus pada 28 Februari 2026 di kawasan Timur Tengah.
Dalam sepekan, harga minyak Brent naik 0,38%, sementara harga minyak WTI juga menunjukkan tren penguatan dengan penutupan di US$ 99,64 per barel, naik 5,5%, dan menjadi harga tertinggi sejak Juli 2022. Harga WTI pun naik 1,34% dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya melemah 0,40% pekan sebelumnya.
Lonjakan Harga Minyak Terbesar Sejak Perang Teluk 1990
Sepanjang bulan Maret 2026, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 55%, yang merupakan penguatan bulanan terbesar sejak September 1990 saat Perang Teluk meletus dan mencatat kenaikan 46,2%. Jika tren ini bertahan, Maret 2026 akan menjadi bulan dengan kenaikan harga minyak terbesar dalam lebih dari tiga dekade.
Sejak awal konflik, harga minyak melonjak 55,3% akibat gangguan pasokan yang terjadi di jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi sumber pengiriman minyak global senilai jutaan barel per hari.
Negosiasi Trump dengan Iran Gagal Meredakan Kekhawatiran Pasokan
Meski Presiden Trump mengumumkan perpanjangan tenggat 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz dan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April, pasar tetap skeptis. Pernyataan Trump yang menyebut pembicaraan berlangsung baik tidak mampu menenangkan pasar karena ketegangan di lapangan masih tinggi.
"Pembicaraan berjalan sangat baik, meski media berita palsu dan pihak lain menyebarkan informasi keliru," ujar Trump melalui media sosial.
Namun, Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut. Upaya kapal kontainer milik China Ocean Shipping Company (COSCO) untuk melewati Selat Hormuz pun gagal dan dipaksa berbalik, menandakan situasi di jalur laut ini masih sangat tidak stabil.
China sebagai sekutu Iran sebelumnya menyatakan kapal-kapal bersahabat dapat melintas, tetapi insiden ini jadi pertanda ketidakpastian yang masih membayangi jalur vital tersebut.
Gangguan Pasokan Minyak Global Semakin Parah
- Diperkirakan sekitar 17,8 juta barel per hari minyak dan bahan bakar yang melewati Selat Hormuz terganggu.
- Total kehilangan pasokan mencapai hampir 500 juta barel sejak perang dimulai.
- Pasokan minyak global kehilangan sekitar 11 juta barel per hari akibat konflik ini.
Analis dari Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, menegaskan bahwa pasar minyak global kini telah bergeser dari kondisi yang relatif terlindungi menjadi sangat rapuh. Pasar tidak bisa lagi menyerap guncangan besar akibat penurunan inventori dan berkurangnya pasokan.
"Pasar minyak tidak meremehkan gangguan di Selat Hormuz; pasar justru menyerapnya dengan ketahanan luar biasa. Namun, fase itu mulai berakhir," ungkap Paola.
Investor dan pelaku pasar tetap waspada terhadap durasi perang dan potensi penutupan berkepanjangan Selat Hormuz yang akan menambah premi risiko dalam harga minyak. Analis StoneX, Alex Hodes, menambahkan bahwa situasi ini membuat pasar tetap volatile dan penuh ketidakpastian.
Respons Militer dan Dampak Politik
Selain negosiasi diplomatik, AS juga mengirim ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah, bahkan mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg, menunjukkan eskalasi militer yang berpotensi memperparah konflik.
Menurut laporan CNBC Indonesia, pasar minyak mulai kebal terhadap pernyataan optimistis Trump karena realitas lapangan yang semakin kompleks dan ancaman eskalasi militer yang nyata.
International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut krisis ini lebih parah dibandingkan gabungan dua krisis minyak besar pada era 1970-an.
Potensi Harga Minyak ke Depan
Analis dari Macquarie Group memprediksi harga minyak masih akan tinggi meski perang segera mereda, namun risiko kenaikan hingga US$ 200 per barel juga ada jika konflik berlanjut hingga akhir Juni.
Di sisi lain, produsen minyak Rusia memperingatkan risiko force majeure atas pasokan dari pelabuhan utama mereka menyusul serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia, menambah ketidakpastian pasar global.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah dan sikap tidak konsisten dari pemerintahan AS saat ini membuat pasar minyak global semakin rentan dan volatile. Harga minyak yang menembus rekor tertinggi empat tahun bukan hanya soal gangguan pasokan, tetapi juga cerminan ketidakpastian politik yang sulit diprediksi.
Meski ada upaya diplomasi, pasar tampaknya tidak sepenuhnya percaya pada janji-janji yang disampaikan, terutama melihat tindakan militer yang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa risiko jangka panjang terhadap stabilitas pasokan energi dunia masih sangat besar, yang berpotensi berdampak pada harga energi global dan inflasi di banyak negara.
Ke depan, penting bagi para pemangku kepentingan untuk memantau perkembangan negosiasi dan situasi militer di Selat Hormuz dengan cermat. Fluktuasi harga minyak yang ekstrim dapat memicu gejolak ekonomi lebih luas, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Publik dan investor disarankan untuk tetap waspada dan mengikuti berita terbaru terkait konflik ini karena dampaknya akan terasa jauh melampaui pasar minyak semata.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0